Internasional

Ginjal babi bertahan 271 hari pada pria di AS: rekor baru sebagai “jembatan” sebelum transplantasi ginjal manusia

×

Ginjal babi bertahan 271 hari pada pria di AS: rekor baru sebagai “jembatan” sebelum transplantasi ginjal manusia

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Pig kidney works in human body for 271 days - is this the future of organ transplants?

jurnalistik.co.id – Seorang pria di Amerika Serikat, Tim Andrews, menjalani transplantasi ginjal babi yang bekerja selama 271 hari—waktu terpanjang yang dilaporkan dokter AS pada kasus jenis ini. Transplantasi tersebut menjadi “jembatan” sampai ia akhirnya menerima ginjal dari donor manusia.

Andrews mengatakan prosedur itu memberinya “hope” dan sekaligus mengurangi kebutuhan untuk bolak-balik ke rumah sakit selama beberapa bulan karena proses penyaringan darah oleh mesin dialisis. Namun, perjalanan itu tidak berakhir permanen: organ babi pada akhirnya gagal, lalu diangkat, sebelum ia kembali menjalani dialisis singkat.

Tim di Mass General Brigham menyebut temuan ini menunjukkan bahwa organ dari spesies lain dapat digunakan sebagai “bridge” sementara menunggu ketersediaan transplantasi ginjal manusia. Setelah organ babi diangkat, Andrews tetap memerlukan dialisis selama 82 hari sebelum ginjal donor manusia tersedia pada bulan Januari.

Rekor 271 hari sebagai “bridge”

Andrews, yang berusia 66 tahun, memiliki penyakit ginjal stadium akhir akibat diabetes tipe 2. Ia menjalani xenotransplantasi pada 25 Januari 2025. Menurut rincian yang kemudian dipublikasikan dalam jurnal medis The Lancet, ginjal babi mulai bekerja segera setelah transplantasi.

Ginjal tersebut terus berfungsi selama 271 hari sebelum akhirnya dikeluarkan pada bulan Oktober tahun yang sama. Setelah itu, ia menjalani dialisis selama 82 hari. Dalam periode menunggu donor manusia, Andrews sempat diberi tahu bahwa antrean transplantasi bisa memakan waktu hingga tujuh tahun, tetapi ia juga menilai kenyataan dialisis berpotensi membuat seseorang tidak punya banyak waktu.

Ia menuturkan, “I had a little bit of a shortage of time… it becomes very depressing,” dan menambahkan bahwa rata-rata mereka yang menjalani dialisis hidup sekitar lima tahun. Meski begitu, Andrews tetap memandang transplantasi ginjal babi sebagai “hope” dan “the light at the end of the tunnel”. Ia berkata, “Hope is the biggest thing, the chance to be free from the [dialysis] machine and live your life.”

Kenapa transplantasi lintas spesies jadi opsi

Krisis ketersediaan organ menjadi salah satu alasan ilmuwan terus meneliti xenotransplantasi. Di Amerika Serikat, sekitar 100.000 orang menunggu transplantasi ginjal, sementara hanya sekitar 25.000 transplantasi terjadi setiap tahun. Di Inggris, lebih dari 7.000 orang terdaftar dalam antrean transplantasi ginjal.

Dokter dan peneliti mengeksplorasi pemanfaatan organ dari spesies lain karena kekurangan donor manusia. Dr Leonardo Riella, dari pusat transplantation sciences di Mass General Brigham, menyampaikan bahwa kelangkaan ini berarti “we are in a crisis”. Menurutnya, upaya yang dilakukan ditujukan untuk menghadirkan peluang bagi pasien yang tidak memiliki donor hidup, dengan harapan bisa melewati dialisis dan mempercepat transplantasi.

Riella mengatakan, “We are working really hard to bring hope and we truly feel that xenotransplantation can be an alternative for patients who don’t have a living donor where we could potentially bypass dialysis and get them to a transplant,”

Tantangan kekebalan tubuh dan rekayasa pada babi

Namun, memindahkan organ dari babi ke manusia bukan sekadar tindakan “pindah tempat”. Tubuh manusia akan segera mengenali organ tersebut sebagai benda asing, lalu memicu serangan imun yang bisa merusak ginjal. Dalam penjelasan ilmiah yang dibahas, kerusakan yang terjadi dapat sangat cepat: organ dapat “turn black in minutes as holes are ripped in every cell”, dan organ bisa mengalami pembekuan dari bagian dalam.

Karena itu, peneliti mengembangkan babi Yucatan miniature yang telah mengalami 69 modifikasi genomik untuk “humanise” organ. Modifikasi tersebut dirancang untuk menghilangkan beberapa ciri sel babi yang biasanya dikenali dan diserang oleh sistem imun, sekaligus menambahkan DNA manusia sebagai “camouflage netting” agar jaringan babi lebih tersamar dari pengawasan kekebalan. Rekayasa ini juga mencakup penyesuaian untuk menonaktifkan virus yang dapat bersembunyi di dalam DNA babi guna mencegah infeksi.

Dengan pendekatan itu, penelitian menargetkan agar organ babi tidak langsung dihancurkan oleh respons imun pasien. Meski demikian, kasus Andrews menegaskan bahwa keberhasilan awal tidak otomatis menjamin fungsi bertahan jangka panjang.

Awal berjalan baik, lalu kegagalan setelah sekitar enam bulan

Dalam perjalanan xenotransplantasi Andrews, ada tanda-tanda awal bahwa organ mulai ditolak oleh sistem imun. Akan tetapi, kondisi itu berhasil ditangani melalui penyesuaian obat. Setelah kira-kira enam bulan, pembuluh darah di ginjal mengalami kerusakan: organ kemudian menjadi meradang, dan akhirnya mulai gagal.

Menurut laporan, tidak jelas penyebab detailnya karena tidak ada tanda bahwa antibodi sedang menyerang ginjal babi. Dalam tulisan mereka, dokter di The Lancet menyatakan: “This case illustrates both the promise and the remaining challenges of clinical kidney xenotransplantation.”

Donor manusia kemudian tersedia dan kini bekerja

Setelah ginjal babi diangkat pada bulan Oktober, Andrews kembali membutuhkan dialisis sebelum mendapat organ dari donor manusia pada bulan Januari tahun ini. Ginjal dari donor tersebut disebut bekerja dengan baik. Bagi Andrews, rangkaian kejadian ini menegaskan bahwa konsep “jembatan” dapat memberikan harapan nyata, terutama ketika waktu, akses donor, dan kebutuhan medis berlangsung dalam kecepatan yang tidak selalu bisa diatur pasien.

Dengan rekor 271 hari tersebut, kasus ini menempatkan xenotransplantasi ginjal babi sebagai area penelitian yang menjanjikan sekaligus menonjolkan tantangan yang masih harus diselesaikan sebelum transplantasi lintas spesies bisa menjadi opsi yang lebih luas dan konsisten.