Internasional

Rusia Kirim Jenazah Pangeran Dmitry Donskoy dan Relikui ke Front Ukraina: 6 Alasan

×

Rusia Kirim Jenazah Pangeran Dmitry Donskoy dan Relikui ke Front Ukraina: 6 Alasan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: 6 Alasan Rusia Kirim Jenazah Pangeran dan Orang Suci ke Medan Perang

jurnalistik.co.id – Moskow tengah menyiapkan satu bentuk dukungan yang tidak lazim untuk pasukannya di garis depan Ukraina timur menjelang musim dingin. Kali ini, yang dibawa bukan peralatan tempur, melainkan jenazah seorang pangeran pejuang yang dihormati Rusia lebih dari enam abad lalu.

Dmitry Donskoy, pangeran yang dihormati karena kemenangannya dalam Pertempuran Kulikovo pada tahun 1380, disebut dikirim ke garis depan pada awal September. Setelah itu, sebagian dari jenazahnya beredar dan dibawa berkeliling ke berbagai pangkalan militer di wilayah Ukraina yang diduduki Rusia.

Jenazah dan relikui untuk “panglima suci”

Dalam keterangan yang disampaikan oleh Departemen militer Patriarkat Moskow, badan pimpinan rohani Gereja Ortodoks Rusia, Donskoy digambarkan akan hadir secara tak kasat mata “berdampingan” dengan para tentara Rusia. Gereja juga menambahkan bahwa relikui yang dimaksud merupakan fragmen dari tangan kanannya.

Relikui tersebut disebut sebagai “tangan yang sama” yang digunakan Donskoy untuk mengayunkan pedang pada peristiwa Kulikovo. Dengan demikian, narasi yang dibangun menghubungkan figur sejarah ke medan perang saat ini lewat simbol keagamaan dan memori kemenangan lama.

Simbolisme agama dalam perang yang berkepanjangan

Keterlibatan relikui dalam konteks pertempuran digambarkan tidak sekadar upacara, melainkan bagian dari cara pandang yang lebih besar. Sejak Rusia meluncurkan invasi skala penuh ke Ukraina pada tahun 2022, Moskow berupaya memanfaatkan beragam unsur dalam perang yang berubah menjadi perang atrisi yang berlangsung berdarah.

Upaya itu turut mencakup penggunaan simbolisme keagamaan untuk menggambarkan perjuangan mereka sebagai tindakan yang “benar” dan direstui Tuhan. Dalam kerangka tersebut, hubungan Kremlin dan Gereja Ortodoks Rusia dipotret sebagai semakin rapat dari periode sebelumnya.

Sergei Chapnin, seorang pakar studi agama sekaligus direktur komunikasi di Pusat Studi Kristen Ortodoks Universitas Fordham, menyatakan bahwa “Gereja praktis telah menyatu dengan negara hingga pada titik di mana keduanya sulit dibedakan.” Ia menambahkan, “Menurut pandangan saya, tingkat kedekatan maksimal telah tercapai.”

Tradisi Ortodoks dan perpaduan sakral-material

Di sisi lain, praktik mengirimkan relikui suci kepada pasukan disebut memiliki preseden dalam tradisi Kristen Ortodoks. Chapnin menekankan bahwa perpaduan unsur sakral dan material itulah yang membuat perhatian muncul.

Ia mengatakan, “Perpaduan antara unsur sakral dan material ini menarik perhatian.” Chapnin juga menilai, “Tentu saja, propaganda memanfaatkan hal ini,” sehingga relikui tidak hanya dipahami sebagai simbol ibadah, tetapi juga instrumen pesan di ruang publik.

Lebih jauh, ia juga menyebut latar pekerjaannya: Chapnin diketahui pernah bekerja di penerbitan Patriarkat Moskow. Pengalaman itu disebut memberi konteks bagi cara melihat bagaimana tradisi dan narasi negara saling bertaut dalam situasi konflik.

Pesan kebangsaan: menempatkan Donskoy sebagai pembela

Dalam laporan tersebut, jenazah Donskoy juga diposisikan sebagai pembawa pesan yang dianggap relevan dengan keadaan saat ini. Chapnin menyebut bahwa Donskoy “bukanlah seorang agresor, melainkan pembela tanah air.”

Dari sudut pandang pemerintah, relikui dan figur yang terkait dengannya dinilai berfungsi menguatkan narasi bahwa Rusia tidak sedang menyerang, melainkan mempertahankan wilayah. Pernyataan itu dirumuskan sebagai kebutuhan untuk menunjukkan bahwa Rusia “bukanlah agresor, melainkan sedang mempertahankan wilayahnya.”

Dengan kombinasi simbol keagamaan, memori sejarah tahun 1380, serta konteks invasi skala penuh sejak 2022, gagasan “berdampingan” dengan tentara Rusia dipakai untuk membentuk makna yang lebih luas daripada sekadar tindakan ritual. Bagi pihak yang menyampaikannya, relikui menjadi pengikat antara identitas, legitimasi, dan keberlanjutan pertempuran yang memasuki fase menghadapi musim dingin berikutnya.