Internasional

Pemukim Israel serang Jalud di Tepi Barat dan cegah keluarga al-Tubasi kembali ke rumah

×

Pemukim Israel serang Jalud di Tepi Barat dan cegah keluarga al-Tubasi kembali ke rumah

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Israeli settlers attack West Bank village and block Palestinian family's return home

jurnalistik.co.id – Rombongan pemukim Israel menyerang warga Palestina di desa Jalud, Tepi Barat, dan mencegah keluarga al-Tubasi kembali ke rumah mereka. Insiden yang terjadi pada Senin malam itu berujung pembakaran dua rumah keluarga di lokasi, sementara pasukan keamanan ikut menjadi sasaran.

BBC melaporkan lebih dari 100 pemukim Israel melakukan penyerangan di lingkungan desa yang berada selatan Nablus. Aksi tersebut menghentikan sebuah keluarga yang pada awalnya didampingi oleh militer Israel agar bisa kembali ke properti yang telah disita beberapa pekan sebelumnya.

Dua rumah milik keluarga al-Tubasi di Jalud menjadi sasaran pembakaran dalam serangan yang terjadi pada Senin malam. Dalam peristiwa yang sama, pasukan keamanan Israel juga disebut ditargetkan oleh para pemukim.

Organisasi hak asasi manusia menyatakan kejadian itu menunjukkan kegagalan otoritas Israel mengambil langkah yang efektif terhadap kekerasan pemukim. Mahmoud al-Tubasi, yang berbicara kepada BBC, menggambarkan situasi yang ia alami dengan nada penuh ketakutan.

“It was extremely terrifying, beyond words. It’s hard to imagine the situation,” kata Mahmoud al-Tubasi. Ia menambahkan, “My feeling now is that I am happy to have escaped death. I genuinely expected they were going to kill us.”

Mahmoud (60) bersama istrinya Aida (51) dan putra mereka Wael yang berusia 33 tahun kembali ke properti setelah keputusan Pengadilan Tinggi Israel awal bulan ini menetapkan keluarga tersebut harus diizinkan kembali. Meski begitu, pada malam kejadian, keluarga itu justru kembali harus berhadapan dengan kerumunan pemukim yang menolak kepulangan.

Keluarga tersebut terpaksa meninggalkan wilayah musim panas ini, setelah berminggu-minggu mengalami pelecehan dan serangan dari pemukim. Sejumlah pemukim ekstremis juga disebut mendirikan pos terlarang dekat Jalud dan mengepung tiga rumah, termasuk dua rumah milik putra al-Tubasi yang memiliki istri serta putri-putri muda.

Al-Tubasi mengatakan ia dihubungi sekitar tengah malam dan diberi tahu bahwa ada koordinasi dengan militer Israel agar keluarga dapat pulang ke rumah mereka. Ia menerima pesan dari pejabat Israel yang menyatakan bahwa jika ia ingin mengklaim propertinya, ia harus segera berangkat bersama tentara dan kepolisian perbatasan Israel.

Di bawah sorot lampu obor, keluarga al-Tubasi memeriksa satu rumah yang hendak mereka tempati. BBC melaporkan sebuah video yang dibagikan ke BBC memperlihatkan kerusakan berat pada rumah tersebut: pintu didobrak, perlengkapan listrik dicabut, ubin-ubin dicabut, jendela-jendela pecah, serta barang-barang dibuang hingga berserakan.

Menurut al-Tubasi, fasilitas toilet juga dirusak dan tampak penuh dengan kotoran manusia. Laporan tersebut memperkuat gambaran bahwa rumah yang dimaksud bukan hanya kosong, tetapi telah mengalami kerusakan sistematis.

Al-Tubasi juga menyatakan ketika mereka masuk ke rumah, yang telah sepenuhnya dirusak, pemukim mulai melempar batu ke arah mereka. Ia menuturkan militer merespons dengan menembakkan gas air mata, namun jumlah pemukim dinilai terlalu besar—lebih dari 150—hingga militer tidak lagi mampu mengendalikan kerumunan.

Dalam kesaksian yang sama, sang kakek menyebut sekelompok tentara Israel melindungi keluarga dari pemukim yang berupaya mendekat. Ia mengatakan tentara menggunakan semprotan merica untuk mendorong pemukim mundur.

BBC melaporkan pemukim juga merusak ban sebuah kendaraan militer tempat mereka ditumpangi. Setelah itu keluarga al-Tubasi dipindahkan ke sebuah kendaraan militer lapis baja, sementara kerumunan tetap melanjutkan penyerangan.

Saat keluarga sedang dibawa pergi, pemukim menyalakan api pada mobil mereka. Dua rumah milik keluarga juga dibakar, dan rekaman dari jarak jauh menunjukkan kepulan asap dari lokasi tersebut.

Al-Tubasi menyatakan pasukan keamanan Israel “essentially formed a barrier, took us out safely and got us away from there. But they did not take any action against the settlers themselves.” Ia memandang evakuasi berjalan aman, tetapi tidak ada tindakan nyata terhadap pemukim yang melakukan kekerasan.

Dari sisi militer Israel, sebuah pernyataan IDF menyebut “more than 100 Israeli rioters were present in the village, blocking roads, setting tyres on fire, and throwing stones at security forces.” Pernyataan itu juga menyatakan tiga perwira polisi mengalami luka ringan dan sebuah kendaraan pasukan keamanan mengalami kerusakan.

IDF menggambarkan keluarga al-Tubasi sebagai korban “nationalist crime” dan menambahkan bahwa “due to the violence, the mission to return the family to their home was not completed.” Dengan kata lain, misi kepulangan yang diarahkan oleh keputusan pengadilan tidak selesai karena kekerasan pemukim di lapangan.

Konflik melebar dan serangan sebelumnya

Kepala dewan lokal di Jalud mengatakan warga menghadapkan pemukim yang menyebabkan bentrokan. Ia menuturkan bentrokan bahkan menyebar ke desa terdekat, di mana seorang perempuan Palestina disebut diserang dan rumahnya dibakar.

Satu bulan sebelumnya, Aida al-Tubasi dilaporkan diserang oleh pemukim Israel bermasker hingga ia mengalami luka. Serangan itu juga terjadi bersamaan dengan keberadaan jurnalis Amerika yang sedang mewawancarainya di Jalud.

Mahkamah Tinggi Israel, menurut laporan, memerintahkan kepulangan keluarga secara aman hingga 20 September, dan BBC mencatat tenggat itu telah lewat lebih dari seminggu saat insiden terjadi. Keputusan pengadilan disebut menegur kegagalan otoritas Israel menindak kekerasan pemukim, dengan bahasa yang kuat: “a completely unacceptable phenomenon that stands in contrast to the basic values and moral principles of the State of Israel as a Jewish and democratic state.”

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengecam serangan terhadap pasukan keamanan. Ia menyerukan penegakan hukum, dengan menyatakan agar penegak hukum “to prosecute the rioters to the fullest extent of the law.”

Pada Sidang Umum PBB pekan lalu, Netanyahu menolak kekhawatiran internasional tentang kekerasan pemukim. Ia menuduh media mengabaikan serangan terhadap warga Israel Yahudi dan membahas bahwa ada “a handful of juvenile delinquents , about 150 in number, who throw stones, who chop down olive trees, occasionally they light some fires.”

Kepolisian Israel menyatakan telah menangkap tiga orang yang diduga terlibat dalam serangan tersebut. Sementara itu, kelompok hak asasi manusia Israel, Yesh Din, menyebut bahwa dalam dua dekade terakhir, kurang dari tiga persen penyelidikan terkait kekerasan pemukim berujung vonis.

Ziv Stahl, direktur eksekutif Yesh Din, mengatakan ketiadaan penegakan hukum yang efektif karena “the violence is part of a systematic government policy aimed at pushing Palestinians out of the area and expanding Israeli control over land in the West Bank”.

Pemerintahan Netanyahu, menurut laporan, mengawasi perluasan cepat permukiman Israel di Tepi Barat dengan mengklaim hak berbasis kutipan kitab suci dan dasar hukum. Sejumlah menteri disebut menyatakan mereka berniat “bury the idea” bahwa negara Palestina merdeka dapat dibentuk di wilayah tersebut bersama Yerusalem Timur dan Gaza.

Permukiman dan pos permukiman disebut melanggar hukum internasional. Tahun ini, menurut PBB, tingkat kekerasan pemukim disebut mencapai rekor tertinggi, dan sejak 2023 lebih dari 6.500 warga Palestina dilaporkan terdampak perpindahan akibat serangan pemukim serta pembatasan akses di Tepi Barat yang diduduki.

Pada periode yang sama, Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) mencatat 6.199 serangan oleh pemukim Israel yang menyebabkan korban atau kerusakan. OCHA juga menyatakan setidaknya 82 warga Palestina telah terbunuh oleh pasukan Israel dan pemukim di Tepi Barat pada tahun ini, sementara empat warga Israel juga disebut terbunuh—terdiri dari anggota pasukan keamanan dan warga sipil.

Dalam konteks serangan oleh pemukim, setidaknya 23 warga Palestina disebut tewas. Sementara itu, kasus Jalud menjadi contoh baru mengenai bagaimana kekerasan pemukim dapat menggagalkan kepulangan keluarga meski ada keputusan pengadilan yang mengizinkan mereka kembali.