Internasional

Arab Saudi Tutup Pipa Minyak East-West setelah Serangan Drone dari Irak

×

Arab Saudi Tutup Pipa Minyak East-West setelah Serangan Drone dari Irak

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Saudi Arabia shuts key oil pipeline after drone attack launched from Iraq

jurnalistik.co.id – Arab Saudi menutup sementara pipa minyak East-West setelah serangan drone yang dilaporkan berasal dari Irak, di tengah eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang terus melebar.

Menurut pernyataan yang disampaikan Riyadh pada Jumat, penutupan itu dilakukan sebagai langkah kehati-hatian. Penjelasan pemerintah Arab Saudi muncul setelah citra satelit menunjukkan area yang hangus serta kepulan asap di sekitar lokasi terdampak.

Iraq menyatakan telah melakukan tindakan dan membuka investigasi setelah mengakui serangan drone terhadap pipa East-West milik Arab Saudi berasal dari salah satu provinsi di wilayahnya yang berbatasan dengan Iran. Konflik di kawasan, termasuk perkembangan di Yaman, juga disebut ikut menambah tekanan pada jalur pengiriman energi global.

Pipa East-West sepanjang 1.200 km (745 mil) berperan penting dalam menopang ekspor minyak mentah Arab Saudi. Dengan kapasitas tersebut, pipa ini membantu Arab Saudi—sebagai eksportir minyak mentah terbesar di dunia—mengurangi ketergantungan pada jalur Selat Hormuz.

Penutupan sebagai langkah pencegahan

Arab Saudi menyebut serangan itu menyebabkan sejumlah cedera dan kerusakan, sementara penilaian terhadap dampaknya masih berlangsung. Penutupan pipa dilakukan setelah peristiwa tersebut, guna menjaga keselamatan fasilitas dan mencegah risiko lanjutan.

“The Kingdom of Saudi Arabia affirms that it reserves its right to take all necessary measures to safeguard its sovereignty and security, protect its facilities, and ensure the safety of its citizens and residents,” demikian bunyi pernyataan yang dikutip dari pihak kementerian luar negeri Arab Saudi.

Pemerintah Arab Saudi juga menyatakan memilih tidak melakukan respons balasan pada tahap ini. Alasannya, menurut kementerian luar negeri, keputusan itu diambil setelah adanya panggilan dari Perdana Menteri Irak.

Pernyataan resmi Arab Saudi menekankan bahwa negara tersebut akan “support the efforts of the Iraqi government” untuk “prevent attacks” yang diluncurkan dari Irak terhadap negara-negara tetangga. Fokus utamanya adalah pencegahan serangan dari wilayah yang berdekatan dan penjaminan keamanan infrastruktur strategis.

Dari sisi Irak, kantor perdana menteri menyebut komandan operasi di wilayah Maysan telah dicabut dari jabatannya. Maysan digambarkan sebagai provinsi yang berbatasan dengan Iran, dan pemecatan itu dilakukan setelah konfirmasi bahwa serangan drone memang diluncurkan dari wilayah tersebut.

Media juga melaporkan bahwa pipa tersebut telah memasok sekitar 4% hingga 5% dari pasokan minyak global, berdasarkan keterangan yang dirujuk dari Reuters. Rujukan tersebut memakai data pelacakan kapal serta penilaian para analis.

Efek berantai di rute energi regional

Peristiwa ini datang pada saat terjadi kemajuan besar oleh pemberontak Houthi yang didukung Iran di Yaman. Dalam laporan disebutkan, perkembangan itu meningkatkan tekanan pada rute pengiriman minyak global ketika perang AS-Iran memasuki bulan ke-7.

Di Yaman, Houthi dilaporkan merebut kendali atas sebagian besar garis pantai negara tersebut. Kelompok itu mengklaim memiliki kontrol atas Selat Bab al-Mandab, yang menjadi gerbang menuju Laut Merah dan Jalur Terusan Suez.

Meski demikian, kelompok Houthi juga menyampaikan bahwa pelayaran masih “safe for all companies except for Saudi vessels”. Pernyataan tersebut menegaskan adanya pengecualian terhadap kapal-kapal milik Arab Saudi.

Pemanasan konflik di wilayah itu dipandang mempengaruhi persepsi pasar energi. Dalam konteks harga minyak, disebutkan harga minyak mentah sempat menembus lebih dari 100 dolar AS per barel untuk pertama kalinya sejak bulan Juli.

Menanggapi serangan drone terhadap pipa Arab Saudi, Dewan Kerja Sama Teluk (GCC)—yang terdiri dari Uni Emirat Arab, Bahrain, Oman, Qatar, dan Kuwait—juga mengeluarkan pernyataan kecaman. GCC menilai serangan tersebut merupakan eskalasi berbahaya dan ancaman yang tidak dapat diterima terhadap keamanan Arab Saudi serta integritas teritorialnya.

“This attack represents a dangerous escalation and an unacceptable threat to the security of the Kingdom of Saudi Arabia, its territorial integrity, and its vital installations, as well as a flagrant violation of the principles of international law,” kata Sekretaris Jenderal GCC, Jasem Mohamed Albudaiwi.

Dengan adanya penutupan pipa East-West, Arab Saudi berada di bawah perhatian yang lebih besar terkait ketahanan pasokan dan stabilitas rute energi regional. Sementara itu, proses penilaian kerusakan terus dilakukan, dan klaim asal serangan yang merujuk ke wilayah berbatasan dengan Iran menjadi bagian kunci dari investigasi yang sedang berlangsung.

Berita ini dipublikasikan pada 12 September 2026 pukul 05:20 BST, dan kemudian diperbarui 28 menit sebelum laporan dirilis. Informasi yang disampaikan mencakup penjelasan dari kedua belah pihak, termasuk penanganan internal Irak terhadap dugaan pelibatan wilayah Maysan serta respons kebijakan Arab Saudi terkait keselamatan instalasi.