jurnalistik.co.id – Kegiatan penerbangan di Bristol Airport kembali bergulir setelah gangguan di landasan pacu yang memaksa penutupan, membuat ratusan penumpang terlantar pada Jumat malam. Otoritas bandara kemudian melanjutkan jadwal keberangkatan, meski sejumlah penerbangan dilaporkan masih mengalami keterlambatan dan perubahan rute.
Gangguan ini bermula ketika bandara menutup landasan pacu tidak lama setelah pukul 18:00 BST pada Jumat. Penutupan tersebut berujung pada pemberhentian seluruh penerbangan selama periode yang panjang.
Pada fase awal gangguan, seluruh penerbangan dihentikan hingga pukul 08:00 pada Sabtu. Setelah waktu itu, penerbangan mulai restart dan secara bertahap kembali berangkat.
Dalam praktiknya, proses restart tidak berjalan mulus tanpa konsekuensi. Penerbangan yang kembali beroperasi dilaporkan tetap menghadapi keterlambatan keberangkatan serta pengalihan ke bandar udara lain.
Melalui pernyataan singkat di situs resmi bandara, juru bicara menyampaikan bahwa situasi tetap akan memengaruhi sebagian penerbangan pada hari yang sama. Ia mengatakan: “There will be some disruption to some flights today. We apologise for any inconvenience caused.”
Bandara juga meminta penumpang yang terdampak untuk menghubungi maskapai masing-masing guna mendapatkan informasi lanjutan dan pengaturan perjalanan. Tidak ada rincian tambahan yang dipublikasikan mengenai jenis atau penyebab spesifik dari kerusakan landasan pacu tersebut.
Hingga laporan ini disusun, tidak ada informasi resmi lanjutan mengenai sifat gangguan yang terjadi pada landasan. Kondisi tersebut membuat penumpang harus menunggu tanpa kepastian, sementara rencana perjalanan mereka berubah mendadak.
Sejumlah penumpang berbagi pengalaman mereka pada BBC pada Jumat malam. Di antara mereka adalah Paul Smith yang pada saat itu berencana terbang menuju Glasgow untuk merayakan ulang tahun ke-20 putranya.
Namun, rencana penerbangan Paul Smith akhirnya tidak terlaksana. Ia menyatakan bahwa dukungan yang ia terima tidak sesuai harapannya, terutama pada aspek komunikasi dan arahan saat gangguan berlangsung.
Menurut Paul Smith, ia menilai alur informasi yang diberikan terlalu kurang membantu. Ia mengatakan: “The communication, advice and support for passengers has been really poor.”
Pengalaman serupa juga disampaikan Dave Blackwell yang sedang dalam perjalanan pulang dari Rhodes, Yunani. Ia menyebut proses penanganan selama penantian berlangsung tidak berjalan baik sejak penerbangan yang semula dituju dialihkan.
Dave menggambarkan situasi itu sebagai “a shambles” setelah penerbangan dari Rhodes dialihkan. Ia mengatakan penerbangan mereka menghabiskan waktu di Rhodes Airport selama tiga jam tanpa informasi yang jelas.
Berita Terkait
Dave kemudian menceritakan bahwa setelah penantian, mereka menerima kabar bahwa penerbangan akan diarahkan ke Newcastle. Ia juga menyebut harus bersiap untuk perjalanan darat lanjutan selama lima sampai enam jam dengan bus.
Dalam penuturannya, Dave mempertanyakan alasan pengalihan ke Newcastle dan menilai respons yang diterima sangat mengecewakan. Ia mengatakan: “We were in Rhodes Airport for three hours with no information. Now we have all been told our flight is going to Newcastle and then a five or six hour bus ride – why Newcastle? How appalling.”
Ia menambahkan bahwa perubahan itu membuat perjalanan menjadi jauh lebih panjang dari yang direncanakan semula. Bagi penumpang, perubahan semacam ini juga berarti penyesuaian jadwal lanjutan, termasuk kebutuhan transportasi dan waktu tunggu baru.
Penutupan landasan yang berlangsung berjam-jam turut memunculkan dampak yang berlapis. Selain keterlambatan, beberapa penumpang juga menghadapi konsekuensi berupa pengalihan ke kota atau bandara lain.
Finn Holland, yang berusia 18 tahun, juga termasuk penumpang yang terdampak pengalihan. Ia melaporkan bahwa pesawat yang semula ditujukan kepadanya dialihkan, sehingga ia terjebak di Bournemouth.
Finn menggambarkan bahwa hari perjalanan itu berlangsung sangat panjang. Ia mengatakan: “It was quite a long day. We got in around 06:00 this morning.”
Setelah tiba pada pagi hari, ia melanjutkan penuturannya mengenai tahap berikutnya. Ia menyebut bahwa ia harus mengurus taksi sendiri untuk kembali.
Ia juga menilai proses tersebut tidak terkoordinasi dengan baik. Finn mengatakan: “we had to sort our own taxis back. It wasn’t very organised”.
Dengan kondisi seperti ini, restart penerbangan yang mulai berlangsung pada Sabtu tampak menjadi titik balik, namun belum tentu menghapus seluruh masalah perjalanan bagi penumpang. Keterlambatan take-off dan pengalihan rute menunjukkan bahwa dampak gangguan pada landasan masih merembet hingga fase pemulihan.
Pada sisi operasional, pernyataan bandara yang mengakui adanya gangguan menjadi sinyal bahwa proses pemulihan akan berlangsung secara bertahap. Namun, tanpa penjelasan rinci mengenai jenis defect, penumpang tetap menunggu kepastian mengenai apa yang sebenarnya terjadi.
Dalam konteks tersebut, bandara menempatkan tanggung jawab lanjutan pada maskapai untuk penanganan penumpang yang terdampak. Bagi penumpang, langkah yang paling cepat adalah menghubungi maskapai agar mendapatkan informasi pembaruan terkait jadwal, rute, dan pengaturan perjalanan berikutnya.
Secara keseluruhan, kisah yang muncul dari sejumlah penumpang menggambarkan bahwa penundaan yang berlangsung sekitar 14 jam memiliki dampak nyata pada perjalanan, termasuk kebingungan, penyesuaian jadwal, dan kebutuhan mengatur transportasi baru. Pernyataan dari bandara mengisyaratkan gangguan masih mungkin terjadi, sementara pengalaman penumpang menunjukkan bahwa kualitas komunikasi dan dukungan saat kejadian menjadi sorotan utama.












