jurnalistik.co.id – Ketegangan di Selat Taiwan kini berada dalam fase yang lebih serius. Militer Taiwan disebut menyiapkan berbagai skenario untuk menghadapi kemungkinan serangan dari militer China (PLA), dengan Kepulauan Penghu diposisikan sebagai salah satu titik paling awal terdampak.
Dalam skenario terburuk yang dibahas, Penghu dapat menjadi area kontak pertama sekaligus benteng terdepan apabila invasi benar-benar meletus. Kepulauan Penghu sendiri merupakan gugusan sekitar 90 pulau kecil di Selat Taiwan yang secara administratif berada di bawah Taipei.
Mengutip Reuters pada Jumat (28/8/2026), ribuan pasukan Taiwan yang tergabung dalam garnisun di Penghu menggelar latihan tempur skala besar secara intensif. Fokus latihan diarahkan untuk mengantisipasi gelombang awal invasi, yang dinilai kemungkinan besar menyasar penguasaan wilayah ini lebih dulu.
Pejabat keamanan senior Taiwan dan pakar militer menyebut gugusan strategis tersebut akan menjadi sasaran lebih awal dibanding area lain. Pakar militer dari Institut Pertahanan dan Kemanan Nasional Taiwan, Su Tzu-yun, menegaskan, “Hal itu memaksa PLA menyerang Penghu sebelum dapat menyerang Taiwan,”.
Menurut Su, rencana penyerangan yang mencoba langsung menembus menuju pulau utama Taiwan tanpa terlebih dahulu menaklukkan Penghu dapat berujung fatal bagi pihak penyerang. Ia menjelaskan, pasukan China akan menghadapi serangan rudal jarak jauh dari pulau-pulau di Penghu.
Su juga menempatkan Penghu dalam konteks perbandingan wilayah pertahanan. Ia menyatakan posisi Penghu sangat vital dibandingkan pulau-pulau terluar seperti Kinmen dan Matsu, yang dinilai terlalu dekat dengan China sehingga tak cukup untuk membangun jaringan pertahanan yang mumpuni.
Dalam pandangan Su, kemampuan operasi Taiwan dapat berkembang menjadi skenario “jebakan” saat pertempuran sudah berlangsung. “Pasukan Taiwan dapat menjebak kapal-kapal China yang menyerang dalam baku tembak rudal antara Kepulauan Penghu dan pulau utama Taiwan,” papar Su.
Langkah persiapan tidak berhenti pada komando pasukan semata. Dalam latihan militer tahunan Han Kuang yang dilaksanakan pada 10 Agustus lalu, Komando Operasi Pesisir Angkatan Laut Taiwan untuk pertama kalinya mengirimkan kendaraan peluncur rudal canggih Hsiung Feng ke pantai-pantai Penghu.
Penggelaran itu disebut ditujukan untuk operasi anti-kapal dan anti-pendaratan. Dengan demikian, Penghu tidak hanya disiapkan sebagai titik awal respons, tetapi juga sebagai pusat kemampuan serang balik jarak jauh dalam skenario kontak pertama.
Berita Terkait
Selain perangkat peluncur rudal, Taiwan juga mulai mengandalkan teknologi pesawat tak berawak (UAV) yang dikerahkan selama latihan tersebut. Penggunaan UAV tersebut sejalan dengan upaya memperluas alat deteksi, pengamatan, dan dukungan taktis yang dapat dipakai saat situasi berubah cepat.
Di sisi lain, upaya militeris Taiwan juga berjalan beriringan dengan program ketahanan warga sipil. Pemerintah Taiwan bahkan menargetkan sekitar 200.000 warganya di seluruh wilayah telah menyelesaikan pelatihan ketahanan pertahanan tahun ini.
Ketahanan sipil diposisikan sebagai bagian dari skenario
Pada konteks tersebut, Kepala Kota Huxi, Chen Chen-chung, menyampaikan penilaian mengenai kebutuhan kesiapan. “Kita mutlak perlu memiliki rasa krisis. Kepulauan Penghu pasti akan menjadi salah satu tempat pertama yang diserang,” pungkas Chen Chen-chung.
Dengan pernyataan itu, Taiwan menempatkan kesiapan psikologis dan kesiapsiagaan praktis warga sebagai elemen penting dalam menghadapi kemungkinan gangguan lebih awal di kawasan Penghu. Semakin dini skenario yang diperkirakan, semakin besar pula dorongan agar pelatihan ketahanan sudah selesai sebelum situasi memburuk.
Respons keras kemudian datang dari pihak China. Kementerian Pertahanan China melalui juru bicara, Jiang Bin, menyatakan mengecam rencana Taiwan untuk membentengi pulau-pulau tersebut dengan nada yang tajam di awal tahun ini.
Jiang Bin menilai rencana itu “konyol dan delusi”. Ia juga memperingatkan bahwa Taipei akan menghadapi penghancuran total jika terus memprovokasi perang.
Sementara itu, baik kementerian pertahanan Taiwan maupun pihak Pentagon di AS dilaporkan menolak untuk mengomentari rencana pertempuran ini secara terbuka. Namun, para pejabat AS menyebut adanya instruksi dari otoritas tertinggi China terkait target waktu operasi.
“Presiden Xi Jinping telah memerintahkan PLA agar siap merebut pulau itu pada tahun 2027,” ungkap para pejabat AS. Pernyataan tersebut mempertegas bahwa isu kesiapan dan proyeksi waktu menjadi elemen penting dalam pembacaan tensi militer saat ini.
Dengan latihan berskala besar di Penghu, penggelaran perangkat rudal Hsiung Feng, penggunaan UAV, serta percepatan pelatihan ketahanan warga hingga menyasar sekitar 200.000 orang, Taiwan menunjukkan bahwa skenario konflik dipandang bukan sekadar wacana. Di saat yang sama, penilaian pihak China menempatkan Penguatan pulau-pulau di Selat Taiwan sebagai pemicu eskalasi yang berpotensi berakhir pada benturan penuh.












