Olahraga

Old Firm Dihukum Laga Piala Skotlandia Tanpa Penonton

×

Old Firm Dihukum Laga Piala Skotlandia Tanpa Penonton

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Stadium bans for Old Firm after fan disorder

jurnalistik.co.id – Sanksi terhadap laga Old Firm kembali dijatuhkan setelah insiden kerusuhan suporter pada babak perempat final Piala Skotlandia musim lalu. Celtic dan Rangers sama-sama harus menjalani pertandingan kandang Piala Skotlandia berikutnya tanpa penonton.

Keputusan tersebut berarti kedua klub tidak hanya kehilangan dukungan langsung dari tribun, tetapi juga harus menerima dampak lanjutan bagi jadwal kandang mereka. Dengan kata lain, pertandingan berikutnya tetap digelar, namun suasan pertandingan berganti karena akses penonton ditiadakan.

Aturan “behind closed doors” dan konsekuensi lanjutan

Dalam putusan yang diumumkan, Celtic dan Rangers diperintahkan memainkan partai kandang Piala Skotlandia berikutnya secara tertutup. Kondisi ini juga disertai ancaman apabila kembali terjadi insiden serupa yang melibatkan pendukung salah satu klub dalam pertandingan Piala Skotlandia.

Poin penting dari sanksi tersebut adalah kemungkinan munculnya pertandingan kandang lain yang juga tanpa penonton. Jika insiden lanjutan dari pendukung Celtic atau Rangers dinilai termasuk “unacceptable conduct” pada pertandingan Piala Skotlandia berikutnya, sanksi serupa dapat kembali diberlakukan.

Denda besar kepada lawan yang dihadapi

Selain larangan menghadirkan penonton, kedua klub juga dikenai kewajiban membayar sejumlah uang kepada tim yang akan menjadi lawan mereka pada pertandingan kandang Piala Skotlandia tersebut. Denda yang disebutkan mencapai ÂŁ100.000 untuk tim yang mereka hadapi sesuai hasil undian.

Artinya, dampak sanksi tidak berhenti pada pengosongan stadion. Ada juga dimensi finansial yang akan langsung memengaruhi kemampuan klub mengelola anggaran, sekaligus menjadi kompensasi bagi pihak lawan yang tampil dalam pertandingan yang tidak menghadirkan penonton.

Lebih jauh, struktur denda ini menegaskan bahwa otoritas kompetisi memandang gangguan suporter sebagai masalah serius yang berdampak lintas pihak. Lawan yang ditentukan dari drawing menjadi penerima dari konsekuensi tersebut, bukan sekadar “korban” yang mengalami gangguan.

Insiden musim lalu di Ibrox

Sanksi ini berakar pada kerusuhan yang terjadi pada perempat final Piala Skotlandia musim lalu. Dalam duel yang berlangsung, pertandingan tersebut disebut marred by fan disorder—kerusuhan suporter ikut mencemari jalannya laga.

Di perempat final itu, Celtic melangkah ke semifinal setelah mengalahkan Rangers lewat adu penalti di Ibrox. Hasil tersebut memastikan Celtic bertahan di kompetisi dan melanjutkan perjalanan mereka menuju fase berikutnya.

Namun, rangkaian momen setelah pertandingan justru menjadi titik masalah. Fans dari kedua tim dilaporkan menerobos hingga ke lapangan, sebuah tindakan yang mengubah suasana dari kompetisi olahraga menjadi situasi yang berpotensi membahayakan keselamatan.

Sejumlah penangkapan juga dilakukan terkait kejadian tersebut. Informasi ini menegaskan bahwa insiden tidak hanya dipandang sebagai gangguan sesaat di tribun, tetapi juga memicu proses penegakan yang melibatkan pihak berwenang.

Makna sanksi bagi perjalanan kedua klub

Dengan adanya larangan penonton pada pertandingan kandang berikutnya, Celtic dan Rangers akan menghadapi laga-laga yang secara psikologis berbeda. Duel Piala Skotlandia biasanya turut hidup karena atmosfer tribun, sehingga perubahan itu dapat memengaruhi cara tim mengelola tempo dan tekanan.

Dari sisi organisasi, sanksi tersebut juga menambah tekanan pada aspek pengamanan. Klub perlu memastikan bahwa protokol pencegahan insiden bisa bekerja efektif, terutama karena sanksi memiliki klausul lanjutan bila “unacceptable conduct” terulang.

Otoritas kompetisi tampaknya ingin membuat efek jera tidak hanya bersifat satu kali. Dengan memberi peluang sanksi berulang pada pertandingan kandang berikutnya, aturan ini mendorong klub untuk membangun pengawasan dan tanggung jawab yang lebih ketat pada setiap pertemuan.

Selain itu, kewajiban membayar ÂŁ100.000 menambah beban nyata yang bersinggungan langsung dengan kepentingan kompetitif. Dalam kompetisi yang padat, setiap pengaturan ulang anggaran dapat terasa karena klub tetap harus memenuhi kebutuhan operasional, persiapan tim, dan aspek logistik.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, keputusan tersebut menjatuhkan dua lapis hukuman kepada Celtic dan Rangers: pertandingan kandang berikutnya harus digelar tanpa penonton, dan kedua klub juga harus membayar denda £100.000 kepada tim yang mereka hadapi berdasarkan hasil undian. Di saat yang sama, potensi sanksi tambahan jika terjadi “unacceptable conduct” dalam pertandingan Piala Skotlandia berikutnya membuat klub harus ekstra hati-hati terhadap perilaku suporter.

Putusan ini menjadi respons terhadap insiden perempat final musim lalu, ketika Celtic mengalahkan Rangers lewat adu penalti di Ibrox, tetapi kerusuhan suporter serta penerobosan ke lapangan mengiringi berakhirnya pertandingan. Dengan adanya penangkapan, insiden tersebut jelas tidak dibiarkan begitu saja—hingga akhirnya berdampak langsung pada laga kandang kompetisi mereka berikutnya.