jurnalistik.co.id – Ekonom memproyeksikan neraca dagang Indonesia pada Agustus 2026 tetap mencatat surplus, dengan besaran yang diperkirakan mencapai US$934,31 juta. Prediksi ini dinilai melanjutkan tren surplus yang utamanya ditopang oleh menguatnya harga komoditas.
Faisal Rachman, Ekonom PT Bank Permata Tbk, menyampaikan proyeksi tersebut dalam keterangan tertulis pada Rabu (30/9/2026). Ia memperkirakan surplus perdagangan Agustus 2026 naik dibanding Juli 2026 yang tercatat US$121,90 juta.
Menurut Faisal, peningkatan surplus tersebut terutama terkait kenaikan harga komoditas. Dengan kata lain, pergerakan nilai perdagangan pada periode Agustus diperkirakan masih mendapat dorongan dari komoditas utama Indonesia yang mengalami penguatan.
Ekspor tetap positif, namun pertumbuhannya melambat
Di sisi lain, Faisal juga memproyeksikan pertumbuhan ekspor yang terus melambat menjadi 5,58% year-on-year (yoy) pada Agustus 2026. Angka itu lebih rendah dibanding Juli 2026 yang berada di 6,05% yoy.
Perlambatan tersebut selaras dengan tanda melemahnya aktivitas ekonomi global. Kondisi ini tercermin dari permintaan yang diperkirakan menjadi lebih rendah dibanding periode sebelumnya.
Faisal menilai potensi pelemahan permintaan global khususnya berkaitan dengan perlambatan ekonomi China. China digambarkan sebagai negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia serta salah satu mitra dagang utama Indonesia.
Meski demikian, Faisal tetap melihat ekspor berpotensi tumbuh positif. Keyakinan itu didasarkan pada kenaikan harga komoditas utama Indonesia yang, menurutnya, turut menopang kinerja perdagangan di tengah perubahan kondisi global.
Ia juga menyebut adanya laporan dari China terkait peningkatan impor dari Indonesia pada Agustus 2026. Pernyataan tersebut menjadi salah satu faktor yang memberi sinyal bahwa tekanan permintaan tidak sepenuhnya menghapus potensi pertumbuhan ekspor.
Berita Terkait
Harga komoditas dan tekanan energi global
Dalam penjelasannya, Faisal mengaitkan proyeksi kelanjutan ekspor positif dengan menguatnya harga komoditas utama. Kenaikan tersebut terjadi di tengah tingginya harga energi global yang disebut masih berlangsung.
Faisal menuturkan harga energi global yang tinggi muncul seiring berlanjutnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Dalam konteks ini, faktor energi turut berperan melalui pengaruhnya terhadap dinamika harga komoditas.
Bagi prospek neraca dagang, kombinasi antara proyeksi pertumbuhan ekspor yang melambat dan dukungan dari harga komoditas menjadi sorotan. Neraca dagang yang tetap surplus diperkirakan bukan semata-mata dipacu volume, melainkan juga oleh pergerakan nilai yang ditentukan oleh harga.
Dengan proyeksi surplus US$934,31 juta pada Agustus 2026, Faisal menempatkan harga komoditas sebagai pendorong utama yang membuat surplus meningkat dari Juli 2026. Sementara itu, perlambatan ekonomi global—terutama yang terkait dengan China—dinilai tetap menjadi variabel yang perlu dicermati karena memengaruhi permintaan.
Secara keseluruhan, proyeksi ini menempatkan dua dinamika berjalan bersamaan: ekspor yang pertumbuhannya diperkirakan melambat, dan nilai perdagangan yang ditopang oleh penguatan harga komoditas. Di tengah ketidakpastian permintaan global, Faisal menekankan bahwa dukungan harga komoditas dan sinyal peningkatan impor dari China pada Agustus memberi ruang bagi ekspor untuk tetap tumbuh positif.
Dalam proyeksi itu, Faisal juga menempatkan perubahan komposisi penopang perdagangan sebagai poin penting. Ketika laju ekspor melambat, kenaikan nilai neraca dagang tetap berpeluang terjadi karena pergerakan harga komoditas dinilai lebih dominan dibanding dorongan berbasis volume. Dengan demikian, surplus yang diperkirakan mencapai US$934,31 juta pada Agustus dapat dipahami sebagai dampak kombinasi antara dukungan harga dan penyesuaian pertumbuhan ekspor.
Di sisi permintaan, perlambatan ekonomi global menjadi latar yang ikut membentuk ekspektasi. Pelemahan itu digambarkan terutama berkaitan dengan kondisi China yang disebut turut memengaruhi mitra dagang utama Indonesia. Namun, sinyal yang bersumber dari laporan China mengenai peningkatan impor dari Indonesia pada periode Agustus memberi ruang agar ekspor tidak sepenuhnya kehilangan momentum, meski pertumbuhannya tetap diproyeksikan melambat.
Faisal juga menekankan bahwa faktor eksternal di pasar komoditas tidak berdiri sendiri. Harga energi global yang masih tinggi, yang disebut terkait berlanjutnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, dinilai ikut memberi kontribusi terhadap dinamika harga komoditas. Karena itu, prospek neraca dagang pada Agustus diproyeksikan tetap surplus dengan nilai yang ditopang oleh penguatan harga, sementara perhatian tetap diarahkan pada perkembangan permintaan global dan perubahan sinyal dari aktivitas impor.












