Bisnis & Ekonomi

Inflasi RI Kian Menguat, Harga Pangan dan Efek El Nino Jadi Pemicu

×

Inflasi RI Kian Menguat, Harga Pangan dan Efek El Nino Jadi Pemicu

Sebarkan artikel ini

jurnalistik.co.id – Inflasi Indonesia pada periode yang dilaporkan kembali menunjukkan kenaikan, dengan angka inflasi umum berada di level 3,28% secara tahunan (yoy). Secara bulanan (month-to-month/mtm), inflasi tercatat naik 0,3%. Dalam publikasi Bloomberg Technoz, inflasi Oktober juga disebut sebesar 3,28%, lebih rendah dari konsensus pasar 3,30%.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi umum (headline) untuk September 2026 kembali berada pada level tersebut. Rincian ini memperlihatkan bahwa tekanan harga masih bertumpu pada komponen-komponen tertentu, terutama yang terkait kebutuhan pokok.

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau masih menjadi penggerak

BPS mencatat kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami inflasi 0,88% secara bulanan. Kelompok ini juga memberikan andil sebesar 0,26 poin persentase terhadap inflasi nasional.

Secara tahunan, tekanan pada kelompok yang sama tercermin lebih besar. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau tercatat mengalami inflasi 4,37% (yoy) dengan kontribusi mencapai 1,28 poin persentase terhadap inflasi nasional.

Dengan kontribusi yang cukup dominan, komposisi inflasi menunjukkan bahwa kenaikan harga tidak berdiri sendiri, melainkan masih terkait erat dengan dinamika harga pada kategori pangan dan barang konsumsi sehari-hari.

Volatile food mendorong inflasi pangan

Masuk ke rincian pangan, BPS menyebut tekanan inflasi kali ini datang dari kenaikan pada kelompok volatile food. Kelompok ini tercatat inflasi sebesar 5,03% secara tahunan, sementara secara bulanan tekanannya mencapai 1,46%.

Pada level subkelompok, makanan juga ikut mencatat inflasi 4,71%. Pola ini mengindikasikan bahwa lonjakan harga terutama terjadi di kelompok komoditas yang pergerakannya cenderung lebih cepat dibanding kategori lain.

Di dalam volatile food dan subkelompok makanan, beberapa item disebut menjadi kontributor terbesar terhadap andil inflasi. Ikan segar menjadi penyumbang terbesar dengan andil 0,23 poin persentase.

Komoditas lain yang turut mendorong tekanan harga adalah daging ayam ras dan cabai rawit. Masing-masing tercatat memberi andil sebesar 0,17 poin persentase terhadap inflasi nasional.

Selain itu, beras juga berkontribusi dengan andil 0,15 poin persentase. Sementara itu, minyak goreng disebut memberi andil 0,12 poin persentase.

Rangkaian angka andil untuk item-item tersebut memperjelas bahwa inflasi pangan pada periode ini tidak hanya digerakkan satu komoditas, melainkan menyebar pada beberapa kebutuhan pokok yang umum dikonsumsi.

Efek El Nino jadi sorotan di balik tekanan harga

Setelah rincian komponen pangan, publikasi tersebut menyoroti kemungkinan faktor cuaca. Fenomena El Nino disebut semakin mendorong laju inflasi ke atas.

Dalam uraian sumber, risiko El Nino dinyatakan menjadi salah satu penyebab tingginya kenaikan harga pangan. Alasannya, produksi pertanian disebut mengalami gangguan.

Keterkaitan antara gangguan produksi pertanian dan kenaikan harga pangan menguat saat volatile food mencatat inflasi tinggi, baik secara tahunan maupun bulanan. Dengan demikian, tekanan yang muncul pada kelompok pangan dapat dibaca sebagai konsekuensi dari perubahan pada sisi pasokan.

Keseluruhan data BPS—mulai dari inflasi umum 3,28% yoy, inflasi bulanan 0,3% mtm, hingga besarnya andil kelompok makanan, minuman, dan tembakau—memberi gambaran bahwa dinamika harga masih dipengaruhi faktor-faktor yang bekerja lewat rantai pasok.

Karena kelompok volatile food tercatat tetap menekan inflasi dengan angka 5,03% yoy dan 1,46% mtm, pasar dan pembuat kebijakan perlu memperhatikan perkembangan harga pangan dari komponen-komponen yang menjadi penyumbang utama. Di periode ini, andil terbesar datang dari ikan segar, disusul daging ayam ras, cabai rawit, beras, serta minyak goreng.

Dengan El Nino yang disebut berpotensi mengganggu produksi pertanian, arah tekanan inflasi pangan tampak masih memerlukan pemantauan berkelanjutan. Fokusnya bukan hanya pada angka inflasi yang tercatat, tetapi juga pada komponen yang paling berperan dalam pergerakan harga, terutama yang terkait pangan.