jurnalistik.co.id – Keterbatasan penglihatan sering membuat momen kehamilan terasa tidak sepenuhnya “terjangkau” oleh indra. Namun kini, orang tua tunanetra mendapatkan cara baru untuk merasakan proses pemindaian bayi melalui model 3D yang bisa diraba.
Saya sendiri tidak pernah bisa mengalami pemindaian bayi secara langsung. Tetapi bagi orang tua tunanetra seperti saya, pemindaian tersebut kini bisa berubah menjadi sesuatu yang dapat disentuh, bukan hanya dijelaskan oleh orang lain.
Perubahan ini mulai terasa ketika orang tua bisa menerima model taktil berbasis hasil scan. Model 3D tersebut memungkinkan mereka memiliki momen khusus saat menunggu kelahiran, dengan detail yang cukup untuk membangun pemahaman tanpa bergantung pada interpretasi pihak lain.
Reece Finnegan-Knight adalah salah satu orang pertama yang merasakan model 3D hasil pemindaian bayinya. Ia telah tunanetra sejak remaja, bersama istrinya, Sophy, mengikuti skema uji coba yang melibatkan Guide Dogs.
Pada pemeriksaan rutin usia kehamilan 12 minggu, Sophy berusaha menjelaskan apa yang ia lihat, tetapi Reece sulit merasa benar-benar terlibat dalam momen tersebut. Bagian “terasa” inilah yang kemudian berubah ketika model fisik dari pemindaian mulai disediakan.
Setelah pemindaian dibagikan kepada keluarga, Reece mengatakan ia merasa situasinya lebih banyak dipahami oleh orang-orang terdekatnya dibandingkan dirinya. Ia menilai bahwa pada tahap awal, informasi yang sampai padanya lebih terbatas karena ia tidak bisa merasakan visualnya secara langsung.
Saat menjalani pemindaian 20 minggu, Reece menilai pengalamannya justru lebih positif. Ia mengatakan pemeriksa menjelaskan semuanya kepadanya, serta menerangkan mengapa apa yang tampak di layar berarti kondisi bayi terlihat baik.
Di kesempatan itu, Reece juga mendapatkan model dari pemindaian gambar 20 minggu tersebut. Ia menyebut bahwa ia tidak bisa berhenti merasakan bentuknya, dan menemukan bahwa akses yang ia terima terasa “lebih utuh” karena tidak memerlukan deskripsi atau interpretasi dari orang lain.
Menurutnya, model itu memiliki detail yang membuat ia tahu “apa yang apa”. Bagi Reece, hal tersebut membuat semuanya terasa lebih nyata, karena ia bisa membangun pemahaman langsung melalui sentuhan.
Inovasi ini juga mendorong narasi reflektif tentang perjalanan kehamilan dan pengasuhan. Penulis menyampaikan bahwa sebelum mencoba memiliki anak, ia meneliti berbagai hal yang dibutuhkan, termasuk cara menggunakan aplikasi khusus untuk membaca hasil tes kehamilan, sampai perlengkapan kecil yang bisa membantu memantau rutinitas balita yang bergerak cepat.
Ia kemudian menemukan komunitas orang-orang yang mengalami situasi serupa dan siap berbagi cara mengatasi tantangan sehari-hari. Namun satu dekade berselang, kemajuan teknologi membuat pilihan dukungan semakin luas, termasuk untuk kebutuhan para orang tua tunanetra selama proses kehamilan.
Kim dan Sean Randall melihat kemajuan teknologi sebagai salah satu perubahan terbesar dalam rentang 15 tahun sejak kelahiran anak-anak mereka. Kim memiliki anak remaja dan seorang anak berusia 11 bulan, dan untuk anak mereka yang paling kecil, catatan kehamilan tersedia dalam bentuk aplikasi yang dapat diakses dengan pembaca layar di ponsel.
Kim mengatakan cara itu membuatnya merasa sejajar dengan orang tua hamil lain. Ia juga merasa lebih punya kendali karena bisa memeriksa catatan dan hasil tes ketika ia menginginkannya, tanpa harus menunggu seseorang membacakannya.
Untuk pemindaian 20 minggu, Sean mencari tahu makna angka-angka berbeda yang muncul pada USG, seperti panjang tulang paha atau lingkar kepala. Ia kemudian menggunakan aplikasi pembaca layar berbasis AI agar teks bisa dibacakan dan gambar bisa dijelaskan.
Bagi sebagian orang tua, metode berbasis audio ini justru terasa lebih nyaman daripada model 3D. Mereka mengatakan bahwa deskripsi suara atas gambar bisa memberi detail yang lebih lengkap dibandingkan sentuhan fisik pada model.
Berita Terkait
Meski demikian, tantangan tidak berhenti di ruang pemeriksaan scan. Reece, seperti banyak orang tua tunanetra lainnya, mengatakan ia ingin jauh lebih siap saat bayi lahir, supaya tidak “mengganggu” dan tidak merasa menjadi beban bagi orang lain.
Ia menyebut beberapa langkah yang ia lakukan, seperti memberi label pada pakaian, menuliskan Braille pada buku bayi, serta menata tas bayi agar ia tahu letak semua yang dibutuhkan. Langkah-langkah kecil ini memberinya rasa kendali menjelang kedatangan bayi.
Kim juga menjalankan grup di Facebook dan WhatsApp untuk ibu-ibu tunanetra. Dari kumpulan pengalaman tersebut, mereka menyusun berbagai tips praktis tentang apa yang perlu disiapkan setelah bayi tiba.
Di antara saran yang disebutkan adalah membawa matras lipat sendiri untuk perubahan popok, dan selalu memastikan semua perlengkapan sudah berada di dekat tangan. Saat mengganti popok, jika ada tanda akan berhenti lebih dulu, disarankan tetap membersihkan dengan kain tisu/handuk sesuai kebutuhan, sekaligus menggunakan krim penghalang karena awal ruam popok bisa sulit dirasakan.
Mereka juga menyarankan memberi tanda yang bisa diraba pada spuit atau sendok takar yang digunakan untuk menyiapkan susu, agar orang tua tahu sampai titik pengisian yang benar. Selain itu, memilih gendongan bayi atau kereta dorong yang bisa ditarik dan didorong, terutama saat berjalan dengan anjing pemandu atau tongkat.
Ketika bayi mulai belajar berjalan, bel kecil yang dipasang di pakaian disebut membantu untuk mengetahui posisi mereka di rumah. Saat waktu menyapih tiba, kursi makan yang bisa dibersihkan dengan lap serta alas anti air di bawahnya dapat membantu mengendalikan kekacauan dan memahami apa yang sudah dimakan serta apa yang jatuh di lantai.
Royal National Institute of Blind People (RNIB) juga merilis panduan bagi orang tua yang sedang hamil maupun yang sudah memiliki anak kecil. Panduan tersebut antara lain menekankan penggunaan pengaman seperti baby gate untuk membatasi akses dapur ketika seseorang menangani sesuatu di oven, atau ketika harus menerima tamu di pintu masuk.
Bagi orang tua yang memiliki sebagian penglihatan, Kim mengatakan anak bisa dipakaikan dengan pakaian berwarna cerah agar lebih mudah dipantau saat berada di luar rumah. Ia pernah menyebut ia memasukkan anak-anaknya dalam pakaian yang “bisa diraba”, sehingga ia tidak mengambil anak yang salah.
Kim juga mencontohkan salah satu favoritnya adalah kemeja bergambar kastel, dengan detail yang bisa dikenali saat pintu dibuka. Saat anaknya mulai berjalan, ia menerapkan kebiasaan memegang tangan, sekaligus memakai strap pergelangan agar anak tidak lari ketika mencoba kabur.
Pada pengalaman lain, narator menyebut klip pakaian dan penataan pakaian sebagai cara menjaga barang tetap teratur. Ia juga mengingat kesulitan mencocokkan kaus kaki dengan gaya dan warna yang sama, bahkan hingga satu dekade setelahnya, karena perbedaan kecil bisa membuat pasangan terasa sulit dikenali.
Jika dua item terasa mirip tetapi warnanya berbeda, ia menyarankan memotong label pada salah satu agar membedakannya lebih mudah. Bagi keluarga yang sedang menyiapkan kelahiran, langkah-langkah seperti ini sering kali menjadi fondasi agar rutinitas berjalan lebih percaya diri.
Reece dan Sophy masih berada di awal perjalanan mereka, tetapi mereka berupaya memastikan persiapan yang matang untuk tahap berikutnya. Menjelang tanggal perkiraan persalinan yang semakin dekat, mereka memperoleh tur fasilitas rumah sakit sebagai kebutuhan aksesibilitas.
Bagi Reece, mengetahui tata ruang di unit kebidanan sebelum hari H membuatnya lebih mandiri. Ia berharap hal itu juga membuatnya mampu mendukung Sophy sebagai pasangan kelahiran saat proses persalinan berlangsung.
Penulis menutup dengan rasa terima kasih atas orang tua tunanetra terdahulu yang telah menemukan “jalan pintas” saat menghadapi tantangan. Komunitas semacam itu, katanya, tersedia dan siap menjadi sumber dukungan ketika orang tua tunanetra membutuhkan penguatan.
Dan ketika situasi terasa seperti akan berhenti, pesan yang ingin ditekankan adalah untuk tetap melanjutkan dengan penuh ketekunan—karena, seperti yang sering ditekankan dalam berbagai pengasuhan, “keep wiping” adalah bagian dari perhatian kecil yang bisa membuat perbedaan besar.










