jurnalistik.co.id – Pemilu umum Swedia akhir pekan ini diprediksi berlangsung ketat, dengan persaingan antara dua kubu politik besar yang dipisahkan selisih tipis. PM konservatif Ulf Kristersson menegaskan, jika ia tetap memimpin pemerintahan, posisi kabinet akan diberikan kepada mitra-mitra sayap kanan yang selama ini mengusung agenda lebih keras.
Hasil jajak pendapat terbaru menunjukkan kubu kiri memiliki keunggulan yang masih sangat sempit. Kubu kiri mengusung Magdalena Andersson dari Partai Demokrat Sosial agar kembali memimpin negara, sementara kubu kanan harus menghadapi kemungkinan bergesernya dukungan karena kekhawatiran atas peluang Sweden Democrats (SD) masuk pemerintahan.
Beberapa isu disebut menjadi penentu dalam kampanye menjelang pemungutan suara, mulai dari keamanan nasional, kejahatan geng, hingga belanja kesejahteraan. Di saat yang sama, masuknya SD yang dikenal dengan sikap anti-imigrasi dapat memengaruhi pilihan pemilih, terutama karena mereka sebelumnya belum memegang jabatan menteri.
Swedia memiliki konfigurasi politik yang terbiasa dengan koalisi dan pemerintahan minoritas. Secara umum, terdapat dua kubu besar: kubu kanan diisi empat partai, sedangkan kubu kiri juga terdiri dari empat partai. Untuk pemilihan parlemen, lebih dari delapan juta orang berhak memberikan suara dalam kontestasi di Riksdag.
Dalam survei yang dipesan oleh layanan berita Swedia, Ekot, pada Jumat, kubu kiri memperoleh 50,8% suara, sedangkan kubu kanan meraih 47,6%. Selisihnya hanya 3,2 poin persentase, sehingga perebutan kendali pemerintahan masih berada pada rentang yang rapat. Di antara partai-partai, Demokrat Sosial unggul dengan 28,6%, sementara SD berada di belakang dengan 18,3% menurut hasil survei Ekot.
Keunggulan kubu kiri juga muncul di jajak pendapat lain yang dirilis pada hari yang sama. Partai Demokrat Sosial telah memimpin pemerintahan Swedia secara berulang sejak Perang Dunia II, dan selama beberapa dekade menjadi kekuatan politik dominan di negara tersebut.
Berita Terkait
Sebaliknya, SD memiliki sejarah yang jauh berbeda dalam penerimaan arus utama. Partai ini didirikan pada era 1980-an oleh figur yang pernah bergaung dengan simpati terhadap gagasan Nazi, dan selama bertahun-tahun kerap dijauhi oleh kalangan mainstream politik. Namun, titik balik terjadi pada pemilu 2022, ketika SD berhasil menjadi partai terbesar kedua di Swedia setelah kampanye yang sangat menonjol pada isu imigrasi dan kejahatan kekerasan.
Sejak saat itu, SD menawarkan dukungan dari luar kepada koalisi yang saat ini berada di posisi tengah-kanan. Koalisi tersebut dikenal telah memperketat kebijakan migrasi secara signifikan, termasuk penghapusan status izin tinggal permanen bagi pengungsi serta peningkatan deportasi. Walau begitu, anggota parlemen SD hingga kini belum pernah memegang peran kabinet atau jabatan menteri.
Menjelang pemilu, SD juga menghadapi kontroversi selama masa kampanye. Ada tuduhan bahwa seorang pejabat partai menyebarkan pesan pro-Rusia melalui media sosial. Kristersson menyatakan bahwa pejabat tersebut harus diberhentikan apabila tuduhan terbukti benar, sedangkan pemimpin SD, Jimmie Åkesson, mengatakan partainya tengah menyelidiki klaim tersebut.
Menurut Nicholas Aylott, dosen ilmu politik di Södertörn University, peluang SD masuk pemerintahan akan menjadi langkah besar menuju normalisasi partai tersebut. Ia mengatakan, masuknya SD ke kabinet “would be another big step in the normalisation of the party”, tetapi menambahkan bahwa isu itu bukan hal utama bagi pemilih. “That said, it might still be important for the election outcome,” ujarnya.
Aylott juga menjelaskan kemungkinan perpindahan pilihan dari sebagian pemilih yang sebelumnya condong ke partai-partai tengah-kanan. Ia menyebut bahwa ada pemilih yang beralih ke kubu oposisi karena merasa tidak nyaman dengan prospek munculnya menteri-menteri dari SD. Ia menilai jumlahnya mungkin tidak besar, namun “they might just tip the balance against the incumbent right-wing bloc,” katanya.
Pemilu Swedia kali ini berlangsung sepekan setelah peristiwa politik di Jerman. Di negara bagian timur Saxony-Anhalt, Alternative for Germany (AfD) nyaris memenangkan mayoritas. AfD memimpin perolehan suara dengan hampir 44%, dan pemimpin lokalnya, Ulrich Siegmund, mengatakan ia tengah berdiskusi dengan partai lain serta sejumlah anggota parlemen lainnya dengan harapan dapat mengambil alih kendali parlemen.
Dengan selisih survei yang hanya 3,2 poin dan sejumlah faktor politik yang saling bertabrakan, siapa yang akhirnya memenangkan pemerintahan kemungkinan ditentukan oleh respons pemilih terhadap isu keamanan, kesejahteraan, kriminalitas geng, serta sikap terhadap imigrasi—termasuk apakah SD akan memperoleh ruang nyata di kabinet.






