jurnalistik.co.id – Jonathan Powell, penasihat keamanan nasional Inggris, mengatakan Eropa harus siap menghadapi “real hardship” pada musim dingin ini bila ingin menjaga tekanan ekonomi terhadap Rusia tetap berjalan.
Powell menegaskan, saat ini bukan waktu bagi negara-negara Eropa untuk “take our ‘foot off the gas’” dan mengendurkan sanksi, kendati benua menghadapi kekurangan energi yang berat.
Dalam forum Yalta European Strategy, Powell menyampaikan pandangannya di hadapan kepemimpinan Ukraina dan para pendukung internasional.
Berita Terkait
Pandangan itu ia sampaikan dengan menempatkan musim dingin sebagai variabel yang dapat mengubah neraca tekanan. Menurutnya, ketika cadangan dan pasokan energi sedang ketat, setiap pengetatan tambahan atau kelangkaan kecil dapat langsung terasa di tingkat kebutuhan rumah tangga maupun industri.
Powell juga menekankan bahwa bantuan yang terus berjalan tidak cukup hanya dalam bentuk niat politik, melainkan perlu ditopang konsistensi lintas sektor. Ia mengaitkannya dengan kemampuan Eropa menjaga dukungan yang terhubung—mulai dari ekonomi, militer, sampai diplomasi—agar Ukraina tidak kehilangan ruang untuk bertahan saat situasi makin berat.
Dalam penilaian Powell, narasi yang meredam kekhawatiran tentang eskalasi justru berbahaya. Ia menyatakan bahwa kenaikan tensi yang dibicarakan tidak otomatis berarti kemunduran, melainkan dapat dibaca sebagai sinyal bahwa tekanan yang selama ini dijalankan mulai “menghasilkan” respons yang diharapkan.
Ia menggambarkan hubungan sebab-akibat itu dengan melihat dampak perang terhadap infrastruktur dan ekonomi. Serangan Rusia yang berlangsung terus-menerus disebut merusak kapasitas energi dan aset lain, sehingga bukan hanya melemahkan kemampuan finansial, tetapi juga menambah beban psikologis dan kecemasan yang biasanya memuncak ketika cuaca dingin tiba.
Di sisi lain, Powell menilai ada ruang untuk optimisme meski kondisi lapangan terasa sulit. Pernyataan itu ia kaitkan dengan adanya pencapaian menjaga garis depan serta upaya para komandan Ukraina yang tetap dapat mempertahankan stabilitas di area krusial, bahkan ketika Rusia terus menekan dari berbagai arah.
Ia juga menyoroti bahwa biaya kerusakan yang ditimbulkan Rusia bukan sekadar angka kerugian fisik. Kravchenko menempatkannya sebagai beban anggaran dan aset yang besar, sementara blokade pada pelabuhan laut disebut ikut membatasi ekspor, termasuk ekspor gandum, sehingga efek ekonomi berlapis.
Untuk dampaknya pada perekonomian, Powell menyinggung kontraksi yang diperkirakan pada produk domestik bruto Ukraina. Ia menautkan hal tersebut dengan kondisi yang lebih luas: serangan, pembatasan perdagangan, serta keterbatasan perlindungan infrastruktur yang membuat pemulihan berjalan lebih lambat dari yang dibutuhkan negara yang sedang bertahan.
Pada sisi Eropa, ia menempatkan persoalan energi dalam rangkaian krisis yang lebih global. Powell menyebut stok gas yang rendah dan kerentanan sistem pasokan, lalu menilai bahwa meski sanksi telah membatasi, ketersediaan gas alam cair dari Rusia masih membuat beberapa negara tetap mempertimbangkan jalur pasokan tersebut.
Ia mengingatkan bahwa pemotongan konsumsi memang telah terjadi secara signifikan, namun tidak bersifat total. Karena itu, ia memperingatkan adanya sikap sebagian negara yang “menunda-nunda”, yang membuat target penghentian penuh impor gas tidak sepenuhnya berjalan sesuai rencana.
Powell juga mengaitkan hambatan itu dengan penilaian lembaga pengawas Eropa yang menyatakan rencana penghentian penuh “gagal” karena keterbatasan gas. Ia menganggap temuan semacam itu memperjelas bahwa strategi harus tetap realistis: tekanan harus dipertahankan, tetapi kesiapan menghadapi kekurangan energi tidak boleh diabaikan.
Dalam bagian lain, ia menyinggung pentingnya dinamika politik, termasuk perubahan persepsi yang ia kaitkan dengan Donald Trump. Powell menggambarkan bahwa Trump kini berada pada posisi yang berbeda dibanding sebelumnya, karena melihat perkembangan terkait Ukraina berlangsung lebih baik dan tidak lagi cenderung menempatkan Rusia sebagai rujukan utama.
Powell lalu membahas klaim Rusia yang merujuk pada kesepakatan Anchorage dalam KTT Trump-Putin tahun lalu. Ia menegaskan bahwa kompromi semacam itu, menurutnya, tidak lagi relevan dan dinilai sudah berakhir, sehingga ruang perhitungan dapat diarahkan pada pendekatan yang lebih serius menuju penyelesaian yang dinegosiasikan.
Menurutnya, arah pembicaraan tidak harus menunggu Ukraina menyerahkan wilayah yang tidak sanggup direbut oleh Rusia. Ia menempatkan penerapan tekanan sebagai alat untuk mendorong Putin menjadi lebih serius dalam negosiasi, bukan sebagai langkah yang justru melemahkan posisi ketika krisis energi sedang memuncak.
Ia juga mengingatkan bahwa Eropa perlu siap menghadapi tahap negosiasi pada waktu yang sulit diprediksi. Powell menyatakan pentingnya memastikan strategi yang sedang berjalan dapat membuat Putin bersedia menanggapi proses secara lebih serius pada momen ketika “paling tidak diharapkan”.
Powell kemudian menekankan aspek komunikasi untuk mencegah kesalahan hitung. Ia menyinggung perlunya kontak yang terjaga dengan Putin dan pihak Rusia agar pihak-pihak terkait memahami batas-batas yang dianggap sebagai “red lines”, serta menghindari misinterpretasi yang dapat memicu eskalasi yang tidak diinginkan.
Ia menyebut pengalaman merundingkan Good Friday Agreement sebagai contoh bahwa komunikasi tetap menjadi bagian penting dari upaya menjaga jalur agar tidak terputus. Dalam konteks itu pula, ia menegaskan pentingnya tindakan seperti kunjungan CIA ke Moskow, yang menurutnya selaras dengan kebutuhan untuk memastikan pemahaman yang benar.
Di sisi prinsip, Powell menggarisbawahi bahwa perang tidak semata-mata soal perebutan wilayah. Ia mengaitkan inti konflik dengan hak Ukraina untuk merdeka, sehingga setiap pembahasan tentang arah akhir konflik perlu kembali pada tujuan tersebut, bukan hanya pada pergeseran garis di peta.
Ia juga menggunakan gambaran perubahan jarak tempur untuk menjelaskan ancaman dan tekanan yang dirasakan Putin di dalam negeri. Dalam narasinya, jika Ukraina mengalami kemajuan tertentu, maka hal itu membentuk persepsi bahwa perang sedang berjalan sesuai arah yang menguntungkan Ukraina, dan publik di Rusia akan menyadarinya.
Menjelang musim dingin, Powell menyinggung langkah evakuasi yang dilakukan Ukraina terhadap sebagian warga dari Slovyansk dan Kramatorsk. Dua kota itu disebut masih menjadi titik terbesar yang berada di bawah kendali penuh Ukraina di wilayah Donbas timur, sehingga perpindahan warga menjadi bagian dari persiapan menghadapi tekanan yang meningkat.
Ia menegaskan bahwa target utama Rusia tetap terkait penaklukan penuh Donbas, yang meliputi Donetsk dan Luhansk. Dengan menghubungkan target itu pada konteks evakuasi dan kesiapan musim dingin, Powell menunjukkan bahwa perencanaan militer dan langkah perlindungan warga berjalan paralel, bukan terpisah.
Powell menutup dengan pandangan bahwa Eropa memang menghadapi masalah nyata terkait kekurangan, namun kondisi tersebut tidak boleh berubah menjadi keuntungan bagi Putin. Baginya, mempertahankan dukungan yang menyeluruh untuk Ukraina menjadi kunci, terutama ketika musim dingin tiba dan ruang gerak politik maupun ekonomi semakin sempit.












