Internasional

Trump: AS kurangi latihan militer gabungan dengan Korea Selatan

×

Trump: AS kurangi latihan militer gabungan dengan Korea Selatan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Trump says US scaling back joint military operations with South Korea

jurnalistik.co.id – Presiden Donald Trump mengatakan Amerika Serikat akan “substantially reduce” latihan militer gabungan dengan Korea Selatan. Pernyataan itu disampaikan setelah ia mengaitkan keputusan tersebut dengan kedekatannya dengan pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, yang disebutnya memiliki “very good relationship”.

Dalam unggahan di Truth Social, Trump juga menyinggung respons Seoul terkait upaya “denuclearisation” untuk Iran. Ia menyebut Korea Selatan “declined to join the US” dalam denuklirisasi tersebut, seraya menilai latihan bersama tidak selaras dengan situasi yang ia gambarkan.

Trump menyatakan bahwa latihan tersebut “not only costly”, dengan biaya yang menurutnya “much of these costs” justru dibayar oleh Amerika Serikat “(as usual!)”. Ia menambahkan latihan itu “send a signal that is totally inappropriate and hostile”.

Seoul menanggapi pernyataan itu dengan menyatakan latihan bersama dengan Amerika Serikat akan tetap berjalan “as scheduled”. Sementara itu, Pyongyang belum memberikan komentar resmi terkait pengumuman Trump.

Keputusan Trump muncul di tengah rangkaian perkembangan keamanan di Semenanjung Korea. Bulan ini, Korea Utara melakukan uji coba rudal balistik yang dilarang oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, sehingga isu latihan militer kembali menjadi fokus perhatian.

Trump juga menegaskan bahwa pembatalan sudah tidak dimungkinkan. Ia menyebut “too late to cancel”, mengingat Amerika Serikat dan Korea Selatan dijadwalkan memulai latihan tahunan pada Senin.

Ia kemudian menambahkan, “While somewhat unrelated (?), I recently asked the President of South Korea if they would like to join us in the Denuclearization of the Islamic Republic of Iran, and they said, ‘No thanks!’” Pernyataan itu dipakai Trump untuk menjelaskan posisi Amerika Serikat terhadap keterlibatan Seoul.

Pengumuman tersebut datang kurang dari 24 jam setelah Trump memposting foto lama dirinya bersama Kim Jong Un pada 2018. Dalam postingan itu, ia menulis keduanya adalah “great friends”, meski menurutnya tampilan pada foto tersebut terlihat “despite the unfriendly look on this particular picture”.

Latar latihan yang tetap dijalankan

Menurut laporan, pengumuman Trump muncul setelah pejabat militer Amerika Serikat dan Korea Selatan menggelar konferensi pers bersama pekan lalu. Konferensi tersebut memperkenalkan latihan “Ulchi Freedom Shield”, yang berlangsung 11 hari dan berskala mirip tahun-tahun sebelumnya.

Dalam konferensi pers itu, disebutkan sekitar 18.000 personel militer Korea Selatan ikut ambil bagian. Pada kesempatan yang sama, para pejabat juga menyinggung pengerahan pasukan Korea Utara untuk membantu Rusia dalam perang melawan Ukraina.

Juru bicara militer AS, Ryan Donald, menyatakan “our training accounts for that threat”, merujuk pada prajurit Korea Utara yang menurutnya kembali dari medan perang. Di Korea Selatan, sekitar 28.500 personel militer Amerika Serikat ditempatkan, menjadi bagian dari fondasi latihan dan kerja sama pertahanan kedua negara.

Di sisi lain, Kementerian Luar Negeri Korea Utara pada Jumat mengecam latihan bersama tersebut. Pyongyang menyebut latihan itu sebagai “a rehearsal for an aggressive war”.

Latihan bersama ini juga digelar beberapa hari setelah Korea Selatan, Amerika Serikat, dan Jepang mendeteksi uji coba rudal balistik Korea Utara kedua dalam rentang hari yang berdekatan. Kondisi tersebut terjadi ketika Pyongyang mempercepat upaya memperluas program nuklir dan rudilnya.

Upaya percepatan tersebut disebut berkaitan dengan melemahnya diplomasi berprofil tinggi Kim Jong Un dengan Trump pada 2019. Dalam periode pertama kepresidenannya, Trump tercatat sebagai presiden AS yang duduk pertama kali menginjakkan kaki di Korea Utara setelah mengunjungi tujuh tahun lalu.

Makna politik bagi Korea Selatan

Bagi Seoul, postingan Trump dinilai memuat pesan ganda. Di satu sisi, pernyataan itu bisa dibaca sebagai sinyal agar Trump bersedia berinteraksi langsung dengan Pyongyang, sehingga membuka harapan pembicaraan untuk membawa Kim “back to the table”.

Namun di sisi lain, Trump juga memberi isyarat bahwa ia tidak sepenuhnya puas dengan sikap Korea Selatan yang dinilai tidak bersedia memberikan kontribusi militer atau logistik secara langsung untuk konflik yang menurutnya dihadapkan Amerika Serikat, termasuk yang terkait Iran. Trump juga mengekspresikan ketidakpuasan kepada sejumlah sekutu lain yang dinilai ragu untuk terlibat, termasuk Jepang, Prancis, dan Inggris.

Langkah Trump untuk mengecilkan latihan bersama dengan Korea Selatan tidak sepenuhnya tanpa preseden. Pada 2018, Trump pernah menghentikan latihan tersebut secara penuh ketika berlangsung perundingan denuklirisasi dengan Kim Jong Un.

Trump menyatakan saat itu latihan tahunan bersifat “provocative” terhadap Korea Utara. Ia juga menilai penghentian “war games” dapat menghemat “tremendous amount of money” bagi Amerika Serikat.

Latihan kemudian kembali disesuaikan pada 2020 saat pandemi Covid-19. Tahun berikutnya, dinamika keamanan tetap berubah seiring perkembangan program rudal dan arah kebijakan Korea Utara.

Beberapa hari sebelum pengumuman Trump, Presiden Korea Selatan mengusulkan pembicaraan untuk mengakhiri perang secara resmi. Perang tersebut secara teknis dinilai masih aktif sejak gencatan senjata ditandatangani pada 1953.

Tarik-menarik soal keamanan dan biaya

Pernyataan Trump juga menegaskan pandangannya bahwa Amerika Serikat memberikan keamanan bagi Korea Selatan tanpa “getting much in return”. Ia berulang kali mengkritik jumlah pasukan Amerika Serikat yang ditempatkan di Semenanjung Korea serta biaya yang dikeluarkan.

Hal itu membuat hubungan Washington dan Seoul menjadi lebih rumit. Di dalam pandangan Seoul, pasukan merupakan bagian inti dari aliansi dengan Amerika Serikat, sehingga setiap perubahan skala latihan atau penempatan dapat ditafsirkan sebagai sinyal kebijakan yang lebih luas.

Seoul berusaha meredam ketegangan pada awal tahun ini dengan berkomitmen menginvestasikan $350bn di Amerika Serikat. Pada tahun lalu, Presiden Lee Jae Myung juga menyebut Trump sebagai “a peacemaker”, mencerminkan upaya membangun narasi kooperatif di tengah perbedaan kepentingan.

Dengan latihan gabungan yang dijadwalkan tetap berjalan “as scheduled”, pernyataan Trump kini menjadi penanda tarik-menarik politik dan strategi di antara tiga pihak: Amerika Serikat, Korea Selatan, serta Korea Utara yang belum memberikan komentar resmi.