jurnalistik.co.id – Pemerintah Amerika Serikat mengumumkan bahwa mereka telah menempatkan sebuah “space weapon” di orbit Bumi. Pengumuman itu langsung memicu pertanyaan: senjata seperti apa yang dimaksud, dan bagaimana perannya dalam persaingan kekuatan besar di ruang angkasa.
AS belum memberikan rincian yang memadai mengenai kemampuan maupun jadwal penempatan senjata tersebut. Pernyataan yang muncul hanya menekankan kebutuhan operasional untuk menghadapi ancaman dari lawan di lingkungan luar angkasa.
Dalam penjelasannya, Menteri Angkatan Udara AS Troy Meink menyebut bahwa perangkat “on orbit” diperlukan untuk melindungi pasukan AS dari tindakan musuh yang bersifat hostile. Namun, informasi tentang karakter, metode kerja, serta kapan senjata itu diletakkan tidak disampaikan.
Karena minimnya detail, para pakar cenderung bekerja dengan dugaan berbasis jenis-jenis teknologi yang sudah lebih dulu ada. Mereka juga menilai bahwa tujuan pengembangan senjata di orbit biasanya terkait kemampuan mengganggu sistem lawan, sekaligus meningkatkan efektivitas aset militer yang berada di ruang angkasa.
Dr Bleddyn Bowen, associate fellow di bidang military sciences pada Royal United Services Institute dan associate professor astropolitics di Durham University, mengatakan bahwa ia hanya bisa mengira-ngira. Ia memperkirakan adanya platform electronic warfare atau radio-jamming yang bersifat non-destructive sebagai bentuk anti-satelit.
Menurut Bowen, pendekatan tersebut pada dasarnya sudah dikenal di dunia nyata. “If you take out the radio links then your satellite is very useless,” ujarnya, dengan penekanan bahwa pemutusan jalur komunikasi radio membuat satelit kehilangan fungsi pentingnya.
Bowen juga tidak menutup kemungkinan adanya jenis senjata yang lebih mengganggu dan berisiko. Ia menyebut bahwa ada skenario yang dapat menghasilkan kerusakan serta menciptakan banyak debris.
Dalam spektrum yang ia sebut, “Less likely would be a kinetic kill vehicle of some sort,” yaitu kendaraan yang melepaskan proyektil untuk menabrak satelit dan menghancurkannya. Ia juga menyampaikan kemungkinan lain: satelit yang dirancang untuk inspeksi dekat sekaligus melakukan penangkapan terhadap objek di orbit.
Walaupun perangkat yang ditempatkan AS terlihat seperti hal baru, Bowen menilai gambaran besarnya tidak sepenuhnya muncul dari nol. Ia mengingat bahwa AS serta para pesaingnya—termasuk Rusia dan China—telah memiliki kemampuan yang dapat diarahkan dan “ditembakkan” ke ruang angkasa selama beberapa waktu.
Di sisi lain, dalam kurun sekitar 10 tahun terakhir, Rusia dan China disebut makin sering melakukan manuver di ruang angkasa yang dikenal sebagai rendezvous and proximity operations (RPOs). Operasi ini kerap disebut “buzzing” terhadap satelit-satelit milik pihak Barat.
Berita Terkait
Secara teoritis, Dr Rod Thornton menjelaskan bahwa satelit RPO dapat berkembang menjadi model “hunter-killer”. Mekanismenya bisa berupa tabrakan fisik atau tindakan “nudge” yang mendorong satelit target menjauh dari orbit yang semestinya.
Bowen menambahkan bahwa China telah menunjukkan kemampuan yang ia sebut “space tug capability”. Ia merujuk pada kemampuan sebuah wahana untuk mendekat ke satelit, melakukan grappling, lalu memindahkannya ke orbit yang berbeda.
Bagi Bowen, kemampuan seperti itu bisa membawa manfaat tertentu. Selain berpotensi membantu mengurangi space junk, pendekatan yang sama juga dapat menonaktifkan satelit yang masih berfungsi.
Thornton menilai adanya perbedaan penekanan kemampuan antara Rusia dan pihak lain. Ia menyatakan bahwa meskipun Rusia kekurangan dalam jumlah dan jenis perangkat senjata ruang angkasa, mereka menutupnya lewat kapasitas rudal.
Thornton menyebut Rusia memiliki rudal berbasis darat yang bisa diluncurkan menuju ruang angkasa untuk menyerang satelit di low Earth orbit. Selain itu, Rusia juga disebut memiliki rudal ASAT yang dapat ditembakkan dari ketinggian besar oleh pesawat.
Ia juga mengaitkan strategi tersebut dengan persepsi di internal Rusia. “From the Russian point of view they see Nato as having much better and more sats than the Russian military can call up,” sehingga Rusia disebut “invested heavily in ASATs in order to ‘level the battlefield’ somewhat.”
Thornton lantas mengingatkan aspek paling serius dari eskalasi. Sebagai “last resort”, ia menyebut Rusia dapat meluncurkan senjata nuklir ke ruang angkasa, dan menurutnya, “the EPM blast would ‘fry’ any unhardened sats over a wide expanse.”
Dalam pandangan Thornton, konteks jumlah satelit yang terbatas membuat Rusia berpotensi menjadi “big winner” jika perang ruang angkasa terjadi. Situasi itu, menurutnya, melibatkan rangkaian “missiles fired up into space, manoeuvring sats designed to nudge/destroy them and ground-based lasers.”
Jika benar ada platform di orbit yang ditujukan untuk electronic warfare atau anti-satelit non-kinetik, maka fokus utama tampaknya bukan sekadar menyerang, melainkan mengunci efektivitas komunikasi dan layanan satelit milik pihak lawan. Namun, kemungkinan spektrum yang lebih keras—termasuk menciptakan debris—tetap menjadi bagian dari spekulasi para analis.
Dengan minimnya detail dari pengumuman AS, pertanyaan terbesar kini bergeser pada dampak praktis bagi operasional satelit di orbit Bumi. Pada saat persaingan teknologi militer di ruang angkasa makin intens, kabar seperti ini memperlihatkan bahwa kompetisi tidak hanya terjadi di darat atau udara, melainkan juga pada infrastruktur yang menopang komunikasi dan pengamatan modern.












