jurnalistik.co.id – Di level elit, setiap keputusan kecil soal nutrisi dan pemulihan bisa ikut menentukan selisih performa. Karena itu, suplemen sering diposisikan sebagai bagian dari strategi yang menyasar “keuntungan tipis” namun berdampak.
Namun, penggunaan suplemen di dunia olahraga tidak pernah berdiri sendiri. Atlet juga dituntut menjaga kebersihan dari risiko pelanggaran anti-doping, sekaligus memastikan asupan mereka memang tepat sasaran.
Dari ide “senjata rahasia” hingga ekosistem sains
Jejak suplemen sebagai praktik performa di Inggris mulai mengemuka sejak Olimpiade 1992 di Barcelona. Saat itu, puluhan atlet dari Great Britain dikabarkan menggunakan produk baru yang diyakini meningkatkan massa otot dan performa atletik, populer dengan sebutan “wonder pill”. Dalam pembicaraan para atlet, nama yang berulang adalah kreatin.
Menurut Prof Graeme Close, profesor fisiologi manusia di Liverpool John Moores University, penggunaan suplemen di kalangan atlet ternyata meluas. Ia menyebut ada laporan studi yang mengatakan “mungkin sampai 90% atlet mengonsumsi suplemen”, lalu menambahkan, “I often jokingly say that means 10% are lying,”—sebuah sindiran bahwa sebagian sisanya tidak terbuka.
Close melanjutkan bahwa pada tim olahraga yang ia tangani, angka itu bisa lebih tinggi: “I think that’s probably closer to 100% of athletes will be taking some form of supplementation.”
Dengan logika itu, pertanyaan besarnya bukan sekadar “apa yang diminum”, tetapi “mengapa” dan “bagaimana” atlet tetap berada dalam koridor aturan ketat. Pada prinsip strict liability, atlet bertanggung jawab atas apa pun yang masuk ke tubuh mereka, termasuk saat suplemen dipakai tanpa niat melanggar.
Kreatin: contoh paling mapan, dari makanan hingga kebutuhan energi
Close menekankan bahwa upaya pertama tetap memenuhi kebutuhan nutrisi lewat makanan. Kreatin memang secara alami ada dalam daging dan ikan. Tetapi, untuk mencapai jumlah yang setara kebutuhan, ia mengatakan atlet “would need the best part of a kilogram of raw chicken a day to get the amount of creatine you need.”
Masalahnya, mengonsumsi unggas mentah tidak aman karena risiko keracunan dari bakteri berbahaya. Di sisi lain, tubuh manusia sebenarnya juga memproduksi kreatin secara alami di ginjal, hati, dan pankreas.
Kreatin berperan sebagai sumber energi cepat bagi otot, terutama penting untuk aktivitas berdurasi singkat dan intens, seperti sprinting. Menurut cerita yang disorot, lonjakan kreatin sebagai suplemen terjadi ketika temuan ilmiahnya dibawa ke ekosistem olahraga sejak dekade 1990-an.
Dalam konteks Olimpiade 1992, investigative reporter Doug Gillon memperoleh informasi mengenai “secret trial” yang melibatkan atlet Inggris. Ia juga melihat sebuah kotak suplemen kreatin dengan Ergomax C150 berupa tablet effervescent. Ia menulis bahwa bila klaim ilmuwan—kreatin bisa meningkatkan explosive athletic performance sebesar 1-3%—terbukti, maka “sport may never be the same again”.
Pada Olimpiade berikutnya pada 1996, estimasi menyebut sekitar 80% atlet sudah mengonsumsi kreatin. Sejak saat itu, kreatin menjadi arus utama dan riset menunjukkan adanya kemungkinan manfaat kognitif selain efek fisik.
Close juga mengutip bahwa menurut Journal of the International Society of Sports Nutrition, terobosan kreatin di era 1990-an “launched a new era in sports nutrition” dan “sparked exploration into other supplements”.
Di tingkat industri, pasar suplemen diet global dinilai bernilai $209.5bn (ÂŁ154bn) pada 2025 dan diproyeksikan naik menjadi $431.7bn (ÂŁ317.4bn) pada 2033 menurut Grand View Research.
Suplemen sebagai “pelengkap”, bukan pengganti
Close memandang suplemen bukan langkah awal, melainkan “final piece of the jigsaw”. Ia menjelaskan bahwa yang dibicarakan adalah “small margins of benefit”, sementara atlet yang fokus pada makanan biasanya sudah mengunci “hal besar” dari pola makan mereka.
“So they’re seeing great performance benefits because their overall diet is immaculate,” kata Close. Ia menambahkan bahwa mereka mungkin melewatkan detail “one per-centers”, tetapi “they’ve really nailed the 99 per-centers.”
Ia bahkan menyatakan pendekatan ini sering membuat atlet lebih baik dibanding mereka yang mengejar “one per-centers” tanpa memberikan perhatian cukup pada 99% faktor utama.
Nicole Frain, pesepeda (cyclist) Australia, menegaskan pandangan yang serupa: “they are called sport supplements.” Baginya, suplemen ada untuk melengkapi hal-hal yang sudah dikerjakan benar. “I don’t think supplements are the answer to fix my problems,” ujarnya, seraya menekankan fondasi: “You need to be eating a balanced diet, training well, sleeping right, recovering well, hydrating – all of those things – before we add in all of the extras.”
Daftar yang sering dipakai: protein, kreatin, vitamin D, dan karbohidrat
Dalam daftar suplemen yang umum ditemui pada atlet yang ia tangani, Close menempatkan suplemen protein di urutan teratas, lalu kreatin dan vitamin D. Baginya, protein membantu memaksimalkan perbaikan otot dan berkontribusi pada pertumbuhan otot.
Kreatin dinilai sebagai sumber energi cepat untuk otot, sedangkan vitamin D penting untuk kesehatan tulang dan mendukung fungsi otot.
Berita Terkait
Selain itu, karbohidrat dalam bentuk carbohydrate gels juga sering digunakan. Close menyebut peran gel dalam pencapaian lari maraton kurang dari dua jam oleh Sabastian Sawe, pelari jarak jauh Kenya, yang terjadi “earlier this year”.
“As sport nutritionists we were all fascinated at what the fuelling programme was, and it was the sports drinks and gels that played a huge part of that fuelling,” kata Close. Ia menjelaskan adanya perhitungan kebutuhan karbohidrat tambahan agar mampu menembus target dua jam, yang melibatkan konsumsi “over 100 grams of supplemental carbohydrate … per hour”.
Ia juga menyampaikan laporan dari maraton sub-dua jam berikutnya: “it was 110 grams of carbohydrate per hour that was achieved.”
Anti-doping: batasnya ada di aturan, risikonya ada di kepatuhan
Meskipun suplemen dapat meningkatkan performa, istilah “performance enhancing” terasa tidak nyaman karena asosiasinya dengan zat terlarang dan pelanggaran aturan anti-doping. Close menerangkan penentuannya mengikuti kriteria Badan Anti-Doping Dunia (Wada), yaitu harus memenuhi “two out of three criteria: dangerous to health, performance enhancing, and against the spirit of sport”.
“So just because something enhances performance, if it’s not dangerous to health and not against the spirit of sport, Wada will not touch it,” jelasnya. Ia juga memberi contoh kreatin sebagai kasus yang tidak masuk daftar larangan Wada. “Though something like an anabolic steroid … it’s dangerous to health and it’s performance enhancing – that hits all three.”
Meski begitu, konsumsi suplemen tetap menyimpan risiko anti-doping. UK Anti-Doping menegaskan, “No guarantee can be given that any particular supplement is free from prohibited substances,” dan atlet diminta “be vigilant” saat menggunakannya.
Jika seseorang terdeteksi positif mengandung zat terlarang, konsumsi yang tidak disengaja tetap dapat berujung pada sanksi empat tahun, sama seperti jika ada niat.
Untuk menekan risiko, ada program pengujian suplemen yang melakukan batch test sebelum produk dijual. Salah satunya Informed Sport, yang menyebut “as many as one in 10 supplements is contaminated” dengan bahan yang dilarang dalam olahraga.
Informed Sport juga merujuk studi Anti-Doping Knowledge Centre yang menunjukkan kontaminasi produk bertanggung jawab atas 8% dari seluruh pelanggaran anti-doping antara 2005 dan 2022. Close menekankan bahwa skema jaminan kualitas dapat mengurangi risiko, tetapi “do not eliminate the risk” sepenuhnya.
Jika atlet menerima risiko tersebut, mereka perlu pencatatan yang rapi. Heidi Long, atlet dayung dari Great Britain, menuturkan bahwa baginya perlu spreadsheet. “I’ve recorded the batch number of every product that I’ve taken and its expiry date because if you take it after the expiry date the Informed Sport [certification] is no longer viable,” katanya.
Close menambahkan ia juga melakukan kunjungan ke pabrik untuk memeriksa proses manufaktur, karena risiko gagal tes obat dinilainya sangat besar. Ia juga mengingatkan bahwa risiko tidak hanya milik atlet elit: masyarakat umum bisa membeli suplemen dari internet yang diproduksi di lingkungan tak jelas, “made in somebody’s garage”, tanpa mengetahui proses produksinya.
Ia mengarah pada studi produk kreatin yang menemukan “there is no creatine in them”, sehingga uang terbuang. Pada skenario terburuk, produk tersebut bisa memuat zat yang membahayakan kesehatan.
Kesimpulannya, pesan utamanya adalah peran suplemen memang ada, tetapi “the safety considerations are the key factor”.
Alternatif “food-first”: kembali ke bahan pangan utuh
Meski tren suplemen bergulir terus, beberapa atlet memilih kembali ke pendekatan dasar: memperkuat pola makan dengan makanan utuh. Close menyebut pendekatan “food-first” atau “food-only” sebagai titik awal bagi atlet.
Di sana ada contoh seperti kunyit untuk manfaat anti-inflamasi, pickle juice untuk membantu meredam kram, serta makanan tinggi nitrat seperti beetroot sebelum kompetisi.
Teff: gandum Ethiopia yang kini masuk radar nutrisi performa
Komponen terbaru yang mendapat perhatian adalah teff, gandum kuno dari Ethiopia. Dipakai selama ribuan tahun dalam diet tradisional Afrika Timur, teff kini mulai dikenal luas dalam nutrisi performa.
Dibandingkan gandum populer seperti wheat, rice, dan quinoa, teff disebut memiliki kandungan mineral yang tinggi, kaya kalsium, zat besi, dan vitamin C. Teff juga bersifat naturally gluten-free dan baik untuk kesehatan pencernaan.
Keunikan teff adalah statusnya sebagai protein “complete”, yang berarti menyediakan semua sembilan asam amino esensial yang dibutuhkan tubuh.
Karena atribut tersebut, teff menarik perhatian sejumlah atlet kelas dunia, dari Haile Gebrselassie—maraton juara Olimpiade—hingga Venus Williams, peraih tujuh kali gelar Grand Slam nomor tunggal. Dalam perkembangan berikutnya, teff mulai lebih sering ditemukan di rak supermarket Inggris.
Boxer asal Inggris, Fran Hennessy, mengenal teff dari ahli gizi dan menjadikannya bagian dari rutinitas harian. Ia berkata, “I’ve never looked back,” lalu menambahkan, “What I’m putting in my body is good fuel and energy and teff has so much.”
Menurutnya, teff membuat tubuhnya lebih berenergi sebelum latihan dan memberi serat yang dibutuhkan. Ia juga mengaitkan performa sekaligus pemulihan dengan teff, dengan menyatakan bahwa teff menjadi kunci dalam proses recovery.












