jurnalistik.co.id – Raja Harald dari Norwegia dirawat di rumah sakit dan menjalani cuti sakit selama dua pekan, demikian pengumuman keluarga kerajaan pada Senin. Raja berusia 89 tahun itu diketahui sedang menerima perawatan medis dan akan menonaktifkan sementara sejumlah tugas kerajaannya.
Keluarga kerajaan menyampaikan bahwa keputusan membawa Raja Harald ke rumah sakit berkaitan dengan kondisi kesehatan yang membutuhkan penanganan langsung. Selama masa cuti sakit tersebut, pelaksanaan peran kenegaraan diambil alih oleh Putra Mahkota Haakon.
Alasan perawatan dan kondisi darah langka
Dalam rilis yang sama, pihak istana menjelaskan bahwa Raja Harald telah menjalani pengobatan dalam beberapa pekan terakhir menggunakan kortison untuk kondisi darah langka yang dialaminya. Kondisi tersebut disebut sebagai haemolytic anaemia.
Haemolytic anaemia menyebabkan jumlah sel darah merah dalam tubuh menurun. Akibatnya, Raja Harald mengalami kelelahan dan sesak napas, sehingga memengaruhi aktivitas hariannya.
Istana juga menyebut Raja Harald dirawat karena “fluid retention in the body that requires treatment in hospital”, yaitu penumpukan cairan di tubuh yang memerlukan perawatan di fasilitas kesehatan. Dengan demikian, masa rawat inap menjadi bagian dari tindak lanjut atas kondisi yang sedang ia kelola.
Untuk sementara waktu, Putra Mahkota Haakon—yang berusia 53 tahun—akan berfungsi sebagai wali (regent) selama ayahnya berada dalam cuti sakit. Peralihan peran itu dilakukan agar urusan pemerintahan dan tugas keraton tetap berjalan tanpa gangguan berarti.
Raja yang telah lama berkuasa dan pembatasan kegiatan publik
Sejak naik takhta pada Januari 1991, Raja Harald dikenal sebagai salah satu monarki dengan masa jabatan terlama di Eropa. Ia juga menyatakan secara terbuka tidak akan melakukan abdikasi.
Pada April 2024, keluarga kerajaan telah mengumumkan bahwa Raja Harald akan membuat “permanent reduction” terhadap keterlibatan publiknya. Langkah tersebut diambil “out of consideration for his age”, sebagai pertimbangan terhadap usia Raja.
Pengumuman terbaru soal perawatan rumah sakit menegaskan bahwa pengaturan kegiatan juga terus menyesuaikan kondisi kesehatan yang dialami. Walaupun demikian, mekanisme peralihan tugas melalui Putra Mahkota menunjukkan kerangka resmi yang disiapkan oleh istana ketika kepala negara menjalani pemeriksaan intensif.
Berita Terkait
Catatan kesehatan beberapa tahun terakhir
Insiden kesehatan Raja Harald tidak terjadi untuk pertama kalinya. Pada Februari lalu, Raja dibawa ke rumah sakit di pulau Tenerife, Spanyol, ketika ia mengalami infeksi serta dehidrasi.
Selain itu, pada tahun 2024, Raja Harald juga dipasangi alat pacu jantung (pacemaker) setelah jatuh sakit saat berlibur di Malaysia. Perawatan jantung tersebut menjadi salah satu bagian dari rangkaian penanganan medis yang pernah ia jalani.
Di sisi lain, kesehatan Ratu Sonja juga menjadi perhatian. Pihak istana menyampaikan bahwa pada bulan Mei tahun ini, Ratu Sonja dirawat dan menjalani pemeriksaan serta observasi karena masalah jantung.
Situasi yang turut memengaruhi dinamika keluarga kerajaan
Masalah kesehatan di lingkungan kerajaan hadir setelah periode yang penuh gejolak bagi keluarga besar Norwegia. Pada Maret, Putri Mahkota Mette-Marit—istri dari Putra Mahkota Haakon—menyampaikan kepada televisi nasional bahwa ia berharap tidak pernah bertemu dengan Jeffrey Epstein, sosok penjahat seks asal Amerika yang telah meninggal.
Menurut pernyataan yang disampaikan, Putri Mahkota melakukan pertukaran ratusan email dengan Epstein antara tahun 2011 hingga 2014. Ia juga disebut pernah tinggal di rumah Epstein di Florida pada saat sang terpidana tidak sedang berada di tempat tersebut.
Dalam pengakuannya, Putri Mahkota mengatakan, “It is incredibly important for me to take responsibility for not checking his background more carefully.” Pernyataan itu merujuk pada penyesalannya dan pentingnya bertanggung jawab atas tidak dilakukannya pengecekan latar belakang secara lebih cermat.
Beberapa bulan setelahnya, pada Juni, putra Putri Mahkota dari hubungan sebelumnya, Marius Borg Høiby, dinyatakan bersalah atas dua dakwaan pemerkosaan. Ia kemudian dijatuhi hukuman empat tahun penjara.
Dengan latar kesehatan Raja Harald yang kini mengharuskannya menjalani rawat inap dan cuti sakit, keluarga kerajaan menghadapi dua tantangan sekaligus: penanganan kondisi medis yang memerlukan pengawasan di rumah sakit, serta kebutuhan menjaga kesinambungan tugas kenegaraan melalui mekanisme perwalian oleh Putra Mahkota.
Pengumuman istana mengenai kondisi darah langka, efek yang ditimbulkannya terhadap tubuh, dan alasan perawatan di rumah sakit menunjukkan bahwa keputusan ini diambil berdasarkan kebutuhan medis. Dalam waktu dua pekan ke depan, perhatian akan tertuju pada perkembangan kesehatan Raja Harald dan kelanjutan peran Putra Mahkota selama masa cuti sakit tersebut.












