Internasional

Wabah salmonella di Inggris: 1 meninggal, ratusan sakit terkait telur impor

×

Wabah salmonella di Inggris: 1 meninggal, ratusan sakit terkait telur impor

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: One dead and hundreds ill in UK salmonella outbreak

jurnalistik.co.id – Otoritas kesehatan Inggris melaporkan satu kematian dan ratusan orang mengalami keracunan makanan akibat bakteri salmonella dalam sebuah wabah yang diduga terkait konsumsi makanan dengan telur impor. Investigasi UKHSA telah dimulai untuk menelusuri dugaan keterkaitan tersebut, menyusul akumulasi kasus dalam setahun terakhir.

Dalam laporan yang dirilis UKHSA, terdapat 207 kasus yang tercatat dalam periode tersebut, dengan sebagian besar kemunculan terjadi pada beberapa minggu terakhir. Lebih dari sepertiga dari mereka yang terdampak—meliputi bayi serta orang yang usianya mencapai 90 tahun—perlu perawatan di rumah sakit, sementara dua orang mengalami komplikasi berupa keracunan darah yang tergolong serius.

UKHSA menyampaikan bahwa sebagian besar pasien pada akhirnya membaik tanpa memerlukan penanganan medis khusus. Meski begitu, wabah ini tetap menjadi perhatian karena diperkirakan melibatkan satu strain salmonella yang identik, berbeda dari pola yang umumnya menyebar dengan berbagai variasi bakteri.

Gejala dan waktu munculnya keluhan

Gejala yang dilaporkan mencakup kram perut, diare, muntah, atau demam. Keluhan biasanya muncul dalam rentang 12 sampai 72 jam setelah seseorang terinfeksi.

Bagi masyarakat yang khawatir, UKHSA menekankan agar segera menghubungi dokter umum (GP) atau layanan kesehatan di luar jam layanan reguler. Saran ini diberikan sebagai langkah awal, terutama bila gejala mengarah pada infeksi gastrointestinal.

Pemetaan kasus di wilayah Inggris

Dari total 207 kasus, 199 di antaranya tercatat di Inggris. Rinciannya, London menyumbang 47 kasus, sedangkan Yorkshire dan Humber mencatat 38 kasus.

Di luar Inggris, UKHSA juga mencatat enam kasus di Skotlandia, satu kasus di Wales, serta satu kasus lainnya di Irlandia Utara. Dengan sebaran tersebut, investigasi dilakukan dengan mempertimbangkan distribusi wilayah dan pola keterpaparan pasien.

Hannah Charles, epidemiolog utama untuk infeksi gastrointestinal di UKHSA, menyatakan bahwa pihaknya bekerja sama dengan Food Standards Agency (FSA) serta otoritas kesehatan publik lainnya untuk menyelidiki wabah salmonella yang mungkin terkait telur impor dari luar Inggris. Pernyataan tersebut menegaskan fokus penyelidikan pada rantai pasok dan kemungkinan titik paparan.

Salmonella dapat ditemukan pada sejumlah sumber makanan, termasuk unggas atau daging mentah maupun yang kurang matang, serta telur. Karena itu, pencegahan yang ditekankan meliputi memastikan makanan dimasak hingga matang dan mencuci tangan setelah menggunakan kamar mandi serta sebelum menangani makanan.

Secara umum, kasus keracunan makanan akibat salmonella terjadi setiap tahun dalam jumlah besar di Inggris, dipicu oleh berbagai strain yang berbeda. Namun, UKHSA menilai wabah ini tidak lazim karena dikaitkan dengan satu strain yang spesifik dan identik yang menjangkau banyak orang dalam waktu yang relatif bersamaan.

UKHSA juga mengingatkan bahwa kemungkinan masih ada kasus tambahan. Sebagian orang mungkin memang sudah mengalami sakit, tetapi belum melaporkan kondisi mereka, sehingga angka dapat berubah seiring berjalannya investigasi.

Investigasi rantai makanan dan dugaan sumber paparan

Menurut UKHSA, penyelidikan epidemiologis dan penelusuran rantai makanan sedang berlangsung untuk mengidentifikasi sumber pasti. Meski demikian, hingga saat ini konsumsi telur disebut sebagai keterkaitan terkuat yang ditemukan.

Pola paparan yang terlihat mengarah pada dugaan bahwa sebagian besar orang jatuh sakit setelah makan di luar rumah, bukan setelah mengonsumsi makanan yang disiapkan sendiri di rumah. UKHSA menyebut ada pelaku usaha makanan yang berkaitan dengan 24 dari total kasus yang menggunakan telur impor.

Pada saat yang sama, UKHSA menyatakan belum ada identifikasi keterkaitan dengan telur atau unggas yang diproduksi di Inggris. Langkah pencegahan atau tindakan tambahan akan diterapkan bila diperlukan berdasarkan hasil investigasi.

Otoritas menilai risiko terhadap masyarakat umum tergolong rendah. Jacquelyn McCormick, Kepala Insiden di Food Standards Agency, menekankan bahwa telur yang dimasak hingga benar-benar matang serta ditangani secara higienis seharusnya tidak menimbulkan risiko keamanan pangan.

FSA juga memberikan panduan khusus untuk kelompok rentan. Untuk bayi, anak kecil, ibu hamil, serta orang lanjut usia, McCormick menyarankan agar hanya mengonsumsi telur setengah matang atau mentah bila telur tersebut memiliki British Lion mark atau diproduksi melalui skema Laid in Britain egg assurance.

Selain itu, FSA menambahkan anjuran bagi siapa pun yang menangani telur, kulit telur, atau kemasan telur untuk mencuci tangan dengan sabun dan air secara menyeluruh. Kebersihan pada tahap penanganan dinilai menjadi bagian penting dalam mengurangi risiko infeksi.

Dalam konteks tempat makan, Dr Kathleen O’Reilly dari London School of Hygiene and Tropical Medicine juga mengaitkan pencegahan dengan faktor kebersihan. Ia merekomendasikan agar konsumen memperhatikan penilaian kebersihan makanan pada outlet katering ketika memutuskan tempat makan.

Kritik pada ketatnya regulasi impor

Nick Allen, Chief Executive British Egg Industry Council, menyatakan bahwa ayam petelur di Inggris memiliki vaksinasi salmonella yang diwajibkan. Namun, ia menambahkan bahwa volume impor yang terus meningkat, yang diproduksi di bawah regulasi yang disebut “kurang ketat”, tetap berdatangan ke Inggris.

Dengan investigasi yang masih berjalan, UKHSA dan mitra regulatornya terus menelusuri kemungkinan asal strain identik yang ditemukan. Dalam prosesnya, otoritas berharap temuan dapat memperjelas sumber paparan dan memperkuat langkah pencegahan agar wabah serupa tidak terulang.