Internasional

Pemilu Swedia Masih Ketat: Dua Blok Beda 20.000 Suara saat 50% Suara Dihitung

×

Pemilu Swedia Masih Ketat: Dua Blok Beda 20.000 Suara saat 50% Suara Dihitung

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Swedish party blocs tied after Sunday vote, projections say

jurnalistik.co.id – Pemilihan umum Swedia masih berada dalam persaingan yang sangat ketat, dan hasil awal belum cukup untuk menentukan siapa yang akan memimpin pemerintahan.

Dengan sekitar 50% suara telah masuk, dua blok politik utama hanya dipisahkan oleh selisih 20.000 suara, menurut siaran publik SVT.

Proyeksi awal yang beredar menunjukkan persaingan berakhir tipis, sehingga kontestasi masih terlalu dekat untuk dipastikan arah akhirnya.

Pada tahap awal penghitungan itu, blok kiri yang dipimpin Magdalena Andersson memperoleh keunggulan tipis atas kubu lawan, yakni koalisi empat partai yang disusun oleh Perdana Menteri petahana Ulf Kristersson.

Andersson adalah pemimpin Partai Demokrat Sosial yang sebelumnya pernah menjabat perdana menteri pada periode 2021 hingga 2022.

Kristersson, yang memimpin pemerintahan saat ini, memperoleh dukungan di parlemen melalui Sweden Democrats (SD).

SD dikenal memiliki akar ideologi yang terkait dengan neo-Nazi, dan Kristersson berjanji memberikan sejumlah posisi kabinet untuk SD jika ia tetap memegang kendali.

Sementara itu, hasil parsial yang muncul memperlihatkan SD sedang kehilangan dukungan untuk pertama kalinya sejak partai tersebut masuk ke parlemen pada tahun 2010.

Hal itu membuat pertarungan tetap menguncup pada dua poros besar, dengan peluang perubahan komposisi kekuasaan ketika penghitungan mendekati skala penuh.

Persaingan dua kubu dalam lanskap koalisi

Swedia memiliki dua blok politik besar yang melibatkan empat partai di sisi kanan dan empat partai di sisi kiri, sehingga pola pemerintahan koalisi maupun pemerintahan minoritas relatif sering terjadi.

Dalam konteks ini, posisi Partai Demokrat Sosial menjadi faktor penting sejak akhir Perang Dunia II, karena partai tersebut telah menjadi kekuatan besar dalam politik Swedia dalam waktu yang panjang.

Namun, dinamika kampanye beberapa tahun terakhir juga turut mengubah peta persaingan.

Sweden Democrats didirikan oleh figur yang memiliki kaitan dengan simpatisan Nazi pada era 1980-an, dan partai ini selama bertahun-tahun tersisih dari arus utama politik.

Perubahan paling mencolok terjadi pada 2022, ketika SD berhasil menjadi partai terbesar kedua di negara itu setelah aktif berkampanye dengan isu-isu seperti kejahatan kekerasan dan imigrasi.

Dengan latar itulah, pertarungan saat pemilu berlangsung bukan sekadar soal komposisi angka, tetapi juga soal arah kebijakan yang akan dibawa pemerintah berikutnya.

Pilihan rakyat dan pesan para pemimpin

Setelah memberikan suara pada Minggu, Magdalena Andersson memaparkan pilihan yang dihadapi pemilih Swedia.

Dalam pernyataannya, ia menyinggung kemungkinan pemerintahan yang sepenuhnya didominasi oleh Sweden Democrats—sesuatu yang menurutnya belum pernah terjadi di Swedia.

Di sisi lain, Andersson juga mengemukakan opsi pemerintahan yang dipimpin olehnya sebagai jalan untuk membawa Swedia ke “semangat kerja sama” yang baru.

Andersson menyampaikan pertanyaan itu langsung kepada publik: apakah Swedia akan memiliki pemerintahan yang didominasi SD, atau pemerintahan yang dipimpin dirinya untuk menata arah secara lebih kolaboratif.

Kristersson, yang mendukung koalisi empat partai, menekankan bahwa kesinambungan kerja pemerintahan menjadi bagian dari gagasannya.

Ia mengatakan bahwa terdapat antusiasme yang nyata agar koalisinya dapat terus melanjutkan “pekerjaan penting” yang telah dikerjakan.

Kristersson menyampaikan hal tersebut setelah ia memberikan suaranya di kotamadya tempat tinggalnya, Strangnas.

Nuansa persaingan inilah yang memperkuat karakter pemilu Swedia kali ini: dua blok tampak saling menempel, sementara perubahan kecil pada hasil akhir berpotensi memengaruhi siapa yang paling mungkin membentuk pemerintahan.

Isu yang mendominasi kampanye

Sejumlah isu besar menonjol dalam kampanye, terutama menyangkut keamanan nasional, kejahatan geng, serta belanja kesejahteraan.

Perbincangan di ruang publik tentang isu-isu tersebut menjadi landasan bagi setiap blok untuk meyakinkan pemilih bahwa pendekatan mereka paling relevan menghadapi tantangan yang sedang berlangsung.

Di tengah fokus pada tema-tema tersebut, SD juga membawa narasi yang menyoroti kejahatan kekerasan dan imigrasi, yang sebelumnya berkontribusi pada kenaikan elektabilitasnya hingga mencapai posisi penting di parlemen.

Dengan sebagian suara yang baru terhitung, proyeksi mengindikasikan bahwa pertarungan masih menunggu perkembangan selanjutnya.

Selisih 20.000 suara pada titik sekitar 50% penghitungan menjadi pengingat bahwa perubahan kecil dalam akumulasi suara berikutnya dapat menggeser keunggulan.

Karena itu, sampai penghitungan mendekati tahap yang lebih final, baik blok kiri maupun koalisi yang dipimpin Kristersson belum bisa mengklaim kemenangan yang benar-benar pasti.

Jika tren yang tampak dalam hasil parsial berlanjut—termasuk indikasi bahwa SD melemah untuk pertama kalinya sejak 2010—maka arah pembentukan pemerintahan dapat berubah saat suara-sisa masuk.

Namun, pada saat yang sama, janji Kristersson untuk memberi posisi kabinet bagi SD jika ia bertahan juga menunjukkan betapa besar pengaruh komposisi dukungan di jalur menuju pemerintahan berikutnya.

Dengan seluruh faktor itu berjalan dalam satu kontestasi yang sangat dekat, pemilu Swedia saat ini mencerminkan fase yang masih dinamis dan penuh kemungkinan, sebelum keputusan akhir menjadi jelas.