jurnalistik.co.id – Mohamad Elmasry, profesor di Doha Institute for Graduate Studies, menilai serangan terhadap Iran pada bulan Februari telah meninggalkan dampak serius pada cara dunia memandang kekuatan militer Amerika Serikat. Menurutnya, kerusakan reputasi itu bukan sekadar isu sesaat, melainkan sesuatu yang sulit dipulihkan.
Elmasry menyampaikan penilaian tersebut dalam wawancara dengan Al Jazeera, dengan menyoroti empat konsekuensi yang menurutnya akan terus membayangi Washington. Ia juga membandingkan klaim-klaim yang beredar dengan temuan data pelacakan di lapangan.
Reputasi AS dinilai sudah rusak
Elmasry mengatakan, “Reputasi AS telah rusak secara permanen selama perang ini; tidak ada keraguan mengenai hal itu,” ujar Elmasry kepada Al Jazeera. Ia berangkat dari persepsi internasional yang, menurutnya, menganggap kemampuan AS di teater konflik tidak lagi meyakinkan.
Ia juga menyinggung pernyataan Donald Trump yang menyebut kapal-kapal tanker minyak melintasi Selat Hormuz dengan frekuensi lebih tinggi. Namun Elmasry menegaskan bahwa, “pada akhirnya, data pelacakan mengungkap fakta yang sebenarnya, dan hanya sedikit kapal yang berhasil melintas,” catatnya.
Upaya AS tidak mengembalikan kondisi normal
Dalam pandangannya, kendali dan dukungan yang dikerahkan AS tidak cukup untuk memulihkan lalu lintas pelayaran. Elmasry menyatakan, “Walaupun AS telah mengerahkan kekuatan penuh untuk mendukung upaya pelintasan malam hari secara diam-diam ini, mereka tidak mampu memulihkan lalu lintas pelayaran hingga mendekati tingkat normal,” kata Elmasry.
Ia kemudian menggambarkan titik balik yang akan menuntut pilihan tegas. “Pada titik tertentu, situasi akan mencapai tahap kritis yang menuntut pengambilan keputusan tegas. Entah Iran akan mengalah pada tuntutan Amerika—yang menurut saya sangat kecil kemungkinannya—atau Amerika Serikat harus menerima kenyataan baru di lapangan ini.”
Iran dinilai tidak mungkin melepas kendali Selat Hormuz
Berita Terkait
Selain Elmasry, Alan Eyre turut memberikan penilaian melalui Al Jazeera. Eyre menyebut dirinya sebagai mantan diplomat AS sekaligus peneliti di Middle East Institute, dan menilai kecil kemungkinan Iran akan melepaskan kendali atas Selat Hormuz.
Menurut Eyre, Teheran memandang jalur perairan itu sebagai sumber utama pencegahan strategis. Dalam kutipan yang disampaikannya, “Mereka memandang kendali atas selat tersebut sebagai satu-satunya cara untuk mewujudkannya,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kendali atas selat tersebut bukan sesuatu yang akan mudah ditukar. “Itu bukanlah aset tawar-menawar yang akan mereka lepaskan begitu saja.”
Dampak ekonomi global diperkirakan makin buruk
Eyre juga mengaitkan situasi di Selat Hormuz dengan kondisi ekonomi yang lebih luas. Ia menyatakan bahwa Amerika Serikat dan negara-negara Teluk mungkin perlu menerima kendali Iran atas selat tersebut, “setidaknya sebagai kenyataan jangka pendek,” jika tujuannya adalah membatasi dampak negatif terhadap ekonomi global.
Lebih lanjut, ia menilai arah diplomasi mengalami pergeseran. “upaya diplomasi telah semakin beralih dari Washington ke negara-negara Teluk dan Irak,” sebutnya, seraya menambahkan bahwa AS, “tidak mau dan tidak mampu” menjalankan diplomasi yang diperlukan.
Dengan rangkaian penilaian tersebut, ketiga poin—reputasi, kemampuan mengembalikan arus pelayaran, serta rendahnya kemungkinan perubahan sikap Iran—berujung pada satu kesimpulan yang sama: tekanan di Selat Hormuz tidak berhenti sebagai urusan keamanan semata, tetapi turut menekan cara berbagai pihak mengelola risiko ekonomi.
Dalam penilaian Al Jazeera yang ia sampaikan, Elmasry menekankan bahwa penilaian publik terhadap AS tidak hanya soal kemampuan teknis di lapangan, melainkan juga persepsi jangka panjang yang terbentuk dari rangkaian peristiwa di bulan Februari. Ia melihat celah antara narasi yang disampaikan dan gambaran yang terlihat dari pemantauan.
Ia juga menilai bahwa upaya yang dilakukan tidak otomatis menghapus rasa khawatir pelaku pelayaran. Kendati ada dukungan dan pengawalan, gambaran yang muncul tetap menunjukkan bahwa aktivitas di wilayah tersebut tidak kembali pada kebiasaan sebelum krisis, sehingga efeknya merembet pada cara pihak-pihak menilai tingkat risiko.
Sejalan dengan itu, Eyre menggambarkan bahwa langkah-langkah yang diambil akan terus membentuk strategi negara lain, terutama di Teluk. Pergeseran fokus diplomasi yang ia sebut dari Washington menuju kawasan terkait—serta perkiraan dampak ekonomi yang kian memburuk—membuat tekanan di Selat Hormuz tidak berhenti pada ranah keamanan.












