jurnalistik.co.id – Usai tersingkir dari Liga Konferensi, pertanyaan tentang apakah Derek McInnes benar-benar membawa perubahan nyata di Rangers kian menguat. Kekalahan dramatis di Jablonec tidak hanya mengakhiri langkah Eropa, tetapi juga memunculkan kebimbangan soal identitas permainan yang seharusnya dibangun.
Dalam laga yang dimainkan di Jablonec, Rangers tampil sangat terpecah dan kehilangan keterpaduan yang dibutuhkan untuk mengendalikan ritme pertandingan. Tim asuhan McInnes juga nyaris tak memberi ancaman berarti, dengan hanya satu tembakan tepat sasaran sepanjang malam, serta hanya mencetak satu gol dalam total 210 menit waktu permainan.
Rangers akhirnya kalah 1-0, lalu tersingkir melalui adu penalti. Di akhir pertandingan, para pendukung Rangers di stadion menyampaikan kekecewaan mereka secara langsung. McInnes kemudian meminta maaf, sementara ia berulang kali menyebut dirinya sebagai pihak yang “embarrassed and mortified” setelah laga.
Di ruang pasca-laga, McInnes mencoba menjelaskan maksud dari perubahan bentuk permainan yang ia lakukan berkali-kali. Ia menyatakan Rangers berada “miles off it” dan mengakui bahwa penampilan tim tidak sesuai yang diharapkan. Namun, bagi publik Rangers, alasan yang disampaikan terasa tidak cukup—terutama karena perubahan formasi tidak berbanding lurus dengan peningkatan performa di lapangan.
McInnes juga mengungkap evaluasinya sendiri terkait corak permainan tim. Ia mengatakan, “I look at us now and I’m thinking, well, we’re no’ great as a possession-based team at the minute.” Ia menambahkan, “We’re not a counter-attacking team enough, or effectively enough, at times. We don’t look like a team who are happy when we go direct. And teams need to be something.” Pernyataan itu menegaskan adanya masalah pada dua jalur utama—penguasaan bola maupun transisi serangan.
Secara waktu persiapan, McInnes datang pada bulan Juni dan menjalani pra-musim penuh. Setelah itu, ia memiliki enam pertandingan, lalu mendapat jeda satu pekan sebelum berangkat ke Jablonec. Meski begitu, Rangers justru menghadirkan penampilan terburuk pada periode itu, bahkan dinilai sebagai yang terburuk “of this, and many other, seasons.”
Manajemen perubahan juga menjadi sorotan. McInnes tercatat melakukan tiga pergantian pemain tepat saat turun minum pada hari Kamis, sehingga total pemain yang diganti di waktu jeda mencapai 11 kali dalam tujuh pertandingan. Angka tersebut menggambarkan adanya masalah pada perencanaan awal tim, atau kesulitan dalam mengubah arah permainan setelah situasi berjalan.
Lebih jauh, di Jablonec Rangers menunjukkan kesan yang rapuh ketika sedang membangun serangan. Banyak bagian dari babak play-off berlalu tanpa Rangers mampu merangkai lebih dari empat atau lima operan berturut-turut. Tekanan yang diberikan juga tidak konsisten—kadang dilakukan hanya “ones and two or not at all”—dan tim terlihat seperti baru saling mengenal, tanpa gerak kolektif yang solid.
Berita Terkait
Di sisi lain, McInnes juga menyoroti capaian Hearts. Ia mengamati bahwa Hearts memasang empat pemain baru di starting line-up saat menghadapi Rapid Vienna, lalu menambah dua pemain lagi dari bangku cadangan. Di Austria, Hearts pada akhirnya memenangkan pertandingan mereka sendiri di Liga Konferensi. Respon yang diberikan McInnes terhadap bekal tersebut adalah apresiasi atas “resilience” pemain dan “the stomach they showed for the fight.” Pernyataan ini sekaligus menjadi cermin, karena Rangers dinilai tidak memiliki elemen serupa dalam intensitas dan keberanian.
Salah satu pilihan yang turut dipertanyakan adalah absennya Nico Raskin. McInnes menyebut Raskin tidak ikut karena bukan semata-mata keputusan teknis, melainkan ada kemungkinan transfer: “not because there’d been a bid for him, said McInnes, but because there might be.” Jika tawaran benar-benar datang dengan nilai yang sesuai serta peluang untuk tawaran lebih tinggi, ketidakhadiran itu dianggap dapat dipahami. Namun bila tawaran tidak terjadi, pertanyaan publik menjadi sederhana: mengapa Raskin tetap tidak dimainkan.
McInnes menilai Raskin “was missed.” Raskin, menurut konteks yang disampaikan, tampil baik di Piala Dunia. Kesenjangan antara performa yang pernah ditunjukkan dan keputusan untuk tidak memasukkannya ke skuad pada laga tersebut menambah beban evaluasi bagi staf pelatih.
McInnes juga menyatakan bahwa tim kepelatihannya “elite in everything we do” dalam mempersiapkan pemain untuk laga seperti ini. Klaim itu muncul setelah hasil yang justru memperlihatkan ketidakmampuan tim menjelma sesuai rencana. Di saat yang sama, McInnes mengatakan tanggung jawab atas kegagalan berada di dirinya, namun ia berkali-kali mengembalikan pembahasan pada kata-kata seperti bahwa para pemainnya tampil mengecewakan.
Transparansi komposisi skuad juga menjadi bagian dari pertanyaan publik. Enam dari rekrutan McInnes memulai pertandingan, sementara dua pemain lain masuk dari bangku cadangan. Artinya, perubahan yang diharapkan dari belanja pemain juga semestinya sudah memberi dampak, tetapi yang terlihat justru sebaliknya pada laga di Jablonec.
Di luar lapangan, ukuran investasi turut dibandingkan. Para pemain Rangers yang berada di lapangan dalam laga di Republik Ceko disebut berharga sekitar £30m untuk biaya transfer. Masalahnya, paket belanja itu tidak menunjukkan peningkatan yang meyakinkan. Setelahnya, Rangers juga menambahkan Kim Min-su senilai £8.5m dan berencana merekrut Kevin Kelsy senilai £9.5m jika semuanya berjalan sesuai rencana. Di tengah konteks itu, muncul pula label “Rangers have spent £50m and made team worse,” yang mencerminkan kekecewaan atas hubungan antara biaya dan performa.
Sebagai perbandingan, Jablonec mencatat rekor rekrutan dengan biaya sekitar £700,000. Pergantian nilai terbaru mereka tercatat sebesar £8.5m, sementara Rangers disebut memiliki angka £94m. Perbedaan juga terlihat dari ukuran stadion yang digambarkan “the size of a shoebox,” dukungan penonton yang kecil, serta cerita Eropa yang minim. Namun, Jablonec tetap menjalankan pendekatan yang mereka punya: mereka “went after the game,” dan mengalahkan Rangers pada aspek yang dinilai tidak memerlukan talenta khusus, melainkan kejujuran, kerja keras, dan energi.
McInnes saat ini berada dalam situasi yang sulit. Ia tidak berada dalam bahaya kehilangan pekerjaan dalam waktu dekat, tetapi ia memiliki tugas besar untuk memulihkan kepercayaan para pendukung. Tekanan dari fan base ketika hasil buruk terus datang adalah tantangan yang akan dihadapi siapa pun, terutama saat identitas permainan yang diproyeksikan tidak kunjung terlihat.
Laga berikutnya menanti di Pittodrie. Setelah tersingkir dari Eropa, Rangers akan berusaha menunjukkan reaksi yang lebih nyata—bukan sekadar penjelasan setelah pertandingan.












