jurnalistik.co.id – Mallorca, Spanyol, sedang menggeser model pariwisatanya. Dalam beberapa musim terakhir, pulau berpenduduk sekitar satu juta jiwa itu tidak lagi hanya mengejar keramaian, melainkan menargetkan wisatawan kelas atasâterutama dari Amerika Serikat (AS)âdi tengah protes warga terhadap overtourism.
Di balik perubahan strategi tersebut, ada satu kekhawatiran yang makin nyata: jumlah pengunjung yang melonjak menekan ruang hidup masyarakat setempat sekaligus membebani layanan dasar.
Untuk tahun ini, Mallorca diperkirakan akan didatangi sekitar 14 juta turis. Pada puncak musim panas, populasi harian bahkan bisa melonjak hingga sekitar 50% dibanding kondisi normal.
Kenaikan itu berdampak langsung pada infrastruktur, mulai dari kemacetan, krisis air bersih, hingga kelangkaan hunian terjangkau bagi warga lokal.
Alih-alih merombak destinasi secara total, otoritas pariwisata memilih cara yang lebih terarah. Fokusnya adalah mengubah komposisi pasar: lebih sedikit kunjungan, tetapi belanja lebih besar.
âKualitasâ diutamakan ketimbang âkuantitasâ
Menurut laporan Wall Street Journal (WSJ), sejumlah warga di pinggiran ibu kota Palma kini harus tinggal di kompleks camper van. Mereka melakukannya karena tidak lagi mampu membayar sewa apartemen.
Direktur pengelola Badan Pariwisata Palma, Pedro Homar, mengatakan perubahan model pariwisata ini mengutamakan kualitas ketimbang kuantitas. Targetnya adalah membawa wisatawan dalam jumlah lebih terbatas, namun dengan pengeluaran yang lebih tinggi.
Strategi ini selaras dengan karakter masalah yang dihadapi Mallorca. Warga tidak hanya menyoroti perilaku sebagian pengunjung, tetapi juga menilai ketersediaan ruang dan sumber daya telah melampaui kapasitas.
Kesulitan tersebut menjadi semakin tajam karena pariwisata telah lama menjadi mesin utama ekonomi pulau. Data lembaga nirlaba Exceltur menunjukkan sektor ini menyumbang hampir separuh aktivitas ekonomi di Kepulauan Balearic, tempat Mallorca berada.
Secara historis, Mallorca mulai berubah dari kawasan agraria yang tenang menjadi destinasi wisata massal sejak era diktator Spanyol, Francisco Franco, pada dekade 1950-1960-an. Saat itu, pariwisata asing dimanfaatkan untuk memperbaiki citra rezimnya di mata internasional.
Setelahnya, paket wisata murah dari agen-agen Inggris dan Jerman membuka akses pulau bagi ribuan wisatawan Eropa. Reputasi sebagai destinasi pesta murah pun tumbuh, meski kemudian memicu keluhan warga lokal.
Keluhan itu berulang, mulai dari kemabukan di tempat umum, ketelanjangan, hingga penyalahgunaan narkoba. Namun, ketergantungan ekonomi pada sektor pariwisata membuat perubahan tidak mudah diterapkan.
Berita Terkait
Kantong tebal turis AS jadi sasaran baru
Di tengah perhitungan ulang strategi, turis dari AS dipandang punya daya beli yang lebih tinggi. Data pemerintah setempat menunjukkan wisatawan asal AS mengeluarkan belanja rata-rata sekitar 410 dolar AS per hari sepanjang Juli.
Angka itu jauh di atas wisatawan Jerman yang membelanjakan sekitar 240 dolar AS per hari, maupun Inggris yang mencapai sekitar 260 dolar AS per hari.
Karena itu, sejumlah otoritas lokal menerapkan denda bagi perilaku mabuk-mabukan, melarang party boat, serta membatasi konsumsi minuman di hotel all-inclusive maksimal enam gelas per hari.
Meski wisatawan Jerman dan Inggris masih mendominasi sekitar separuh total kunjungan, jumlah wisatawan asal AS tercatat melonjak 60% sepanjang tahun ini hingga Juni.
Lonjakan ini ikut dipacu oleh akses penerbangan langsung. Maskapai United Airlines menambah penerbangan tanpa transit dari hub Newark, New Jersey, menuju Mallorca.
Perubahan preferensi pasar juga terlihat dari perkembangan hotel. Sejumlah hotel butik yang menyasar segmen wisatawan Amerika tumbuh, termasuk pembukaan hotel Mandarin Oriental pada tahun ini.
Namun, strategi yang mulai membuahkan hasil belum otomatis meredakan ketegangan sosial. Sejumlah warga menilai akar persoalannya bukan hanya pada jenis turis, melainkan pada total jumlahnya.
Stella Arbona, pekerja toko roti berusia 23 tahun, mengeluhkan ruang bagi warga lokal yang kian menyempit. Ia menilai dominasi turis membuat keseharian di berbagai sudut pulau menjadi makin terbatas.
Di sisi kebijakan, ada usulan untuk melakukan pengetatan yang lebih langsung. Seorang politisi lokal sempat mengusulkan pembatasan kedatangan wisatawan di Kepulauan Balearic hingga level tahun 2023, tetapi para pemimpin daerah memilih langkah lain.
Langkah yang dipilih antara lain membatasi kedatangan kapal pesiar dan pembangunan hotel baru. Di saat bersamaan, ribuan rumah dan vila beralih fungsi menjadi akomodasi sewa jangka pendek seperti Airbnb.
Maraknya pasar gelap sewa apartemen ilegal juga disebut memperparah keterbatasan pasokan hunian bagi warga lokal. Kondisi ini membuat kebutuhan rumah tinggal tetap tidak sebanding dengan arus pengunjung.
Pemerintah kini memperketat pengawasan sekaligus mempercepat pembangunan hunian bersubsidi. Meski begitu, prosesnya disebut masih membutuhkan waktu.
Wali Kota CalviĂ , kota terbesar kedua di Mallorca, Juan Antonio Amengual, menyatakan masalah tersebut telah berlangsung bertahun-tahun. Menurutnya, penyelesaiannya kemungkinan membutuhkan durasi yang sama panjangnya.








