jurnalistik.co.id – Garda Representative Association (GRA) mengatakan, petugas GardaĂ diberi instruksi untuk tidak melanjutkan pengejaran setelah sebuah mobil berlari di sisi jalan yang salah di jalan tol sebelum tabrakan fatal terjadi.
Insiden itu melibatkan mobil yang melaju di M9 arah utara, tepatnya di Junction 3, sekitar pukul 03.00 waktu setempat pada Minggu pagi. Dalam kecelakaan tabrakan depan-depan tersebut, lima remaja tewas.
GRA menjelaskan, dua perempuan berada dalam kondisi kritis. Sementara itu, satu perempuan lain dan seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun dilaporkan mengalami kondisi serius.
Dalam keterangannya kepada BBC, Asisten Sekretaris Jenderal GRA, Tara McManus, menyebut bahwa petugas Garda Roads Policing tidak memiliki pelatihan pengejaran (pursuit training). Pernyataan ini disampaikan setelah adanya keputusan untuk mengalihkan tindakan.
McManus mengatakan para remaja telah berada di dalam mobil itu selama beberapa jam sebelum kecelakaan terjadi. Petugas GardaĂ, menurutnya, sempat berupaya melakukan pendekatan dan mencoba menghentikan kendaraan tersebut pada beberapa kesempatan.
Namun, ketika mobil mengambil “evasive action”, petugas kemudian menerima perintah untuk “disengage” atau menghentikan upaya pengejaran. Ia menegaskan bahwa pada tahap itu, anggota GRA tidak akan melanjutkan pengejaran sesuai arahan dari pusat kendali.
Jim O’Callaghan, Menteri Kehakiman Irlandia, menyatakan kepala Gardaà akan memperkenalkan pelatihan pengejaran pada tahun ini. Pernyataan tersebut disampaikan sebagai respons terhadap temuan dan penilaian terkait kemampuan petugas di lapangan.
Kecelakaan di M9 arah utara itu menelan korban jiwa dari lima remaja yang disebutkan secara lokal oleh RTÉ. Mereka adalah Joe Carthy dari Athy, County Kildare; Alex McCarthy dari Carlow; Kamil Pustkowski dari Limerick; Jeremy O’Brien; serta Jack Kennedy.
Komunitas setempat juga menyampaikan duka. St Michael’s Boxing Club di Athy menyatakan sangat sedih setelah mengetahui meninggalnya Joe Carthy, serta menyampaikan belasungkawa kepada mereka yang mengalami cedera serius dan keluarga korban.
Perangkat stinger dan keputusan untuk mundur dari pengejaran
GRA juga menyampaikan bahwa petugas yang menangani insiden Kildare menggunakan perangkat stinger sebagai upaya untuk menghentikan mobil. Meskipun demikian, mobil tetap melanjutkan perjalanan ke arah jalan tol.
McManus menjelaskan, pada kondisi tersebut, anggota mereka tidak melanjutkan pengejaran, dan instruksi yang diberikan dari pusat komando serta pengendalian adalah untuk disengage. Ia menggambarkan bahwa prosedur normal adalah tidak melibatkan mobil yang telah memilih melakukan manuver mengelak.
Ia kembali menekankan bahwa petugas roads policing adalah spesialis penegakan di jalan raya, tetapi tetap tidak memiliki training pengejaran. Menurutnya, petugas bisa menghadapi konsekuensi pribadi yang serius bila mengambil tindakan tanpa pelatihan yang tepat.
GRA juga menggambarkan dampak psikologis setelah kejadian. McManus menyebut penanganan insiden tersebut terasa “horrific” bagi petugas yang hadir, dan petugas yang menyaksikan lokasi kejadian mungkin memerlukan konseling selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun.
Kecelakaan berulang dan sorotan soal perilaku berbahaya
GRA menyebut peristiwa ini sebagai kecelakaan kedua dalam beberapa hari terakhir yang melibatkan mobil melaju di arah yang salah di jalan tol di Republik Irlandia.
Perdana Menteri Irlandia (taoiseach), Micheál Martin, menyatakan prihatin bahwa dalam beberapa kasus, tindakan semacam itu dilakukan “demi likes” di media sosial. Pernyataan ini memperlihatkan kekhawatiran bahwa motivasi viral dapat berujung pada tragedi yang mematikan.
Badan pengatur media Irlandia, Coimisiún na Meán, pada hari Selasa mengatakan telah meminta TikTok menjelaskan bagaimana platform tersebut menanggapi konten mengemudi berisiko dan sembrono. Ketua lembaga tersebut, Jeremy Godfrey, mengatakan pihaknya akan menilai apakah TikTok melanggar kewajibannya dan bila demikian, dapat mengambil langkah penegakan.
Berita Terkait
McManus juga menyatakan, GRA mendukung hukuman yang lebih berat serta larangan mengemudi bagi perilaku berbahaya di jalan raya. Dukungan tersebut disampaikan sebagai bagian dari sikap GRA terhadap persoalan keselamatan jalan.
Kritik soal pelatihan dan perbandingan dengan Irlandia Utara
Brendan O’Connor, Garda dari Donegal dan mantan presiden GRA, mengatakan ia percaya publik akan “terkejut” karena kurangnya pelatihan pengejaran. Ia menuturkan GRA telah mengangkat isu ini selama bertahun-tahun dan menyebutnya sebagai persoalan kepolisian yang mendesak.
Menurut O’Connor, investasi besar telah dilakukan terhadap An Garda SĂochána. Namun ia menilai pelatihan pengemudi polisi seolah tidak menjadi prioritas dan tertinggal.
An Garda SĂochána menyatakan telah dihubungi untuk memberikan komentar, namun detail tanggapan tidak dirinci dalam teks yang tersedia.
Sementara itu, untuk Irlandia Utara, Polisi Irlandia Utara (PSNI) menyatakan mereka mengikuti kebijakan pengejaran nasional di Inggris. PSNI menyebut pelatihan tahap awal terbuka untuk petugas respons, bergantung pada jumlah kesempatan pelatihan yang tersedia.
Bagi pelatihan tahap taktis, PSNI menambahkan bahwa profil peran nasional dapat menentukan petugas mana yang mengikuti, terutama untuk unit khusus seperti roads policing, Armed Response Unit, atau Headquarters Mobile Support Unit.
PSNI juga menyatakan, saat permintaan pelatihan diajukan, tujuannya adalah memastikan petugas yang paling sesuai menerima pelatihan. Ia mencontohkan bahwa karena seorang konstabel sering berada di kendaraan setiap hari, petugas yang paling mungkin berada di lapangan umumnya dipilih agar manfaat pelatihan maksimal.
Menurut PSNI, pangkat senior tidak sepenuhnya dikecualikan bila pelatihan dianggap cocok dengan pekerjaan yang dijalani di dalam layanan kepolisian.
Seruan penanganan cepat, konsekuensi, dan tanggung jawab
Leo Lieghio, wakil presiden Irish Road Victims Association, menuntut adanya urgensi lebih besar dalam menangani kematian di jalan raya di Irlandia. Ia mendasarkan pernyataannya pada pengalaman pribadinya, termasuk hilangnya anak perempuannya yang berusia 16 tahun, Marsia, pada 2005.
Lieghio mengatakan Marsia tertabrak pengemudi yang melaju dengan kecepatan 50 mph di penyeberangan pejalan kaki di Dublin pada 2005. Ia meninggal di rumah sakit enam hari setelah kejadian tersebut.
Menurut Lieghio, keluarga korban dan yang terluka mengalami penderitaan yang mendalam. Ia menyebut hidup mereka berubah total tanpa kesalahan apa pun, dan mereka menghadapi “neraka”.
Ia menilai perlu fokus yang lebih kuat pada konsekuensi dan intervensi lebih awal, khususnya ketika perilaku membahayakan atau bersifat kriminal terjadi di jalan raya. Ia mengusulkan perlunya intervensi terstruktur yang mengajarkan tanggung jawab.
Lieghio juga menyerukan program reformasi bagi anak muda yang terlibat dalam aktivitas kriminal di jalan raya. Di saat yang sama, ia menekankan pentingnya tanggung jawab dari para pengemudi dan masyarakat yang lebih luas.
Ia menyoroti bahwa pada 2026, tercatat 123 kematian di jalan raya di Republik Irlandia hingga saat ini. Angka tersebut lebih tinggi 18 kasus dibandingkan periode yang sama pada 2025.
Lieghio juga menyampaikan bahwa semua orang memiliki tanggung jawab di jalan raya. Ia mengatakan bila melihat sesuatu yang salah terjadi, seharusnya melaporkannya, dan perlu adanya konsekuensi agar perilaku bisa berubah.
Ia menegaskan dampak setiap kematian meluas melewati korban yang kehilangan nyawa. Ia menggambarkan bahwa ia bisa membayangkan kondisi yang terjadi di rumah sakit, ketika ia berada di samping tempat tidur putrinya selama enam hari, berharap ada perubahan namun semuanya tidak bisa dipertahankan.
Di Athy, seorang pastor paroki juga menyampaikan “hati, pikiran, dan doa” bagi semua pihak yang terdampak oleh tragedi tersebut.












