jurnalistik.co.id – Keluarga RenĂ©e Good mengumumkan dua gugatan terhadap pemerintah Amerika Serikat dan sejumlah pejabat dalam pemerintahan Trump menyusul penembakan yang dilakukan petugas imigrasi ICE di Minneapolis pada Januari.
Renée Good, warga negara AS, ditembak hingga tewas oleh seorang petugas Immigration and Customs Enforcement (ICE) dalam sebuah operasi pengawasan imigrasi berskala besar. Rekaman penembakan tersebut sempat disaksikan jutaan orang, lalu memicu protes luas dari warga di kota itu.
Dalam salah satu gugatan, pihak keluarga menilai pemerintah bertanggung jawab atas kematian Renée Good. Gugatan lain menyoroti peran petugas ICE yang menembak serta sejumlah nama pejabat pemerintahan, dengan tuduhan adanya upaya mengganggu hak-hak sipil.
Pengajuan gugatan dilakukan oleh saudara Renée Good, Brent Ganger, dan pasangannya, Becca Good. Becca Good menyampaikan keterangannya di konferensi pers pada Kamis, untuk pertama kalinya tampil secara publik sejak peristiwa penembakan tersebut.
Becca Good mengatakan, “The whole world had to watch as our entire universe was destroyed.” Ia juga menyatakan, “We were all robbed,” saat menjelaskan dampak penembakan itu terhadap tiga anak mereka.
Menurut keluarga, operasi yang berlangsung menjadi titik awal rangkaian gugatan karena, seperti yang disampaikan melalui kuasa hukum, operasi tersebut menciptakan “an unprecedented environment for state-sponsored violence”. Pihak penggugat menyasar pemerintah dengan klaim bahwa kematian Renée Good berhubungan dengan jalannya operasi.
Gugatan pertama, sebagaimana disebut dalam materi gugatan, mengemukakan tuduhan berupa “battery, assault, false imprisonment, intentional infliction of emotional distress and negligence that caused Renee’s death”. Gugatan tersebut merujuk pada Federal Tort Claims Act, yang memberi peluang bagi warga untuk menggugat pemerintah atas cedera pribadi, kematian, atau kerusakan properti yang timbul akibat kelalaian pegawai federal.
Dalam gugatan kedua, pihak keluarga menargetkan Jonathan Ross, petugas ICE yang menembak Renée Good. Gugatan itu juga menyebut Stephen Miller, White House Deputy Chief of Staff, serta mantan Menteri Keamanan Dalam Negeri Kristi Noem dan kepala perbatasan Gedung Putih Tom Homan, bersama pihak lainnya.
Gugatan kedua merinci adanya tuduhan “conspiracy to interfere with civil rights by senior federal officials, federal immigration enforcement agents, and private actors”. Kuasa hukum keluarga, Antonio Romanucci, menyampaikan di konferensi pers, “Our government has become a grave and mortal threat to its own citizens,” terkait gagasan bahwa negara dinilai membahayakan warganya sendiri.
Renée Good berusia 37 tahun dan merupakan ibu dari tiga anak. Ia baru saja pindah ke Minneapolis sebelum meninggal dunia, dan ditembak pada 7 Januari dalam sebuah pemberhentian kendaraan di jalan.
Berita Terkait
Pihak otoritas imigrasi menyatakan kejadian itu bermula setelah Renée Good diduga melakukan “an attempt to kill or cause bodily harm to agents”. Namun, kesaksian yang muncul dari warga menyatakan versi berbeda; saksi memperdebatkan klaim bahwa Renée Good tengah mencoba menyerang petugas.
Peristiwa tersebut memunculkan protes nasional yang kemudian bertambah intens setelah penembakan lain di Minneapolis. Pada 24 Januari, Alex Pretti juga dilaporkan tewas dalam peristiwa yang melibatkan petugas imigrasi.
Beberapa minggu setelah rangkaian peristiwa itu, ratusan agen federal ditarik dari kota. Dalam periode yang sama, pejabat yang memimpin operasi, Greg Bovino, juga dicopot dari jabatannya.
Brent Ganger menyatakan dalam konferensi pers pada Kamis bahwa “since her death no meaningful change has occurred.” Ia menambahkan, “Our family is waiting and we will wait no longer,” menegaskan bahwa keluarga menilai belum ada perubahan yang dianggap berarti sejak kematian Renée Good.
Di luar gugatan yang diajukan keluarga, laporan lain menunjukkan bahwa setidaknya 10 orang tewas dalam pertemuan dengan petugas imigrasi selama masa jabatan kedua Trump, yang dimulai pada Januari 2025. Informasi ini merujuk pada laporan Associated Press.
Renée Good menempuh kematian dalam konteks meningkatnya perhatian publik, termasuk melalui rekaman video yang beredar luas. Sementara itu, BBC melaporkan telah menghubungi White House dan Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) untuk mendapatkan tanggapan, namun detail respons tidak diuraikan dalam pernyataan yang disampaikan keluarga.
Selain konferensi pers, keluarga juga menyampaikan kesaksian di ranah persidangan publik. Pada Selasa, ibu Renée Good bersaksi dalam sebuah sidang di hadapan anggota parlemen.
Ibu Renée Good menyatakan, “I am a registered Republican. I voted for President Trump under the impression that these agents were here to protect the citizens of the United States.” Ia kemudian melanjutkan, “But far more than being a Republican, I am a Christian,” serta menambahkan, “Jesus teaches us to forgive and I have, but what we are asking for is accountability.”
Gugatan yang diajukan keluarga, menurut penjelasan mereka, berupaya mendorong pertanggungjawaban atas kematian Renée Good sekaligus menantang narasi yang menyebut adanya upaya penyerangan terhadap petugas. Dengan dua jalur proses hukum tersebut, keluarga berharap pengadilan dapat menilai secara terperinci klaim kelalaian, tuduhan tindakan kekerasan, serta dugaan konspirasi yang melibatkan pejabat federal.
Di tengah protes dan perbincangan publik, kasus ini kini menjadi sorotan utama terkait operasi penegakan imigrasi dan konsekuensi yang menyertai penggunaan kekuatan dalam situasi di lapangan. Keluarga Renée Good menekankan bahwa perhatian luas yang muncul setelah peristiwa penembakan tidak berujung pada perubahan yang mereka anggap cukup, sehingga langkah hukum menjadi bagian dari tuntutan mereka.



