jurnalistik.co.id – Sudah lebih dari 18 bulan sejak Perdana Menteri Kanada Mark Carney menyatakan hubungan negara itu dengan Amerika Serikat—yang selama lebih dari satu abad ditopang kerja sama ekonomi dan militer yang erat—adalah “over”. Setelah pembicaraan dagang runtuh dan muncul serangkaian tarif balasan, ketegangan dengan AS kembali menguat, termasuk ketika Donald Trump berulang kali menyebut ide menjadikan Kanada sebagai “51st state”.
Dalam situasi yang makin sensitif secara geopolitik, Carney kini bergerak sebagai “pitch man” utama untuk menarik minat investor global. Ia memanfaatkan jaringan dan kedekatan personal yang ia bangun ketika lama berkiprah di lapisan atas keuangan dunia, dengan harapan aset dan penempatan dana dapat mengarah ke Kanada.
Selama dua hari, Toronto akan menjadi tuan rumah pertemuan investasi yang diharapkan dapat membuka babak hubungan ekonomi baru. Acara ini dirancang untuk mengundang lebih dari 100 investor global yang mengelola lebih dari C$100tn (sekitar $72tn; ÂŁ53) dalam bentuk aset, sehingga Kanada punya ruang lebih besar untuk menavigasi kondisi dunia yang dinilai makin tidak stabil.
“Canada has what the world wants,” kata Carney sebelum pertemuan yang disebutnya “first of its kind” tersebut. Ia menekankan bahwa tawaran Kanada bukan sekadar soal peluang, melainkan juga soal relevansi kebutuhan yang dicari para pengelola dana dan para pelaku usaha lintas negara.
Carney menargetkan, pertemuan yang berlangsung Senin dan Selasa ini akan diisi tamu dari dana kekayaan negara (sovereign wealth funds) besar dari berbagai belahan dunia. Di antaranya berasal dari Uni Emirat Arab dan Norwegia. Selain itu, hadir pula para chief executive dari perusahaan-perusahaan keuangan besar, termasuk Larry Fink dari BlackRock dan Jon Gray dari Blackstone.
Dalam forum tersebut, Carney berupaya meyakinkan para pihak agar menaruh perhatian pada sektor energi dan sumber daya Kanada. Ia juga mengaitkan peluang tersebut dengan narasi stabilitas politik negara, dengan harapan investasi dapat mengalir untuk proyek-proyek di bidang kecerdasan buatan (AI), pertahanan, transportasi, serta infrastruktur di berbagai wilayah.
Upaya ini tidak berdiri sendiri. Menurut kerangka yang disebut, strategi yang sedang dijalankan bertujuan membangun ekonomi Kanada yang “more independent, more resilient economy” di tengah eskalasi perang tarif dengan AS yang meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Dengan kata lain, pertemuan investasi ini diposisikan sebagai bagian dari pergeseran ekonomi yang lebih mandiri, sekaligus respons terhadap volatilitas hubungan perdagangan.
Namun, tawaran kepada investor besar tidak otomatis mudah diterima. Tantangan yang muncul antara lain terkait rekam jejak proses persetujuan proyek di Kanada yang kerap berlangsung lama. Selain itu, ada pula peringatan bahwa peluang yang benar-benar siap untuk diinvestasikan tidak selalu sebesar yang dibayangkan.
Laporan dari Canada Pension Plan Investment Board yang menjadi co-host dalam pertemuan tersebut menyoroti kelemahan paling mendasar Kanada. Dalam laporan itu, disebut bahwa skala dan kedalaman peluang yang bisa diinvestasikan merupakan “greatest weakness” negara. Naomi Powell, direktur Canada Pension Plan Investment Board Insight Institute, merangkum kekhawatiran itu dengan menyatakan, “Global capital is looking for opportunity, but opportunity alone does not make a market investible.”
Dengan kalimat tersebut, pesan utamanya adalah bahwa peluang saja belum cukup untuk mengundang investasi dalam bentuk pasar yang layak. Para investor global biasanya mencari kepastian, kelayakan proyek, serta proses yang tidak menghambat keputusan penempatan dana dalam jangka panjang.
Jejaring yang dibangun dari karier keuangan
Di tengah kebutuhan meyakinkan pasar, Carney membawa keunggulan karena posisi dan pengalamannya sebelumnya. Goldy Hyder, presiden sekaligus CEO Business Council of Canada, menyebut undangan yang dikirim kepada para investor sering kali bersifat personal. Ia mengatakan, “These were personal invites in many cases, literally,” dan menambahkan bahwa pendekatan yang dibangun bukan gaya politisi yang mengajak pembiaya, melainkan relasi dari lingkungan yang sama.
Miville Tremblay, yang pernah bekerja dengan Carney selama beberapa tahun di Bank of Canada, menggambarkan kedekatan itu lebih jauh. Ia menyatakan, “It’s not a group of politicians inviting financiers, it’s a group of former financiers and investment people inviting their former buddies.” Tremblay juga menilai kapasitas Carney ketika menghadapi krisis, dengan mengatakan, “He was way above everyone,” serta, “He understands finance very deeply. [He] would know when they are bluffing and when the understatement meant that something really bad was happening.”
Pengetahuan mengenai cara berpikir investor menjadi bekal bagi Carney dalam pertemuan kali ini. Ia memulai kariernya di bank investasi Goldman Sachs, sehingga strategi yang ia tawarkan minggu ini dianggap bertumpu pada pemahaman mendalam tentang logika keputusan finansial.
Berita Terkait
Carney dinilai sedang bertaruh bahwa rekam jejak dan latar belakangnya dapat membantu masa depan ekonomi Kanada. Namun, tetap ada gambaran bahwa Kanada berpotensi menanggung beban terbesar jika pemutusan hubungan permanen dengan AS—sebagai ekonomi terbesar dunia—benar-benar terjadi.
Tremblay juga menegaskan bahwa upaya Kanada mencari investasi luar negeri bukanlah hal baru. Tetapi cara “menjual” Kanada kepada korporasi besar kini mengalami perubahan. Menurutnya, selama 25 tahun terakhir, menteri perdagangan Kanada memanfaatkan kedekatan geografis dengan AS sebagai nilai jual utama.
Ia menyebut bahwa narasi yang dulu digunakan adalah agar investor asing mau masuk karena “you’ve got an easy access to the US market”. Namun, Tremblay menilai, “This line doesn’t work anymore.” Saat perang dagang terus berjalan, persepsi terhadap kemudahan akses pasar menjadi berbeda, dan ruang negosiasi berubah.
Stabilitas dan kompromi menjadi kunci
Sementara ketegangan dagang belum mereda, banyak pihak memperkirakan akan tiba momen ketika kedua negara kembali ke meja perundingan. Bradley Saunders, ekonom Amerika Utara dari Capital Economist, menyatakan bahwa pengamanan masa depan kesepakatan perdagangan adalah “really important thing” bagi Carney dalam jangka panjang.
Ia mencontohkan dampak nilai perdagangan dengan menyebut, “Trade exports to the US are worth 20% of Canada’s GDP.” Angka itu, menurut Saunders, termasuk yang tertinggi di antara dua negara dalam perdagangan bilateral mereka. Karena itu, ia menekankan bahwa investasi jangka panjang membutuhkan lingkungan yang stabil.
Menurut Saunders, “If Carney wants to attract long-term investment… he wants this to go well, he has to try and provide a stable environment – and that won’t come until Canada has a certain trading relationship with the US.” Tremblay menambahkan bahwa bahkan bila Kanada memotong perdagangan dengan AS dalam jangka lebih panjang, tetap akan ada kebutuhan duduk bersama untuk mencari jalan tengah: “they’ll have to sit down and make a compromise”.
Di sisi lain, Hyder mengingatkan investor kemungkinan akan menuntut bukti bahwa Carney mampu memperbaiki hambatan investasi lainnya. Salah satunya adalah memastikan bahwa komunitas adat dan pemerintah provinsi yang memiliki kewenangan memperlambat atau menghentikan proyek sumber daya, benar-benar berada di pihak yang sama dengan proposal yang diajukan.
Dalam konteks strategi pitch, Tremblay menilai kunci yang harus dibawa adalah klaim bahwa Kanada memiliki apa yang dibutuhkan dunia. Ia menyebut kalimat pitch harus berbunyi “Canada has stuff that the world needs,” yakni frasa yang dipilih Carney. Tetapi ia juga mengakui bahwa tanpa kesepakatan yang sudah berjalan dengan negara lain, pengumuman besar biasanya tidak mudah diwujudkan dalam waktu dekat.
Selain investasi luar negeri, Tremblay menilai penting pula dorongan investasi domestik dari dana pensiun terbesar Kanada. Ia menyebut kondisi saat ini menunjukkan bahwa lembaga-lembaga tersebut lebih banyak menaruh investasi di luar negeri, sehingga peluang pergeseran strategi investasi domestik turut menjadi bagian dari dorongan yang diharapkan.
Dalam bacaan politik dan ekonomi, iklim yang dinilai bergolak justru dianggap sangat cocok untuk Carney. Tremblay menggambarkan Carney sebagai “crisis manager”, menyebut ia pernah menangani krisis keuangan, memimpin masa Brexit, dan kini menghadapi “super crisis for Canada.”
Carney sendiri telah menyatakan bahwa perjalanan Kanada saat bergeser dari ketergantungan kepada AS akan berjalan sulit. Meski demikian, ia memperoleh dukungan mayoritas warga Kanada untuk arah kebijakan tersebut, walaupun ada kritik bahwa Kanada menjauh dari komitmen iklim sekaligus mempererat hubungan dengan negara seperti Arab Saudi dan China sambil mendorong kekayaan sumber daya yang dimiliki.
Drew Fagan, profesor di University of Toronto’s Munk School of Global Affairs, menyatakan tantangan utama Carney muncul karena retakan dengan AS berkembang lebih cepat dibanding waktu yang dibutuhkan untuk membangun kemitraan dagang global baru. Ia mengatakan, “And in the interim, that’s where the valley of death is for him, both economically and potentially politically.”
Dengan pertemuan investasi yang berlangsung dua hari di Toronto, Carney berupaya mengubah jeda itu menjadi ruang transisi yang lebih terarah. Bagi investor, pertanyaan akhirnya tetap pada cara peluang ditempatkan menjadi keputusan yang bisa dieksekusi—dan pada kemampuan Kanada menawarkan stabilitas serta kepastian yang dapat mengubah minat menjadi investasi.












