Internasional

Rusia Minta Kejelasan: Ratusan Orang Hilang setelah Serangan Ukraina di Kursk 2024

×

Rusia Minta Kejelasan: Ratusan Orang Hilang setelah Serangan Ukraina di Kursk 2024

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Russians seek answers over hundreds missing after Ukraine's 2024 incursion

jurnalistik.co.id – Di tengah perang yang terus membesar, keluarga-keluarga di wilayah Kursk kini menghadapi satu pertanyaan yang tidak kunjung terjawab: ratusan orang Rusia hilang setelah operasi Ukraina di kawasan itu pada 2024. Pemerintah daerah menyebut lebih dari 300 orang masih dinyatakan hilang, namun angka pastinya tidak jelas.

Salah satu dari mereka adalah Lyubov, yang terakhir berbicara dengan ibunya sehari setelah pasukan Ukraina menerobos masuk ke wilayah Kursk lebih dari dua tahun lalu. Sejak saat itu, komunikasi terputus, sementara keluarga mulai menanggung beban tanpa kepastian.

Lyubov mengatakan ia merasa ā€œkesal terhadap negara [Rusia]ā€, terutama karena sebagian besar warga memilih untuk tidak secara terbuka mengkritik invasi skala penuh yang dimulai pada Februari 2022. Dalam pengalamannya, bahkan ketika ada upaya pencarian, hasil yang didapat terasa jauh dari harapan.

Menurut Lyubov, sang ibu sempat menolak untuk meninggalkan desa di area Sudzha. Ia menduga penolakan itu dipengaruhi tayangan televisi pemerintah yang, dalam ingatannya, berulang kali meyakinkan penonton bahwa situasi ā€œterkendaliā€ dalam ā€œdua atau tiga hariā€ dan akan seperti sebelum krisis.

Lyubov juga menyoroti kegagalan otoritas untuk mencegah serangan pada Agustus 2024. Ia mempertanyakan bagaimana pasukan Ukraina bisa menyerbu dua pos perbatasan, membawa sekitar 40 tahanan, serta membom sebuah konvoi yang mengangkut prajurit Rusia.

Dalam enam hari, pasukan Ukraina berhasil merebut lebih dari 777 km persegi wilayah Rusia, sebagai bagian dari upaya untuk mengalihkan pasukan dari garis depan. Untuk kebanyakan periode delapan bulan berikutnya, sambungan telepon seluler dan internet dilaporkan mati.

Ketika ketidakpastian menyebar, jalur informasi yang seharusnya membantu keluarga justru menjadi medan saling klaim. Kementerian luar negeri Rusia berulang kali menuduh Ukraina melakukan kejahatan perang terhadap warga sipil, namun tuduhan itu ditolak di Kyiv sebagai tidak berdasar.

Upaya pencarian juga tidak berjalan seragam. Otoritas Rusia memperkirakan sekitar 2.000 orang masih berada di permukiman yang berhasil ditangkap militer Ukraina. Di tengah kondisi itu, sekitar 200 hampir pengirim menulis surat kepada Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, Presiden Rusia Vladimir Putin, serta Perserikatan Bangsa-Bangsa, agar diorganisasi koridor kemanusiaan untuk evakuasi warga sipil.

Namun, koridor semacam itu tidak pernah terlaksana. Menjelang akhir musim gugur, pertempuran terus berkobar ketika pasukan Rusia berupaya merebut kembali wilayah yang dikuasai Ukraina.

Lyubov dan beberapa orang lain yang kehilangan kontak dengan keluarga mulai membentuk kelompok-kelompok pencarian. Salah satu mekanisme yang muncul adalah mengumpulkan nama dan jejak dari rekaman video yang dipublikasikan oleh militer Ukraina dan jurnalis.

Seorang warga—yang kemudian bergabung dengan pencarian bersama—mulai menyusun daftar orang berdasarkan apa yang ia lihat di video. Dari proses itu, ia kemudian mencatat dugaan korban yang diyakini meninggal serta lokasi pemakaman. Awalnya, sekitar 1.000 nama terkumpul di daftar tersebut.

Lyubov sendiri juga mengajukan permohonan bantuan kepada Palang Merah dan kementerian dalam negeri setempat di Kursk, tetapi ia mengatakan tidak ada tanggapan. Dalam ruang hampa itu, keluarga-keluarga kian sulit membedakan mana informasi yang menolong dan mana yang justru menambah luka.

Pada awal 2025, komisioner hak asasi manusia Rusia menerbitkan daftar berisi 517 warga Kursk yang dilaporkan hilang. Tetapi, menurut keluarga-keluarga, daftar itu mencampuradukkan nama orang yang hilang dengan nama mereka yang sedang mencari.

Seorang perempuan muda yang orang tuanya juga dinyatakan hilang menyebut publikasi seperti itu sebagai bentuk ketidakmampuan dan hilangnya rasa hormat dasar terhadap manusia. Bagi kelompok keluarga, ini terasa seperti ā€œtamparan di wajahā€ karena informasi seharusnya memperjelas, namun justru menambah kebingungan.

Lyubov juga mengingat kerusakan besar yang dilaporkan di desa Darino pada akhir 2024. Otoritas menyebut sekitar 90% wilayah desa hancur akibat pertempuran, termasuk yang menimpa area tempat Lyubov tinggal bersama ibunya.

Setelah pasukan Rusia akhirnya kembali menguasai desa, tahap evakuasi mulai dilakukan bagi mereka yang selamat, sekaligus penanganan jenazah bagi yang tidak dapat diselamatkan. Dalam salah satu kontak yang kemudian muncul, seorang pengungsi menghubungi Lyubov dan memberi kabar bahwa ia tinggal bersama ibunya selama beberapa minggu terakhir.

Namun kabar itu membawa duka: ibu Lyubov meninggal dunia akibat cedera kepala, dalam situasi yang disebut tetap tidak jelas. Lyubov menambahkan bahwa beberapa orang lanjut usia lain juga meninggal, karena tidak mampu menghadapi kondisi perang.

Lyubov menunggu dengan sia-sia agar jasad ibunya segera dibawa keluar. Ia mengatakan keluarga-keluarga lain pun tidak mengetahui apakah kerabat mereka masih hidup atau sudah meninggal, serta di mana mereka sebenarnya berada. Keluhan yang mengemuka adalah tidak adanya pencarian yang nyata, dan ketiadaan daftar terpadu mengenai orang-orang yang hilang.

Lyubov mendengar bahwa tubuh tetangga yang meninggal bersama ibunya telah diambil dari Darino pada April. Namun sampai akhirnya, jasad ibunya sendiri tetap tidak ditemukan. Ketika ia berulang kali mencoba memperoleh jawaban dari otoritas, ia merasa tidak ada yang mau mendengarkan, karena selalu diulang bahwa lokasi itu berbahaya dan tidak ada penanganan yang akan dilakukan pada saat itu.

Dalam upaya pencarian sukarela, Ketua dewan desa setempat, Yuri Tkachev, ikut bergabung untuk mengambil jenazah warga sipil dari jalan atau dari ladang sekitar. Ia mengatakan sulit bagi warga untuk mengetahui nasib orang yang mereka cintai—apakah mereka ditahan, atau sudah meninggal, serta di mana tepatnya mereka wafat.

Biaya kantong jenazah dan bahan bakar untuk van evakuasi, menurut keterangan, dibayar oleh para relawan atau berasal dari donasi. Lyubov menyebut otoritas tidak menanggung pendanaan tersebut.

Meski pejabat regional bertemu kelompok pencarian beberapa kali pada paruh kedua 2025, keluarga-keluarga melaporkan pertemuan itu tidak membawa perubahan berarti. Ketidakpastian yang panjang membuat pencarian berubah dari sekadar upaya informasi menjadi proses yang melelahkan secara psikologis.

Lyubov baru mendapatkan petunjuk pada Oktober tahun lalu, ketika ia mengunjungi fasilitas pemulasaraan jenazah saat berada di ibu kota regional Kursk. Ia menanyakan apakah ada jasad yang tidak teridentifikasi, untuk seorang perempuan kelahiran 1949 dari desa Darino.

Petugas kemudian menampilkan layar laptop. Lyubov segera mengenali ibunya dari foto yang diambil pada April 2025—posisinya tertelungkup di jalan dengan lutut ditekuk. Ia berusaha tidak terlalu lama menatap, namun tetap mengenali wajah dan pakaian lama yang biasa dipakai ibunya saat bekerja.

Lyubov juga mengatakan ia pernah menyerahkan sampel DNA pada Januari, tetapi kemudian diberi tahu bahwa sampel tersebut hilang. Akibatnya, jenazah ibunya tetap tidak teridentifikasi selama beberapa bulan.

Ia berharap bisa memakamkan ibunya di desa asal, namun untuk saat ini hal itu tidak memungkinkan. Saat ini, ibunya telah dikremasi, dan abu disimpan di apartemen Lyubov di Belgorod, sekitar 100 mil dari Kursk.

Menurut Lyubov, kekecewaannya bukan hanya pada lama hilangnya kabar, tetapi pada rangkaian kegagalan yang menurutnya terjadi: negara tidak mampu mencegah penyusupan, tidak melakukan evakuasi ketika peluang itu masih ada, dan meyakinkan warga bahwa situasi tidak serius.

Saat diminta berkomentar, Lyubov menyebut tidak ada respons dari gubernur Kursk, komisioner hak asasi manusia Rusia, maupun Palang Merah Rusia. Di sisi lain, pihak Ukraina menyatakan bahwa semua warga sipil yang mereka evakuasi dari wilayah Kursk telah diserahkan kepada Rusia.

Lyubov menggambarkan kembali masa sebelum perang semakin merajalela. Ia mengingat saat ia biasa bersepeda melintasi perbatasan ke Ukraina untuk berbelanja kebutuhan harian. Kini, ia menyesali bahwa desa-desa yang dulu masih ada dan saling dikunjungi tak lagi tersisa seperti sebelumnya.

Di balik angka ā€œlebih dari 300ā€ yang disebut pejabat, kisah Lyubov menunjukkan bagaimana ketidakjelasan statistik dapat berubah menjadi kebingungan nyata: tidak ada satu daftar yang diyakini akurat, komunikasi yang putus berbulan-bulan, dan proses identifikasi yang datang terlalu terlambat untuk menyelamatkan harapan keluarga.