Internasional

Aturan menu sekolah baru: “lentil wajib” dan “Boris kabur dari serangan drone Vlad”

×

Aturan menu sekolah baru: “lentil wajib” dan “Boris kabur dari serangan drone Vlad”

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Newspaper headlines: 'Compulsory lentils' and 'Boris flees Vlad drone blitz'

jurnalistik.co.id – Edisi koran Senin di Inggris kembali menempatkan dua isu di garis depan: rencana perubahan menu sekolah dan kabar yang dikaitkan dengan serangan drone Rusia terhadap layanan kereta yang pernah digunakan Boris Johnson. Di saat yang sama, pers juga ramai menyorot perdebatan pajak, donasi politik, hingga peringatan atas risiko regulasi kecerdasan buatan.

Untuk urusan sekolah, Daily Telegraph menulis bahwa pemerintah akan mengumumkan aturan yang “will force schools to put pulses on the menu at least once a week” di Inggris. Surat kabar itu menilai langkah tersebut terkait wacana “Compulsory lentils”.

Di halaman lain, Daily Express dan beberapa media ikut membahas tekanan pada sektor pariwisata. Daily Telegraph melaporkan adanya permohonan dari 800 pemimpin pub, restoran, dan hotel agar Perdana Menteri Andy Burnham “cut VAT” dari 20% ke 10%.

Dalam konteks yang sama, Daily Telegraph menambahkan bahwa permintaan itu muncul beberapa hari setelah Burnham “blindsided the industry” dengan memberi otoritas lokal kewenangan untuk mengenakan “unlimited tourist taxes”.

Daily Express juga menyoroti kekhawatiran dampak kebijakan terkait “Labour tourist tax”. Koran itu menyebut peringatan yang berbunyi “Labour tourist tax will hammer seaside B&Bs”, sementara Partai Konservatif mengingatkan bahwa bisnis keluarga dan orang tua yang memilih staycation akan menanggung biaya “cost of benefits bill”.

Tak hanya politik dan kebijakan, beberapa koran turut mengangkat agenda hiburan. Céline Dion disebut memiliki “triumphant return to concert stage” di pemberitaan utama halaman depan.

Drone Rusia dan “kaburnya” Boris Johnson

Di sisi geopolitik, The Sun mengawali dengan tema “scare in Ukraine”. Pemberitaan tersebut merujuk pada laporan bahwa jalur kereta yang digunakan mantan Perdana Menteri Boris Johnson disebut “blitzed by a Russian drone”.

Menurut cara pandang yang ditulis media, koran itu menggunakan judul “Boris flees Vlad drone blitz”. Ia menjelaskan bahwa layanan malam Johnson ke Polandia “had departed earlier than scheduled due to the threat of attacks”, setelah sebuah konferensi di Kyiv.

Daily Mail menambahkan pertanyaan yang dibingkai langsung. Koran itu mengutip judul “Did [Russian President Vladimir] Putin drone target Boris and top security officials?” sekaligus menampilkan foto Johnson yang mengenakan helm pelindung tebal pada awal tahun ini.

Daily Mail juga mengutip pakar yang menggambarkan ledakan sebagai “Mafia style message straight from the Kremlin”. Johnson sendiri, dalam pemberitaan yang sama, mengatakan: “In these train attacks, we see the bared teeth of a cornered rat.”

Donasi politik, wacana batas, dan respons Partai Buruh

Perdebatan donasi politik muncul kuat di sejumlah judul. The i menempatkan cerita utama “Reform’s £72m crypto bonanza sparks Labour donations row”. Media itu menyebut adanya tekanan agar pemerintah menetapkan batas donasi politik setelah dua miliarder memberikan £36m kepada partai Nigel Farage.

Namun, The i juga menulis pemerintah “risks wrath of Labour MPs after rejecting calls for stricter limits on funds from a single source earlier this month”. Dengan kata lain, penolakan itu menjadi pemantik ketegangan di internal Partai Buruh.

Metro melanjutkan dengan framing “Labour threat to Reform’s £72m windfall”. Dalam pemberitaan itu, disebutkan bahwa angka-angka rekor dapat terkena aturan karena proposal rancangan undang-undang yang telah diubah memasukkan aturan soal “overseas cash” yang akan berlaku surut.

Daily Mirror, sementara itu, menyinggung rencana debat House of Lords terkait RUU donasi yang ditujukan untuk “stopping mega gifts to all parties”. Koran itu mengutip peringatan dari Sharon Graham, pemimpin Unite, yang menyatakan: “We must ensure Britain’s democracy is not for sale.”

Guardian juga menulis “Reform’s £72m in donations ‘may be caught by new bill’”. Di bagian lain, Guardian mengangkat penelitian baru yang menurutnya menunjukkan skala nyata keterlibatan Inggris dalam perdagangan budak, termasuk sistem yang melibatkan “monarchs, MPs and ordinary people”.

Penelitiannya disebut merupakan proyek tiga tahun yang dipimpin sejarawan spesialis, dan merangkum “The Register of British Slave Traders”. Daftar tersebut, menurut Guardian, mencatat sebanyak “10,500 investors” dalam “Britain’s near-250 year transatlantic slave trade” terhadap orang-orang Afrika.

Kecerdasan buatan dan peringatan regulasi

The Times menulis tentang reaksi “Reform hits out at bid to stop record donations”. Koran itu juga membawa keterangan dari Joint Committee on Human Rights yang menuduh menteri Inggris “abandoning plans for an overarching artificial-intelligence (AI) law” pada saat yang sama ketika perusahaan teknologi memperingatkan sistem-sistem mereka “racing beyond human control”.

Financial Times mengarahkan sorotan ke Presiden AS Donald Trump yang, menurut koran itu, menolak seruan industri untuk “brake on AI” karena khawatir kalah dalam perlombaan dengan China. Financial Times menambahkan bahwa Demokrat dan tokoh teknologi mendesak regulasi yang lebih ketat karena meningkatnya kekhawatiran bahwa teknologi tersebut merupakan ancaman yang “poses an existential threat”.

Koran tersebut menyebut ada “rare show of unity” di antara pimpinan seperti Sam Altman dari Open AI dan Elon Musk dari Tesla.

Sepak bola: pandangan Graeme Souness

Terakhir, Daily Star memusatkan perhatian pada sepak bola. Koran itu menampilkan pandangan Graeme Souness, mantan Liverpool, yang disebut “hardman”. Menurut Daily Star, ia percaya “today’s Prem[ier League] stars are softies”.