Hukum & Kriminal

Pencurian museum makin nekat hampir setahun setelah perampokan Louvre

×

Pencurian museum makin nekat hampir setahun setelah perampokan Louvre

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Why brazen museum thefts keep happening nearly a year after Louvre heist

jurnalistik.co.id – Hampir setahun setelah perampokan Louvre di Paris pada Oktober lalu, rangkaian pencurian di museum-museum Eropa justru tidak mereda. Penyidik kejahatan seni dan pakar keamanan menilai para pelaku makin berani, pola aksinya makin agresif, dan pencegahannya kerap tertinggal.

Beberapa hari terakhir, sebuah museum Prancis kembali menjadi sasaran. Pencuri masuk dan mencuri empat lukisan karya seniman impresionis Pierre-Auguste Renoir yang nilainya mencapai jutaan euro.

Tak semua pihak terkejut. Europol bahkan telah memperingatkan bahwa pencurian museum di Eropa makin nekat, sementara detektif seni internasional Arthur Brand menyebut kemungkinan terjadinya lebih banyak pembobolan bernilai tinggi, terutama setelah keberhasilan perampokan Louvre.

Dalam penilaian Brand, dampak psikologis dari kejahatan besar itu bekerja seperti “contoh yang ditiru”. Ia mengatakan, “We will see more of this,” lalu menambahkan bahwa jika penjahat mampu menyerang Louvre, pelaku di berbagai tempat akan menilai kemungkinan menargetkan museum lokal yang menyimpan perhiasan emas dan perak.

Brand juga menegaskan bahwa pengamanan museum sudah mulai dipertemukan di ruang rapat. “In every museum there have been meetings with the security officer or with the police,” ujarnya, menggambarkan bahwa kesiapsiagaan meningkat sebagai respons langsung terhadap tren yang sama.

Sehari-sebelum dan sesudah peristiwa di Louvre, rangkaian kasus menunjukkan pola serupa. Setelah pembobolan di Louvre, pencuri bahkan merampas uang koin dari museum yang lebih kecil di Prancis. Berikutnya, terjadi pencurian rantai berlian di Wina, artefak Zaman Perunggu di Spanyol, serta karya seni dari dua museum di Italia.

Kasus Renoir Museum di Cagnes-sur-Mer menjadi contoh terbaru. Tim penyelidik masih berupaya melacak lukisan-lukisan yang bernilai multi-juta poundsterling, meski dua di antaranya sempat ditemukan cepat setelah pelaku menjatuhkannya di taman museum.

Europol menyampaikan bahwa jumlah laporan kasus pencurian museum yang masuk ke mereka mulai naik sekitar dua tahun terakhir. Dalam laporan terbaru, mereka menilai metode dan target berubah: ada kecenderungan taktik yang lebih memaksa, serta fokus pada barang bernilai tinggi seperti logam mulia dan batu permata, sebagaimana terlihat dalam kasus Louvre.

Pola “peniruan” ini juga dikaitkan oleh Ibrahim Bulut, pakar keamanan museum dari perusahaan konsultan keamanan di Belgia. Menurutnya, banyak kejahatan setelah Louvre merupakan copycat, sementara Association for Research into Crimes against Art (ARCA) menyebut serangkaian pencurian terbaru memperlihatkan preferensi pada barang kecil yang mudah dibawa, serta serangan yang dapat diselesaikan dalam hitungan menit.

Data yang diberikan ARCA kepada BBC menunjukkan lonjakan pencurian museum di Prancis pada 2024, lalu meningkat lagi sedikit pada 2025. Namun, tren angka tidak bergerak lurus; pencurian yang tercatat pada 2015 bahkan lebih banyak dibanding satu dekade berikutnya.

Sisi lain dari masalah ini berkaitan dengan kerentanan museum itu sendiri. Brand menilai museum lebih mudah dibobol dibanding toko perhiasan atau bank yang saat ini memegang uang tunai lebih sedikit, sementara pengelola museum secara historis “never have enough money for security” dan sering memilih mengalokasikan dana untuk pameran berikutnya.

Ia juga menekankan bahwa gedung museum seringkali merupakan bangunan tua yang sulit dilindungi. Misalnya, Denis Diderot Maison des Lumières (House of Enlightenment) mengalami pembobolan hanya beberapa jam setelah Louvre, dan tempat itu berada di dua mansion abad ke-18 di Langres. Wali kota setempat, Théo Caviezel, menjelaskan perlunya menyelaraskan kebutuhan keamanan modern dengan kewajiban melestarikan bangunan bersejarah serta mematuhi aturan warisan Prancis.

Kawasan publik yang terbuka untuk pengunjung turut memperbesar peluang. Kumar Sokka, CEO Acre Security yang bekerja dengan sejumlah museum di Eropa, mengatakan pelaku dapat masuk seperti tamu karena akses kontrol lebih rendah. Bahkan ketika museum sudah diamankan, Brand menilai tetap ada kemungkinan serangan bersenjata, dan akan tidak praktis menempatkan polisi di setiap galeri.

Kecepatan kejahatan menjadi faktor penting. Banyak pembobolan selesai dalam hitungan menit, dan pelaku sudah pergi ketika polisi tiba; pada kasus Renoir, pencurian terjadi dalam lima menit. Europol juga menyoroti bahwa kejahatan yang dulu mengandalkan tipudaya kini makin sering berubah menjadi aksi yang lebih keras, termasuk penggunaan palu godam, kapak, linggis, hingga dalam beberapa kasus bahan peledak.

Di Louvre, pelaku memakai lift mekanis untuk mengakses lokasi, memotong jendela menggunakan power tools, lalu mengancam penjaga hingga mereka meninggalkan tempat. Setelah itu, pelaku memaksa masuk ke etalase dan mengambil perhiasan.

Pada kasus Renoir Museum, pelaku memotong pagar menggunakan electric knife, kemudian gergaji melalui struktur yang menahan bingkai lukisan. Brand menyatakan meningkatnya agresivitas menciptakan kekhawatiran keamanan baru, terutama saat insiden bersenjata terjadi ketika jam kunjungan masih berlangsung.

Lilli Hollein, direktur Museum of Applied Arts (MAK) di Wina yang mengalami pembobolan bulan lalu, menuturkan bahwa insiden bersenjata pada jam operasional membuat prioritas segera berubah menjadi menjaga keamanan penonton dan staf. MAK kemudian memperketat langkah pencegahan, termasuk upaya mencegah pelaku meniru (copycat) sekaligus memberikan keamanan yang terlihat bagi pengunjung.

Di MAK, pintu masuk menggunakan detektor logam, tas harus dititipkan di ruang penitipan atau loker, dan jumlah petugas keamanan ditambah. Hollein juga menyebut berbagai peningkatan sedang berlangsung, mulai dari penguatan pengawasan hingga perbaikan struktural.

Para ahli merangkum pendekatannya sebagai cara “membeli waktu”. Bulut mengatakan, “Security is about buying time,” menjelaskan bahwa tujuan pengamanan bukan membuat pencurian secara teori mustahil, melainkan membuat pengambilan lebih sulit, lebih bising, lebih mudah terdeteksi, dan pada akhirnya lebih memakan waktu—karena pada akhirnya pencurian tetap bisa terjadi, sementara yang paling menentukan adalah durasinya.

Brand menilai penundaan bisa dilakukan, misalnya dengan menambahkan pintu ekstra yang berat dan dipasang ke tanah, mempertebal kaca pada ruang pajang, atau menggunakan fog machine. Sokka menambahkan perlunya sistem terintegrasi: bila alarm berbunyi, fasilitas bisa dihentikan operasinya, atau penguncian bisa diberlakukan pada karya bernilai tinggi.

Tetapi, biaya tetap menjadi hambatan. Caviezel menyebut pendanaan adalah salah satu tantangan utama bagi kota kecil yang memiliki dua museum dan koleksi. Bulut menegaskan bahwa keamanan tidak selalu soal perangkat mahal; pelatihan petugas untuk mengenali orang yang tampak mencurigakan dan menawarkan bantuan dapat membuat pelaku enggan kembali.

Sokka juga menyampaikan perusahaannya melihat peningkatan kebutuhan pada layanan deteksi seismik yang mampu menangkap getaran, termasuk aktivitas seperti pengeboran di dinding, dalam 18 bulan terakhir. Namun, ia menambahkan bahwa tidak semua negara mengalami kenaikan pencurian dengan laju yang sama.

Di Swedia, pencurian besar di museum mulai menurun sekitar satu dekade lalu dan tidak berubah signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Peg Magnusson, perwakilan Swedia untuk konvensi UNESCO melawan perdagangan ilegal properti budaya, menilai tantangan kini bergeser ke bagaimana keamanan meningkat tanpa menutup akses publik.

Hollein merangkum dilema ini dengan kalimat, “A museum cannot be a fortress.” Ia mengatakan pihaknya ingin menjadi institusi yang terbuka, tetapi menghadapi tantangan serta serangan yang menuntut standar baru agar museum tetap bisa melayani pengunjung sekaligus melindungi koleksi.