Internasional

Kenalan dengan Raja Baru Norwegia, Haakon VIII

×

Kenalan dengan Raja Baru Norwegia, Haakon VIII

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Who is Norway's new King Haakon VIII?

jurnalistik.co.id – Haakon VIII resmi naik takhta setelah wafatnya ayahnya, Harald V. Di mata banyak warga Norwegia, pergantian ini membawa harapan sekaligus beban ekspektasi, karena King Harald dikenal sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat.

Haakon menjadi raja keempat dalam periode monarki modern Norwegia. Monarki itu kembali ditegakkan pada 1905 setelah Norwegia memperoleh kemerdekaan dari Swedia.

Sejumlah penilaian publik menyoroti momen-momen awal yang ia jalani sebagai kepala negara. Dalam salah satu tugas pertamanya sebagai raja, ia memimpin rapat kabinet yang luar biasa, mengumumkan gelar kerajaan, serta mengadopsi motto sang ayah: “Everything for Norway”.

Kepercayaan bahwa Haakon dapat melanjutkan jejak pendahulunya juga muncul dari pola peran yang ia jalankan sejak masa putra mahkota. Ia bekerja rapat dengan Harald V saat menjalankan tugas-tugas kerajaan, dan dalam tahun-tahun terakhir kerap menjalankan fungsi sebagai wali pengganti ketika Harald sedang sakit atau tidak hadir.

Harald V sendiri menulis soal penerusnya dalam biografi “The King Tells”. Ia menyatakan, “I am so lucky that Crown Prince Haakon is the one who will carry this forward,” yang menggambarkan keyakinannya atas kelanjutan tugas kerajaan di tangan putranya.

Sejarawan Trond NorĂ©n Isaksen mengatakan kepada BBC bahwa Haakon akan menjadi sosok raja yang berbeda dibanding ayahnya, namun tetap dihormati. Menurutnya, “King Harald… [was] very charismatic, he [had] a great sense of humour, which everyone appreciates, and Haakon is a bit more reserved, a bit more like his mother.”

Isaksen juga menilai bahwa dalam beberapa tahun terakhir, Haakon justru tampak lebih santai dan lebih terbuka. Ia menambahkan bahwa Haakon menunjukkan sisi humornya dan, selama bertahun-tahun, memikul bobot besar pekerjaan karena orang tuanya semakin menua serta istrinya sedang mengalami sakit.

Dalam garis keturunan, Haakon VIII adalah keturunan ke-empat-kakek dari pihak garis keluarga Kerajaan Inggris. Ia tercatat sebagai cicit dari Queen Victoria, sementara putrinya Ingrid Alexandra kini menjadi putri mahkota dan ahli waris tahta Norwegia.

Ingrid Alexandra berusia 22 tahun dan menempati posisi penting dalam suksesi. Konstitusi Norwegia diubah pada 1990 untuk memberi perempuan hak mewarisi takhta, sehingga Ingrid Alexandra berpotensi menjadi kepala negara perempuan pertama sejak abad ke-15.

Dari latar hidup hingga peran sebagai putra mahkota

Haakon VIII naik takhta pada waktu yang tidak sederhana bagi keluarga kerajaan Norwegia. Monarki tetap relatif populer di kalangan warga, dan selama ini sering dipuji karena pendekatan yang dinilai modern, tetapi beberapa tahun terakhir diwarnai skandal yang berulang.

Pada tahun ini, istri Haakon, Mette-Marit, meminta maaf atas keterkaitan selama bertahun-tahun dengan Jeffrey Epstein, seorang pelaku kejahatan seksual yang kemudian dihukum. Selain itu, putra mereka juga menghadapi sorotan besar setelah divonis dalam persidangan yang ramai diberitakan.

Marius Borg Høiby—yang lahir dari hubungan sebelumnya—divonis atas kasus pemerkosaan dan sedang mengajukan banding. Dalam pemberitaan persidangan disebutkan bahwa salah satu perempuan mengalami pemerkosaan di area kediaman keluarga kerajaan di Skaugum, di luar Oslo.

Haakon sendiri lahir pada 1973 dan menjadi anak termuda dari raja yang sudah wafat dan Ratu Sonja. Ia juga pernah mengakui bahwa pada masa-masa awal, ia sempat kesulitan menerima status kebangsawanan yang melekat pada dirinya.

Dalam autobiografi tahun 2023, ia menulis, “Yes, I was a royal, but I did not want to talk about it… ​At school it made me anxious,” seraya mengingat masa kecilnya di sekolah dasar pada era 1980-an. Menurut ceritanya, tekanan itu membuatnya merasa cemas ketika harus berhadapan dengan identitasnya.

Haakon menjadi putra mahkota pada 1991, saat usia 17 tahun, setelah wafatnya kakeknya, King Olav V. Secara tidak biasa untuk keluarga kerajaan, ia menempuh pendidikan di sekolah-sekolah negeri setempat sebelum menjalani karier angkatan laut selama empat tahun.

Ia lulus dari Norwegian Naval Academy pada 1995. Ia kemudian memilih jalur berbeda dari ayah dan kakeknya yang pernah mengenyam studi di Oxford, dengan terbang ke California untuk mendaftar di University of Berkeley dan mengambil studi ilmu politik.

Pertemuan dengan Mette-Marit dan dinamika publik

Tak lama setelah kembali ke Norwegia, Haakon bertemu Mette-Marit pada sebuah festival musik di kota kelahirannya, Kristiansand, pada 1999. Sejumlah media saat itu menjulukinya “Cinderella of Kristiansand” sebagai rujukan pada awal kehidupannya yang sederhana.

Menjelang pernikahan mereka pada 2001, Haakon mengatakan, “What we two found together was so strong that I could not let it go.” Kalimat itu menggambarkan bahwa keputusan keduanya tidak hanya soal ketertarikan, tetapi juga komitmen yang terasa kuat.

Namun, hubungan keduanya sejak awal mendapat perdebatan publik yang intens. Dari saat Haakon pertama kali mengumumkan bahwa ia menjalin hubungan, sejumlah pihak mengkhawatirkan dampaknya terhadap kelangsungan monarki, termasuk dengan perbandingan yang mengarah pada kisah Wallis Simpson dan Raja Edward VIII yang berujung abdikasi pada 1936.

Perlu dicatat, Mette-Marit bukan orang pertama dari kalangan masyarakat biasa yang masuk ke lingkungan istana. Harald V sebelumnya juga disebut telah memutus tradisi ketika menikahi Ratu Sonja tiga dekade lebih awal.

Tetapi pada saat yang sama, Mette-Marit berstatus ibu tunggal dengan seorang anak berusia empat tahun. Anak itu lahir dari ayah yang pernah menjalani masa hukuman atas vonis kepemilikan kokain.

Kediaman bersama mereka di sebuah flat di Oslo pun mendapat kritik dari Gereja Lutheran Norwegia yang cenderung konservatif, meski survei pada masa itu menunjukkan mayoritas masyarakat biasa tidak terlalu mempersoalkan hal tersebut.

Yang lebih banyak dipertanyakan warga justru berkaitan dengan apakah gaya hidup politik pihak Mette-Marit pada masa lalu dianggap selaras dengan peran seseorang yang kelak menjadi pasangan raja. Tiga hari sebelum pernikahan, dalam sebuah wawancara emosional, ia menyampaikan permintaan maaf atas “wild past” dan mengecam penggunaan narkoba setelah laporan bahwa obat-obatan dibawa dalam pesta-pesta yang diikutinya di Oslo pada dekade 1990-an.

Ia tidak menyebut apakah ia sendiri pernah mengonsumsi narkoba. Proses permintaan maaf itu dipandang sebagai titik balik yang kemudian membuatnya lebih diterima, karena ia dinilai mampu mewakili monarki modern yang bisa menggoyang kebiasaan yang selama ini dianggap baku.

Haakon dan Mette-Marit memiliki dua anak, Ingrid dan Prince Sverre Magnus. Setelah Ingrid menerima peran sebagai putri mahkota, ia mengangkat sejumlah agenda populer, termasuk dukungan bagi penyintas HIV dan upaya mendorong literasi.

Diagnosis pulmonary fibrosis pada 2018 turut memicu simpati luas dari publik. Haakon juga pernah mengatakan bahwa Mette-Marit membantu dirinya keluar dari rasa tertutup dan menggambarkan istrinya sebagai penyeimbang emosional bagi pikiran yang cenderung analitis.

Ia menulis, “I am not very good socially,” lalu menambahkan, “Mette is a natural talent. She can go into a room and get along with everyone.”

Skandal-skandal yang menyertai awal pemerintahan

Di periode terakhir, urusan keluarga kerajaan semakin sering menjadi pusat sorotan media dan kritik publik. Vonis Marius Borg Høiby atas kasus pemerkosaan menjadi salah satu faktor paling dominan dalam pemberitaan keluarga.

Istana kerajaan berulang kali menegaskan bahwa Høiby bukan bagian dari keluarga kerajaan, meski ia selama ini diperlakukan sebagai anggota yang dekat. Beberapa hari sebelum persidangan dimulai, dokumen juga dirilis yang menunjukkan kontak Mette-Marit yang sering dengan Jeffrey Epstein sebelum ia kemudian meminta maaf.

Dalam wawancara televisi nasional, Mette-Marit mengungkap bahwa ia meminta maaf kepada King Harald dan Queen Sonja atas persahabatan selama tiga tahun dengan Epstein. Ia juga menyatakan adanya “poor judgement” dan mengatakan ia berharap tidak pernah bertemu dengannya.

Beberapa survei yang dilakukan pada awal tahun ini menemukan hampir separuh populasi Norwegia merasa putri mahkota tidak dapat menjadi ratu, meski pada akhirnya peran itu memang “selalu akan terjadi”.

Dua hari setelah persidangan putranya berakhir, Mette-Marit menerima transplantasi paru-paru delapan tahun setelah diagnosis awal. Dokter baru akan menyatakan kondisi yang stabil setelah satu tahun pasca transplantasi, sehingga Haakon menghadapi masa suksesi yang menantang sambil terus mendukung istrinya.

Caroline Vagle, koresponden kerajaan dari majalah Se og Hør, mengatakan bahwa langkah terpenting yang bisa dilakukan keluarga kerajaan adalah bersikap terbuka mengenai apa yang sebenarnya terjadi, serta mencegah spekulasi publik berkembang tak terkendali. Ia menyebut, “completely open about what actually happened, and not allow public speculation to take on a life of its own”.

Namun ia juga menambahkan agar dampak masalah yang sulit tidak dibesar-besarkan. Menurutnya, “What will ultimately matter is how the royal family handles them, and how Haakon and the next generation manage to build on the trust that Harald has earned over a lifetime.”

Sementara itu, Tove Taalesen dari Nettavisen menilai skandal akan menjadi tantangan, tetapi Haakon dinilai “very much ready for the task”. Ia yakin pada masa depan Haakon akan dihormati dan dicintai, sejajar dengan King Haakon VII, King Olav V, serta King Harald V.

Dengan demikian, pemerintahan Haakon dimulai tepat di tengah pusaran skandal yang menyertai keluarga kerajaan. Cara ia menavigasi situasi ini, serta bagaimana generasi berikutnya membangun kepercayaan yang pernah diperoleh Harald, dipandang akan turut membentuk arah monarki Norwegia.