jurnalistik.co.id – Nvidia mengungkapkan bahwa pengiriman chip kecerdasan buatan (AI) model H200 ke China tetap berlangsung, namun skalanya belum menyentuh batas maksimum yang diizinkan oleh otorisasi pemerintah Amerika Serikat. Dalam laporan keuangan yang disampaikan perusahaan, Nvidia menyebut penjualan ke pelanggan di ekonomi terbesar kedua di dunia itu terjadi dalam kuartal terakhir.
Menurut Nvidia, jumlah H200 yang dijual kepada pembeli di China menyumbang kurang dari 1% terhadap pendapatan pusat data perusahaan untuk periode tiga bulan yang berakhir pada 26 Juli. Dengan kata lain, kontribusi chip tersebut terhadap pendapatan segmen pusat data tidak mencapai porsi dominan meskipun permintaan dari China dinilai kuat.
Nvidia juga menegaskan bahwa pengiriman H200 ke China berada di bawah total yang diperbolehkan. Batas itu merujuk pada izin yang diberikan berdasarkan lisensi pemerintah AS yang, menurut perusahaan, terkait dengan otorisasi Presiden Donald Trump.
Perusahaan menyebutkan bahwa penjualan H200 ke China dilakukan melalui “sejumlah kecil” chip kepada pelanggan mereka selama kuartal terakhir. Pernyataan ini sekaligus menggambarkan bahwa arus distribusi tidak sepenuhnya lepas dari keterbatasan izin, sehingga volumenya masih dikendalikan oleh plafon yang berlaku.
Di sisi lain, Nvidia menyampaikan bahwa mereka belum mampu menjual seluruh jumlah H200 yang sebenarnya diizinkan berdasarkan lisensi pemerintah AS yang diberikan pada Januari. Alasan yang disebutkan perusahaan adalah adanya keberatan dari pihak berwenang di Beijing, yang membuat realisasi penjualan tidak bisa mencapai angka maksimum.
Implikasinya terasa pada kondisi persediaan. Nvidia melaporkan beban sebesar US$400 juta selama enam bulan terakhir akibat kelebihan stok chip H200, yang menurut perusahaan dipicu oleh penurunan permintaan terhadap produk tersebut.
Dengan adanya beban itu, Nvidia memisahkan narasi dampak dari keterbatasan penjualan dan perlambatan permintaan. Perusahaan tidak menyebut perubahan permintaan sebagai satu-satunya faktor, namun mengaitkannya dengan kelebihan persediaan H200 yang kemudian menimbulkan biaya.
Meski porsi H200 untuk pusat data tidak mencapai 1%, Nvidia tetap mencatat adanya pemasukan dari China yang tidak kecil. Perusahaan menyatakan pendapatan dari China mencapai US$7,88 miliar, yang berasal dari kombinasi penjualan H200 serta produk non-AI lainnya.
Berita Terkait
Pendapatan tersebut mencakup lini yang tidak berkaitan langsung dengan AI, termasuk perangkat yang terkait dengan permainan komputer. Nvidia menilai kinerja dari China mendukung kontribusi pendapatan secara keseluruhan, bahkan disebut hampir dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.
Dalam keterangannya, Nvidia juga menempatkan H200 sebagai produk yang tengah dicari, tetapi distribusi dan penjualan tetap tunduk pada aturan izin. Jadi, kendala bukan hanya pada permintaan pelanggan di China, melainkan juga pada mekanisme persetujuan yang menentukan batas maksimum penjualan.
Perusahaan memperjelas bahwa pengiriman ke China bisa terjadi, namun tidak dalam kapasitas penuh yang diizinkan. Ketika pihak berwenang di Beijing menyampaikan keberatan, Nvidia mengindikasikan adanya jarak antara kuota lisensi AS dan jumlah aktual yang dapat direalisasikan.
Dengan demikian, meski Nvidia melihat adanya permintaan yang kuat dari China untuk H200, realisasi penjualan tetap terfragmentasi. Kontribusi kurang dari 1% pada pendapatan pusat data menjadi sinyal bahwa dampak finansial jangka pendek dari produk tersebut masih terbatas dibanding total pendapatan segmen.
Di saat yang sama, catatan pendapatan China sebesar US$7,88 miliar menunjukkan bahwa hubungan bisnis Nvidia dengan pasar tersebut tidak bergantung pada satu komoditas saja. Komponen non-AI—termasuk perangkat terkait permainan komputer—berperan membantu penopang pendapatan dari China, sehingga performa tetap bergerak meski H200 tidak mengisi porsi dominan.
Gambaran dampak izin dan persediaan
Rangkaian temuan Nvidia menggambarkan dua lapisan tekanan: pembatasan kapasitas berbasis lisensi serta faktor operasional dari persediaan. Ketika kuota yang diizinkan tidak terserap penuh, perusahaan menghadapi kelebihan stok, dan situasi itu tercermin lewat beban US$400 juta yang dilaporkan.
Bagi Nvidia, narasi tersebut menegaskan bahwa strategi penjualan ke pasar yang diatur ketat memerlukan penyesuaian cepat terhadap perubahan persetujuan dan ekspektasi permintaan. Walaupun H200 merupakan produk AI yang menjadi perhatian, perusahaan tetap harus menyesuaikan volume dengan hambatan administrasi dan respons pihak terkait.
Secara keseluruhan, laporan Nvidia menunjukkan bahwa kontribusi H200 ke pendapatan pusat data dari China masih kecil, yakni di bawah 1% untuk periode tiga bulan hingga 26 Juli. Meski demikian, pendapatan total dari China tetap tinggi karena kombinasi H200 dan produk non-AI lain, dengan nilai yang disebut hampir dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.












