jurnalistik.co.id – Swedia akan menggelar pemilu nasional pada Minggu. Menjelang hari pemungutan suara, dukungan bagi partai-partai kiri-tengah kembali menguat, meski kenaikannya tidak besar.
Meski situasi politik mulai bergeser, pengaruh sayap kanan jauh belum benar-benar hilang. Arah kompetisi tetap dipengaruhi kekuatan kubu tersebut yang selama ini menentukan peta perdebatan di negeri Nordik itu.
Secara umum, kondisi Swedia dinilai lebih baik dibanding beberapa tahun terakhir. Seiring meredanya sejumlah persoalan yang sebelumnya menjadi perhatian utama publik, partai-partai kiri-tengah mendapat ruang untuk kembali meraih simpati pemilih.
Dalam isu keamanan, Swedia mencatat kasus kekerasan bersenjata yang sempat meningkat selama bertahun-tahun mulai menurun. Di saat yang sama, ekonomi juga relatif ditopang oleh perusahaan-perusahaan besar seperti Volvo, IKEA, dan Spotify yang tetap menjadi pemain global.
Swedia juga mencatat jumlah miliarder yang tergolong tinggi dibanding negara lain dengan ukuran ekonomi serta populasi yang serupa. Gambaran ini membuat banyak orang beranggapan pemerintah petahana yang berhaluan kanan-tengah dapat kembali berkuasa dengan relatif mudah.
Namun, perhatian pemilih ternyata bergerak ke isu yang berbeda. Pergeseran inilah yang justru menciptakan keuntungan bagi kubu kiri-tengah, sekaligus memberi sinyal bahwa tren politik tidak bergerak lurus seperti yang diperkirakan.
Jajak pendapat terbaru menunjukkan koalisi kiri-tengah unggul tipis atas rivalnya dari kubu kanan-tengah menjelang pemungutan suara dimulai. Ini menjadi fenomena yang disebut melawan kecenderungan umum yang kerap terlihat di sejumlah negara Eropa.
Kawasan Skandinavia sering disebut menjadi pelopor perubahan sosial. Swedia, bersama Denmark, memperlihatkan gambaran tentang apa yang mungkin terjadi ketika isu-isu yang hangat—terutama migrasi—mulai mereda dan perhatian publik beralih ke topik lain.
Meski demikian, kekuatan sayap kanan jauh masih berpotensi menentukan hasil. Kelompok yang selama ini mendukung pemerintahan kanan-tengah diproyeksikan dapat memperoleh porsi kekuasaan untuk pertama kalinya bila koalisi kanan mampu mempertahankan pemerintahan lewat kemenangan tipis.
Kemungkinan itu akan menjadi perubahan besar bagi Swedia sekaligus menjadi kemenangan lain bagi nasionalis Eropa. Kondisi tersebut disebut menyusul keberhasilan sayap kanan jauh dalam pemilu Jerman baru-baru ini.
Kebangkitan kubu kiri
Dalam satu dekade terakhir, politik Swedia mengalami perubahan signifikan. Negara ini menerima gelombang besar migran yang kemudian memicu perdebatan mengenai kebijakan imigrasi dan integrasi.
Situasi semakin rumit setelah pandemi Covid-19 dan invasi Rusia ke Ukraina. Perang tersebut mendorong kenaikan harga energi serta meningkatkan kekhawatiran masyarakat terkait keamanan.
Partai-partai sayap kanan di Swedia—sejalan dengan yang terjadi di Inggris, Italia, Prancis, dan Jerman—memanfaatkan kegelisahan tersebut. Mereka meraih popularitas yang lebih tinggi saat isu keamanan dan ketidakpastian menjadi topik dominan.
Namun, dibanding wilayah Eropa lainnya, ekonomi Swedia disebut pulih lebih cepat. Tingkat inflasi, migrasi, serta insiden penembakan juga dinilai menurun, sehingga arah angin politik mulai berbelok.
Berita Terkait
Menurut para analis, kondisi yang berubah membuat dinamika dukungan politik ikut bergeser. Jens Rydgren, profesor sosiologi di Universitas Stockholm, menyatakan, “Situasinya jauh lebih sulit empat tahun lalu,” dan menambahkan bahwa secara tradisional, kubu kiri-tengah yang mengusung isu-isu tersebut.
Di antara pihak yang menjadi rujukan utama dalam jajak pendapat, Partai Demokrat Sosial menempati posisi terdepan. Partai kiri-tengah yang sudah lama mapan di Swedia itu tercatat memperoleh 27 persen suara.
Bersama sekutu-sekutunya, kubu kiri diprediksi dapat meraih 51 persen suara. Jika proyeksi ini mendekati kenyataan, koalisi akan memperoleh keunggulan yang cukup menentukan di bilik suara.
Kubu sayap kanan masih kuat
Meskipun dukungan untuk kelompok kiri-tengah meningkat, Partai Demokrat Swedia—Sweden Democrats—tetap menjadi salah satu kekuatan politik terbesar. Partai ini mencatat akar gerakan neo-Nazi dan meraih 19 persen dalam jajak pendapat.
Tingkat dukungan 19 persen digambarkan sebagai angka yang sangat tinggi untuk partai yang dulunya dianggap pinggiran. Popularitasnya juga disebut relatif stabil, bahkan ketika sekutu-sekutunya yang lebih moderat mulai kehilangan momentum.
Dalam sebuah rapat umum partai baru-baru ini, Jimmie Akesson tampil di atas panggung dengan efek piroteknik. Ia menyampaikan pertanyaan-pertanyaan kunci seperti, “Apakah Anda ingat seperti apa rupa Swedia empat tahun lalu?” serta menegaskan, “Apakah kita ingin kembali ke masa itu?”
Respons massa terdengar tegas ketika ia menyerukan pilihannya: “Tidak!” teriak massa menanggapi.
Di parlemen, Sweden Democrats memegang kursi terbanyak di kelompok mereka, dan dukungan partai tersebut memperkuat koalisi kanan-tengah. Pemerintah dinyatakan mengadopsi sejumlah kebijakan keras, terutama terkait penanganan kriminalitas.
Pemerintah juga menerapkan sistem imigrasi yang lebih ketat. Kebijakan itu mencakup memperketat aturan bagi pencari suaka sekaligus mempermudah proses deportasi.
Meski demikian, ada batasan politik yang disebut berpengaruh pada posisi Sweden Democrats dalam pemerintahan. Karena kaitan masa lalu Sweden Democrats dengan kelompok supremasi kulit putih, partai itu tidak diberi jatah kursi menteri.
Pemilu kali ini lantas disebut bisa mengubah keadaan tersebut. Sweden Democrats meminta setengah dari kursi kabinet jika koalisi kanan-tengah kembali berkuasa.
Apabila permintaan itu terwujud, arah kebijakan negara dinilai akan berubah secara drastis. Pemerintah akan mengambil pendekatan yang jauh lebih keras terhadap masalah migrasi dan kriminalitas.
Sejumlah tokoh partai di tingkat daerah juga menyuarakan penekanan pada identitas nasional. Pejabat daerah Sweden Democrats di Norrköping, Christopher Jarnvall, menyatakan pemerintah perlu mendorong imigran untuk mengadopsi identitas tradisional Swedia demi menjaga kohesi sosial.
Ia menegaskan partainya ingin mengembalikan Swedia pada identitas tradisionalnya. “Kami ingin menjadikan Swedia kembali seperti Swedia yang dulu,” ujarnya, menggemakan slogan sayap kanan jauh.










