jurnalistik.co.id – Headingley selalu membawa jejak besar, dan bagi Inggris, kenangan paling sulit untuk dilepas adalah Ben Stokes. Di kota yang pernah menjadi panggung keajaiban Stokes, tuan rumah harus merancang bab berikutnya tanpa kapten, all-rounder, dan talenta kunci mereka.
Mulai Rabu, Inggris akan memulai rangkaian tiga pertandingan kontra Pakistan. Namun, terlepas dari pencapaian Stokes yang telah masuk dalam legenda, periode empat tahun kepemimpinannya tidak bisa dibilang berakhir dengan kondisi skuad yang lebih baik daripada saat ia mengambil alih. Stokes mewarisi tim yang hanya meraih satu kemenangan dalam 17 pertandingan, lalu menyelesaikan masa tugasnya dengan dua kemenangan dari 10 laga.
Root: kesempatan menyelesaikan kisah kepemimpinan
Joe Root kini berdiri di posisi yang sama sekali berbeda—sekaligus membawa nuansa “urusan yang belum selesai” dari masa pertamanya sebagai kapten. Bagi Root, pertanyaan yang mungkin kembali mengikutinya bukan hanya tentang performa di lapangan, melainkan juga tentang bagaimana ia ingin menutup cerita kepemimpinan yang sempat tertunda.
Di saat yang sama, lingkungan tim sedang bergerak tanpa sepenuhnya stabil. Inggris telah memberhentikan Brendon McCullum sebagai pelatih kepala Test dan menggantinya dengan Stephen Fleming, tetapi Fleming belum resmi menempati jabatan tersebut. Akibatnya, Marcus Trescothick menjalankan peran interim, sementara McCullum tetap berkeliling sebagai pengampu urusan kriket format terbatas.
Komposisi transisi itu membuat seri melawan Pakistan terasa seperti jeda yang belum benar-benar mengkristal. Nuansa ketidakpastian ini mengingatkan Root pada tur terakhirnya sebagai kapten di West Indies pada 2022, ketika Inggris kalah 1-0 dengan Paul Collingwood sebagai pelatih sementara, sebelum Root kemudian mundur dari jabatan kapten.
Tantangan yang dipahami Root dari masa pertamanya
Root pernah menyatakan bahwa ia sempat hancur oleh pengalaman di pekerjaan puncak itu—masa pertamanya berlangsung lima tahun penuh. Pada titik tertentu, ia bahkan tidak menyangka akan kembali mengambil peran tersebut. Kini, dengan wajah yang sama namun konteks yang berbeda, ia kembali di kandangnya sendiri: tersenyum, bersemangat, dan bertenaga untuk memulai lagi.
Alasan banyak orang mempertanyakan kembalinya Root bisa dimengerti. Ada penyesalan dari upaya pertamanya, dan mungkin rasa bahwa masih ada bagian yang belum dibereskan. Bagi Root, kesempatan kedua yang sangat jarang datang itu terasa terlalu besar untuk ditolak.
Ia juga menyadari bahwa ada cara pandang tertentu terhadap kepemimpinannya yang pertama. Root pernah bersikap merendah ketika menilai gaya dan dampaknya dalam periode Stokes sebagai kapten. Meski benar bahwa ada satu kemenangan dalam 17 laga yang menjadi penanda akhir masa itu, catatan sebelum bagian tersebut tidak sepenuhnya kelam: Root mencatat 26 kemenangan dari 47 pertandingan awal sebagai kapten, dengan tingkat keberhasilan 55%.
Sebagai pembanding, Stokes meraih 54% kemenangan Test sebagai kapten, Michael Vaughan 51%, dan Mike Brearley 58%. Perbedaan angka itu tidak menghapus perdebatan, tetapi memberi konteks bahwa tantangan yang dihadapi Root bukan sekadar soal “hasil”, melainkan juga soal kondisi tim yang berubah cepat.
Covid dan prioritas format lain, serta dampak pada performa
Root juga menilai bahwa Covid menghancurkan struktur tim yang sudah berusaha dibangun. Selain itu, ia merasa ada faktor lain yang membuat masa pertamanya tidak mendapat kesempatan ideal. Pada periode itu, terjadi penajaman fokus ke kriket format terbatas. Saat Root menggantikan Stokes melawan Selandia Baru pada Juni, ia bahkan mengaku ada rasa iri karena tidak memperoleh kesempatan bekerja langsung dengan McCullum.
Namun, tidak semua hal berjalan buruk. Bisa juga diperdebatkan bahwa dengan pemain yang tersedia, Inggris seharusnya mampu meraih hasil yang lebih baik. Masa puncak Stokes, misalnya, ditopang oleh dua pemanah utama Inggris di James Anderson dan Stuart Broad, serta opsi all-round yang menambah variasi lewat Chris Woakes dan Moeen Ali.
Root tidak memimpin saat Alastair Cook berada di versi terbaiknya, meski Cook pada fase akhir kariernya diyakini akan membantu memperkuat tim saat ini. Meski demikian, Root menganggap situasi kini memberi peluang lain—meski, jika bukan lebih buruk, setidaknya tim yang ia ambil adalah tim yang belum setenar sebelumnya, dengan pengalaman Test yang tidak merata.
Berita Terkait
Ketika Root menjalani Test pertamanya sebagai kapten pada 2017, ia menjadi pemain termuda ketiga dalam XI. Pada 2026, di usia 35 tahun, ia justru nyaman berada sebagai yang tertua. Di sinilah kekhawatiran sebagian pendukung mencuat: apakah jabatan kapten akan memberi dampak terhadap performa batting Root?
Rata-rata Root saat mengenakan armband berada di angka 46,7—berjarak dari rekor kariernya yang mencapai 53,3. Perbedaan itu terutama dipicu oleh rentetan kurang baik di bagian tengah masa kepemimpinannya yang pertama. Pada 2019, Root meraih rata-rata 37, yaitu satu tahun sebelum masalah Inggris makin memburuk akibat Covid. Lalu pada 2021, ketika pandemi berjalan dan tim mulai terurai, ia menumpuk 1.708 run—angka terbanyak oleh pemain Inggris mana pun dalam satu tahun kalender. Setelahnya, Root menjelaskan bahwa batting menjadi satu-satunya waktu baginya untuk benar-benar mendapat ketenangan di tengah badai peran.
Kejar catatan run dan subplot mengejar Tendulkar
Meski banyak perubahan, Root masih diposisikan sebagai pemain terbaik Inggris. Sejak era Bazball dimulai, ia mencatat hampir 1.000 run Test lebih banyak dibanding pemain lain di dunia. Pada periode yang sama, ia bergerak ke urutan kedua daftar pencetak run sepanjang masa, dengan Sachin Tendulkar kini menjadi target yang semakin dekat.
Di sini, subplotnya jelas: “menangkap Sachin”. Root bertekad bisa menyejajarkan pekerjaan memimpin tim dengan tugasnya sebagai pencetak run. Ia menilai tugas paling menantang sebagai kapten bukan sekadar menyusun strategi, tetapi membentuk skuad yang “pendidikan” kriket Test-nya sempat terganggu oleh pendekatan yang lebih informal—sebagian besar dibentuk oleh Stokes dan McCullum.
Jika menilik warisan yang ditinggalkan Stokes, Inggris kini menghadapi pertanyaan yang tidak sederhana: siapa pasangan opener yang mapan, siapa yang menjadi wicketkeeper, bagaimana menyusun nomor tiga yang sifatnya sementara, ketersediaan all-round option yang benar-benar jelas, serta ketiadaan spinner kelas dunia. Itu bukan daftar yang pendek, dan semuanya menjadi bahan ujian pada seri yang baru akan dimulai.
Pakistan, absennya Babar Azam, dan bentuk kompetitif yang mungkin muncul
Di atas kertas, Inggris mulai laga sebagai favorit melawan Pakistan. Salah satu alasannya adalah fakta bahwa Pakistan tidak pernah memenangkan seri di negara ini dalam 30 tahun. Namun, Pakistan juga datang dengan kelemahan yang sekaligus bisa menjadi peluang: mereka akan tanpa kapten mereka di Leeds, karena Babar Azam mengalami cedera.
Di sisi lain, Pakistan bermain lebih banyak Test pada Juli dan Agustus dibanding Inggris. Mereka bahkan sempat menahan West Indies dengan skor 1-1. Dari pengalaman sebelumnya, Mohammad Abbas sebagai spesialis pace dan Sajid Khan sebagai spinner merupakan nama yang pernah merepotkan Inggris.
Jika Pakistan mampu mengumpulkan cukup run, seri ini punya ruang untuk berlangsung kompetitif, bukan sekadar formalitas. Akan tetapi, setelah laga ini selesai, jadwal Inggris segera menjadi jauh lebih berat. Musim dingin membawa perjalanan ke Afrika Selatan dan Bangladesh, serta satu pertandingan khusus pink-ball melawan Australia.
Akan ada momen penting lain menjelang The Ashes berikutnya. Australia diperkirakan akan datang dengan kualitas yang lebih baik dibanding saat mereka kalah dari Bangladesh, sebelum rangkaian The Ashes berlangsung musim panas depan. Setelah itu, Inggris dijadwalkan bertolak ke India pada awal 2028.
Jika semua rangkaian itu dijumlahkan, 18 bulan pertama dari masa kepemimpinan kedua Root tampak seperti perjalanan yang sangat sulit. Di balik berbagai rekor, pencapaian, dan tonggak personalnya, merapikan kembali skuad Inggris menghadapi tugas-tugas besar ke depan mungkin justru menjadi salah satu tantangan paling menonjol sepanjang kisah kariernya.
Pemulihan citra di luar lapangan
Root juga mengakui bahwa tim perlu membangun ulang reputasinya di mata publik setelah serangkaian pelanggaran di luar lapangan. Pesan itu ia sampaikan langsung kepada pemain: “Be good role models and good human beings,”
Petunjuk itu, menurut Root, seharusnya bisa dilihat dari kapten sendiri. Sebab, di antara semua pekerjaan yang harus dilakukan, ia ingin memastikan Inggris tidak hanya kembali unggul di skor, tetapi juga menjadi contoh yang layak dipercaya.












