jurnalistik.co.id – Pasukan Nepal tengah melakukan operasi penyelamatan terhadap warga yang terjebak di sebuah terowongan pada proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) di distrik Rasuwa.
Rekaman yang dibagikan lewat Sekretariat Perdana Menteri memperlihatkan tentara membawa para korban sambil merayap melintasi hamparan lumpur tebal untuk menjangkau orang lain di dalam area terowongan.
Dalam video tersebut, beberapa personel terlihat menandu korban yang berada dalam kondisi membutuhkan bantuan, sementara sejumlah bagian jalur tampak dipenuhi endapan lumpur yang menyulitkan pergerakan.
Pejabat kemudian merilis pembaruan pada Kamis yang menyatakan bahwa lebih dari 100 orang diperkirakan terjebak di terowongan yang sama.
Pernyataan itu menegaskan bahwa upaya pencarian dan penyelamatan tidak hanya diarahkan pada evakuasi cepat, tetapi juga pada proses menjangkau orang-orang yang berada di lokasi yang sulit diakses.
Operasi penyelamatan di Rasuwa menjadi bagian dari rangkaian penanganan di seluruh negeri menyusul banjir mematikan yang melanda Nepal.
Berdasarkan keterangan polisi setempat, pada Jumat jumlah korban jiwa di Nepal telah mencapai 475.
Angka tersebut menjadi indikator besarnya dampak bencana, sekaligus menjadi latar belakang mengapa operasi evakuasi dilakukan secara intensif dan melibatkan banyak pihak.
Kantor Perdana Menteri sebelumnya turut membagikan rekaman sebagai gambaran situasi lapangan, sekaligus menunjukkan proses penjangkauan korban dari dalam terowongan.
Di lokasi kejadian, tentara tampak bergerak berkelompok untuk membantu perpindahan korban ke titik yang lebih memungkinkan, termasuk melalui lintasan yang tertutup endapan lumpur.
Berita Terkait
Upaya seperti ini menuntut ketelitian karena kondisi medan yang berlumpur dan sempit dapat memperlambat evakuasi sekaligus meningkatkan risiko terhadap petugas dan korban.
Menurut pembaruan pejabat pada Kamis, estimasi jumlah orang yang terjebak mencapai lebih dari 100 orang di terowongan yang sama, sehingga proses penyelamatan diarahkan untuk menjangkau seluruh area yang terdampak.
Meski demikian, pernyataan tersebut menggunakan frasa estimasi, menandakan bahwa informasi awal terkait jumlah korban yang berada di dalam terowongan masih perlu proses verifikasi lapangan seiring operasi berlangsung.
Sejalan dengan itu, operasi di Rasuwa juga memperlihatkan perlunya respons berkelanjutan di tengah dampak banjir, terutama pada titik-titik yang terhubung dengan infrastruktur seperti proyek PLTA.
Dengan tingkat kesulitan medan dan besarnya dampak bencana, pemerintah dan otoritas setempat menempatkan penyelamatan sebagai prioritas untuk membantu korban yang terisolasi di dalam struktur terowongan.
Rekaman dari kantor Perdana Menteri menjadi salah satu rujukan visual yang menggambarkan kerja langsung pasukan dalam evakuasi, mulai dari penjangkauan hingga pemindahan korban secara bertahap.
Hingga Jumat, polisi setempat melaporkan angka korban jiwa mencapai 475, sementara di Rasuwa operasi masih berfokus pada upaya membebaskan orang-orang yang diperkirakan terjebak di terowongan PLTA tersebut.
Rekaman yang disampaikan Sekretariat Perdana Menteri juga memperlihatkan bagaimana tim penolong bekerja di ruang sempit, dengan pergerakan yang harus menyesuaikan endapan lumpur dan jarak pandang terbatas di dalam terowongan.
Dalam pembaruan pejabat pada Kamis, estimasi lebih dari 100 orang yang terjebak menjadi dasar penentuan prioritas, termasuk penelusuran ke area yang berbeda di sepanjang jalur terowongan dan pembagian tugas agar evakuasi dapat menjangkau seluruh titik yang terdampak.
Seiring berjalannya operasi hingga Jumat, informasi mengenai jumlah korban tetap berada dalam tahap verifikasi, sementara otoritas mempertahankan fokus pada respons menyeluruh terhadap dampak banjir di Nepal—termasuk penanganan di lokasi yang terkait proyek pembangkit listrik tenaga air dan infrastruktur lain yang membuat akses menjadi sulit.












