Internasional

Kebun binatang bantu selamatkan siput langka yang kini hanya hidup di satu danau Wales

×

Kebun binatang bantu selamatkan siput langka yang kini hanya hidup di satu danau Wales

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Zoos help to save snail found in only one lake in Wales

jurnalistik.co.id – Upaya penyelamatan satu spesies siput air tawar langka sedang digerakkan oleh sejumlah kebun binatang di Inggris, dengan fokus pada kelangsungan makhluk yang kini tersisa di satu perairan saja di Wales.

Spesies itu adalah siput berlendir dengan nama ilmiah Myxas glutinosa, yang dikenal memiliki mantel “glutinous” berwarna kecokelatan dengan kilau butiran emas di sekitar cangkang yang sangat rapuh. Walau ukurannya tak lebih dari seujung jari, siput ini memiliki antena yang proporsinya tampak “lucu” hingga membuat konservasionis Ian Hughes menyamakannya dengan “big floppy ears”.

Saat ini siput tersebut hanya ditemukan di Llyn Tegid, danau alam terbesar di Eryri National Park yang juga dikenal sebagai Snowdonia. Dahulu, siput yang sama tersebar luas di perairan Inggris Raya, tetapi kini keberadaannya menyempit sampai titik yang sangat terbatas.

Hughes menggambarkan misi ini sebagai sesuatu yang membentuk hidupnya. Ia mengatakan, “Beguiled by their cuteness,” dan menyebut perlindungan moluska yang terancam itu sebagai misi yang “life-defining”.

Di kebun rumahnya, Hughes bahkan sempat mengalami kondisi ketika siput yang ia pelihara lebih banyak di tangki halaman belakang dibandingkan jumlah yang pernah terlihat di alam. Dalam laporannya, ia juga menyatakan koleksinya kini mencapai sekitar 2,000 siput yang dipelihara dalam tangki buatan di kebun.

Nama “glutinous” merujuk pada selaput lendir yang membungkus bagian bawah cangkang, termasuk mantel transparan yang melapisi tubuh siput. Siput ini juga memakan alga dan kerap dipandang sebagai indikator perairan dan ekosistem danau serta sungai yang sehat.

Namun, keberadaannya terdesak hingga punah di wilayah Inggris lainnya. Penyebab yang banyak dikaitkan adalah air yang tercemar serta berkurangnya habitat yang sesuai, membuat siput ini hilang dari banyak tempat di Inggris.

Sejak 2014, Hughes melakukan pengumpulan dan kajian di Llyn Tegid dengan izin dari Natural Resources Wales. Ia masuk ke danau untuk mengamati spesies itu, sekaligus merancang serta memasang tempat perlindungan kecil dari beton yang ditempatkan langsung di badan air.

Untuk memastikan populasi tetap bertahan, Hughes juga membangun populasi penangkaran di rumahnya di Llanarth, melalui fasilitas rumah kaca tempat siput dipelihara. Dari pengamatannya, ia sempat dihadapkan pada pertanyaan yang menekan: apakah siput akan mampu bertahan di lingkungan yang sangat terbatas itu.

Ia menyebut kebingungan yang menyertai proses awal, “will they survive an hour, will they survive a day”? Lalu setelah four months, ia melihat adanya telur di tangki.

Ia menekankan bahwa tidak ada yang sebelumnya secara sadar menyaksikan telur siput ini sebelum penemuan tersebut. Ia mengatakan, “Nobody had knowingly seen their eggs before we made that breakthrough.”

Menurutnya, upaya seperti ini sering dilakukan dengan keyakinan yang mendalam, karena fokusnya berada pada spesies yang tersisa di satu lokasi dan harus dipahami kebutuhannya. Ia berkata, “You do these things on a wing and a prayer when you’re trying to save something that’s down to a single site and you’re trying to fathom what it needs and how to save it.”

Setelah hasil pertama itu muncul, ia menggambarkannya sebagai momen yang menentukan. “So when something actually works – it’s one of those life-defining moments.”

Proses memelihara siput ini tidak berjalan sendirian. Kegiatan penangkaran turut melibatkan invertebrata lain yang juga tergolong sangat terancam, seperti scarlet malachite beetles, ladybird spiders, dan tadpole shrimp, sehingga keluarga Hughes memandang kegiatan ini sebagai pekerjaan bersama.

Ian Hughes bekerja bersama istrinya, Kerry, serta putra-putranya Jake, George, dan Ben. Ben, yang berusia 27 tahun, menjelaskan bahwa dibutuhkan pola pikir tertentu untuk turun ke danau yang membeku pada pertengahan bulan Januari.

Ia menyampaikan, “You’ve got to have a certain mindset to walk out into a freezing cold lake in the middle of January,” lalu menambahkan bahwa mengetahui kontribusi mereka menjadi alasan yang cukup kuat. Ben berkata, “But knowing that you’re helping is more than enough to make it all worth it.”

Ia juga menekankan prinsip ekologis yang menganggap setiap bagian memiliki peran. “Every little thing has its place in the ecosystem and if you take a tiny little cog out of any machine it’s going to stop working”.

Seiring waktu, keluarga Hughes kini bekerja sama dengan organisasi British and Irish Association of Zoos and Aquariums (BIAZA) untuk memindahkan sebagian siput ke taman margasatwa di berbagai wilayah, agar membentuk “ark populations” di luar satu lokasi asal.

Pemindahan ini dipandang sebagai langkah awal untuk mengembalikan spesies ke habitat liar dalam beberapa tahun ke depan, sebagai bagian dari skema perlindungan spesies langka senilai ÂŁ60m yang didukung pemerintah Inggris.

Dalam tahap awal relokasi, Wingham Wildlife Park di Kent ikut terlibat. Samantha Eden, asisten kurator di Wingham Wildlife Park, melakukan perjalanan ke rumah Hughes untuk mengambil 24 siput.

Ia menjelaskan bahwa fasilitas baru mereka telah disiapkan untuk para siput tersebut. Ia menyebut adanya tiga kolam yang akan digunakan untuk membiakkan siput, mempelajari spesies itu, serta memahami kebutuhan lingkungannya.

Samantha juga menuturkan bahwa ia menempuh perjalanan sekitar six hours dari Kent ke Ceredigion demi mengambil siput-siput tersebut. Selain Wingham, sejumlah lokasi lain juga bergabung, termasuk Askham Bryan Wildlife Park di York dan Longleat di Wiltshire.

Keterlibatan juga datang dari kebun binatang Dudley dan Chester. Sementara itu, Freshwater Habitats Trust melakukan pencarian lokasi perairan yang sesuai agar siput pada akhirnya dapat dilepas kembali ke alam.

Nicky Needham, kepala pengelolaan spesies dan konservasi di BIAZA, menjelaskan bahwa mereka akan melakukan penelitian mendalam mengenai ekologi siput, teknik perawatan (“husbandry”), hingga genetika. Ia berkata, “We’re doing a lot of research on the snails’ ecology, their husbandry and their genetics.”

Ia menambahkan bahwa jika gambaran yang kuat sudah terkumpul, maka peluang untuk reintroduksi ke habitat liar akan lebih siap. Ia menyebut, “If we can build up a really strong picture then we’re in a good position to reintroduce some of them [to the wild].”

Optimisme itu juga disertai harapan waktu. Ia mengatakan, “With fingers and toes crossed I’d like to think that we could achieve that within three years’ time.”

Di sisi pengelola kawasan, Simon Jones, asisten warden di Eryri National Park, menyatakan dukungannya. Ia menilai program ini sebagai sesuatu yang luar biasa, sekaligus menekankan kebanggaan taman terhadap spesies unik yang menjadi rumahnya.

Simon berkata, “I think it’s an amazing project and we’ll support it as much as we can,” dan menambahkan bahwa pihak taman “really proud” menjadi tempat bagi “unique species”. Ia juga mengingatkan bahwa perubahan iklim meningkatkan ancaman bagi spesies semacam ini. Ia menyatakan spesies berada pada “an increased threat,” tetapi, dengan bantuan kebun binatang, “there’s more of a chance of keeping the population alive”.

Bagi Hughes, tahapan ini memberi dorongan baru. Ia mengatakan prosesnya “very exciting” karena ada momentum yang baru untuk penyelamatan siput berlendir. Ia juga menyinggung risiko “menaruh semua telur dalam satu keranjang” ketika spesies hanya bergantung pada satu perairan.

Ia berkata, “Having all your eggs in one basket is always a dangerous move so having more experts looking after it is really the right way to go.” Ia menambahkan bahwa baginya siput ini adalah “absolute treasure” yang nilainya setara dengan “an Egyptian artefact”.

Ia mengakhiri dengan penegasan tanggung jawab lintas generasi: “For me they’re an absolute treasure – like an Egyptian artefact… as valuable as that,” dan “preserving them is a duty to our children and grandchildren”.