jurnalistik.co.id – Raja Norwegia Harald V meninggal dunia pada usia 89 tahun pada Jumat pagi waktu setempat. Istana Oslo menyatakan ia berpulang dengan tenang pada pukul 06:35 (04:35 GMT) di Rumah Sakit Nasional Oslo.
Beberapa anggota keluarga kerajaan mengunjungi sang raja dalam 24 jam menjelang wafatnya. Di sekitar istana, warga juga menaruh bunga sebagai bentuk penghormatan.
Harald V sebelumnya dirawat di rumah sakit pekan lalu terkait gangguan darah yang tergolong langka. Menurut laporan tentang kondisi yang dihadapinya, ia menjalani pengobatan termasuk kortison untuk haemolytic anaemia, yang mengakibatkan jumlah sel darah merah dalam tubuh berkurang.
Ia juga sempat masuk rumah sakit pada 17 Agustus. Setelah itu, putranya mengambil alih kegiatan kerajaan sebagai regent, seiring menurunnya kesehatan sang raja.
Harald V dikenal sebagai raja pertama yang lahir di Norwegia setelah abad ke-14. Ia akan digantikan oleh putranya, Haakon, yang kini naik menjadi raja.
Selama 35 tahun di takhta, Harald V sering dipandang sebagai figur yang populer sekaligus membawa pembaruan. Sejumlah pengamat kerajaan menyebut ia modernisasi institusi monarki, sekaligus mematahkan tradisi melalui pernikahan dengan perempuan dari kalangan rakyat biasa.
Royal observers juga menggambarkan pendekatan Harald V sebagai upaya penyatuan di momen-momen tersulit bagi Norwegia. Ia pernah mengimbau masyarakat agar saling mendukung setelah serangan bom dan penembakan di Oslo serta Pulau Utøya pada 2011, serta tidak membiarkan rasa takut mengambil alih.
Dalam narasi yang banyak diulang selama masa pemerintahannya, Harald disebut dekat dengan rakyat. Ia kerap dikenang sebagai “grandfather” of the nation dan “People’s king” — sebutan yang juga pernah digunakan untuk ayahnya, Raja Olav V.
Pada periode pemerintahannya, monarki Norwegia bergerak menuju model yang lebih egaliter dan lebih transparan, terutama dalam urusan keuangan dan kesehatan. Ole-Jørgen Schulsrud-Hansen, sejarawan sekaligus koresponden kerajaan TV2, menyebut perubahan itu sebagai bagian dari perjalanan modernisasi.
Tove Taalesen dari Nettavisen menggambarkan Harald sebagai “one of us”. Sementara Caroline Vagle, pakar kerajaan dari Se og Hør, menilai sang raja “always been very close to the people”.
Di tengah dinamika publik, Harald juga tampil dalam sejumlah momen simbolik. Ketika tim nasional sepak bola Norwegia pulang dari Amerika Serikat setelah mencapai perempat final Piala Dunia untuk pertama kalinya, ia menyambut mereka di Istana.
Raja Harald meninggalkan Ratu Sonja, istrinya selama hampir 58 tahun. Ia juga meninggalkan putri Princess Märtha Louise, putra yang kini menjadi raja, Haakon, serta enam orang cucu.
Jejak hidup dan cara memimpin monarki
Harald V lahir pada 21 Februari 1937 di estate Skaugum dekat Oslo. Saat berusia tiga tahun, Adolf Hitler memerintahkan invasi Norwegia oleh Jerman Nazi pada awal Perang Dunia II.
Ibu Harald melarikan diri bersama anak-anak melewati perbatasan menuju Swedia, lalu mereka melakukan perjalanan ke Amerika Serikat atas undangan Presiden Franklin D Roosevelt. Setelah perang berakhir, Harald kembali ke Norwegia untuk menyelesaikan sekolah serta wajib militer.
Ia diangkat menjadi putra mahkota pada 1957, kemudian belajar ilmu sosial, sejarah, dan ekonomi di Balliol College, Oxford, antara 1960 hingga 1962. Di sebuah pesta, ia bertemu Sonja Haraldsen, putri seorang pebisnis, namun ia harus menunggu sembilan tahun sebelum diizinkan menikah.
Ayahnya, Raja Olav, sempat berharap Harald menikahi putri dari Eropa. Namun Harald menyampaikan kepada penyiar publik Norwegia bahwa “if he could not marry Sonja, he would stay single”, sebelum akhirnya mendapat persetujuan.
Pasangan itu kemudian menikah di Oslo Cathedral pada 29 Agustus 1968. Pilihannya juga disebut membuka jalan bagi kedua anaknya untuk menikah dengan pasangan dari kalangan non-kerajaan.
Vagle menilai perubahan itu membantu “bring an end to a very male-dominated Royal Family”. Ia juga mengutip penilaian bahwa “He has never been afraid to show emotion, humour or vulnerability, and that has made him very human”.
Ketika Raja Olav jatuh sakit pada 1990, Harald bertindak sebagai regent. Setelah Olav wafat pada 17 Januari 1991, Harald naik menjadi raja.
Sejarawan Trond Norén Isaksen mengatakan, sekitar tahun 2000 Harald semakin menemukan caranya sendiri: dari sosok yang semula pendiam, serius, dan pemalu menjadi pribadi yang lebih terbuka serta penuh empati.
Berita Terkait
Ujian paling besar datang pada Juli 2011 ketika Anders Breivik membunuh delapan orang dengan bom mobil di Oslo sebelum melanjutkan serangannya ke kamp remaja di Pulau Utøya. Ia kemudian menembak mati 69 orang, sebagian besar berusia remaja.
Harald menyampaikan pidato televisi pada hari berikutnya. Beberapa minggu kemudian ia memberi pidato yang menempatkan empati kepada para korban dan keluarga mereka sebagai ayah, kakek, suami, dan raja.
Dalam pidato itu, suaranya sempat bergetar saat emosinya tidak lagi tersembunyi. Ia berkata, “I can only imagine the depth of your pain. As King of this nation, I feel for each and every one of you”.
Ole-Jørgen Schulsrud-Hansen mengingat momen tersebut sebagai sesuatu yang “has been burned into our minds of what a monarchy should be”.
Pada 2016, Harald kembali menjadi sorotan berkat pidato yang kuat soal dukungan terhadap keberagaman agama, etnis, dan orientasi seksual. Ia menyatakan Norwegia berasal dari “Afghanistan, Pakistan and Poland, from Sweden, Somalia, and Syria”, dan orang-orangnya “believe in God, Allah, the Universe and nothing”, serta “are girls who love girls, boys who love boys, and girls and boys who love each other”.
Di luar urusan kenegaraan, ia juga dikenal sebagai atlet dan pemerhati lingkungan. Harald menjadi salah satu penginisiasi cabang WWF di Norwegia, serta menjabat sebagai presiden selama 20 tahun.
Ia juga pelaut yang berprestasi, mewakili Norwegia di Olimpiade sebanyak tiga kali, dan menyatakan masa kompetisi pelayaran berakhir pada 2022.
Keluarga, kontroversi, dan masa transisi yang menantang
Ketika Putra Mahkota Haakon menikahi Mette-Marit pada 2001, raja dan ratu menyambut anak laki-laki berusia empat tahun dari hubungan sebelumnya. Marius Borg Høiby kemudian diperlakukan seperti bagian dari keluarga, meski kemudian rumah kerajaan menegaskan bahwa ia “was never a royal”.
Princess Märtha Louise mula-mula menikah dengan seorang penulis Norwegia, lalu pada 2024 ia menikah kembali dengan seorang pria Amerika yang mengaku sebagai “self-styled shaman”. Kegiatan bisnis pasangan tersebut akhirnya membuatnya menghentikan tugas-tugas kerajaan.
Sebagian warga Norwegia sempat menilai Harald terlalu memberi ruang pada keputusan hidup keluarga yang kontroversial. Namun Vagle berpendapat sang raja “shown himself to be someone who puts talking things through ahead of issuing harsh instructions”.
Seiring kesehatan sang raja menurun, ia mengurangi keterlibatan publik secara permanen pada April 2024. Di beberapa waktu terakhir, ia menghadapi serangkaian tantangan pribadi dan isu yang menarik perhatian luas.
Skandal itu terutama terkait Mette-Marit dan perkara yang melibatkan Marius Borg Høiby. Marius dijatuhi vonis dalam persidangan pemerkosaan oleh hakim di Oslo pada Juni, dan kini melakukan banding atas hukuman penjara empat tahun. Ia sempat hadir di sisi Harald tak lama sebelum sang raja meninggal.
Beberapa hari menjelang persidangan dimulai, dokumen-dokumen dirilis yang menunjukkan hubungan Mette-Marit yang sering dengan Jeffrey Epstein, terpidana kejahatan seksual yang telah meninggal. Mette-Marit kemudian meminta maaf kepada Raja Harald dan Ratu Sonja atas persahabatan tiga tahun dengan Epstein, serta mengaku “poor judgement” dan menyatakan dalam wawancara televisi nasional bahwa ia berharap tidak pernah bertemu dengannya.
Dua hari setelah persidangan putranya berakhir, Mette-Marit menerima transplantasi paru-paru. Ia sebelumnya didiagnosis menderita bentuk langka pulmonary fibrosis delapan tahun sebelumnya, dan dokter menyebut ia belum akan dinyatakan stabil sampai setahun setelah transplantasi.
Situasi itu membuat masa suksesi dan transisi bagi raja baru menjadi periode yang sulit. Ketegangan seputar monarki juga turut memengaruhi popularitas, termasuk dalam survei yang menunjukkan dukungan publik turun dari 72% pada 2024 menjadi 54%.
Survei lain menyatakan hampir separuh warga Norwegia meyakini Mette-Marit tidak lagi dapat menjadi ratu, meski Haakon kini sangat mungkin akan menyatakan bahwa Mette-Marit akan menjadi ratu.
Meski sentimen negatif terhadap institusi meningkat, Vagle menilai kritik jarang diarahkan langsung kepada Harald. Ia mendapat kesan bahwa “everyone has loved King Harald”, sementara Trond Norén Isaksen berkomentar bahwa ketika hal buruk terjadi di keluarga kerajaan, orang cenderung menyalahkan pihak lain alih-alih sang raja.
Tove Taalesen mengatakan Haakon menghadapi pertanyaan tentang apakah gejolak di rumah tangganya akan “follow him into his position as a king”. Namun ia meyakini Haakon menunjukkan kepemimpinan dan mampu menangani peristiwa-peristiwa terkini dengan baik.
Strategi utama keluarga kerajaan adalah memisahkan diri dari proses persidangan Marius. Ole-Jørgen Schulsrud-Hansen menilai pendekatan itu sejauh ini “largely succeeded”.
Dengan wafatnya Harald V, perhatian publik kini mengarah pada upaya mengingat sosok raja yang sangat dicintai dan mendukung putranya menapaki fase berikutnya.












