jurnalistik.co.id – Marine Le Pen akan mengetahui nasib politiknya pada Selasa, saat Pengadilan Banding Paris menjatuhkan putusan pada pukul 13:30 (12:30 BST). Keputusan itu menentukan apakah vonis embezzlement terhadapnya dipertahankan, sekaligus memengaruhi peluangnya tampil dalam pemilihan presiden Prancis 2027.
Le Pen bukan wajah baru dalam pertarungan elektoral. Ia sudah tiga kali maju sebagai kandidat presiden, dan pada 2017 serta 2022 sama-sama finis di posisi kedua di belakang Emmanuel Macron.
Kali ini, ia memimpin di papan atas perolehan suara dengan jarak sekitar 10 bulan menjelang pemungutan suara. Bila ia pada akhirnya tidak bisa mencalonkan diri, Jordan Bardella dipersiapkan untuk mengambil alih posisi tersebut sebagai kandidat dari kelompoknya.
Pada persidangan banding yang berlangsung pada Januari dan Februari, Le Pen menolak bahwa ia mengatur skema tersebut. Meski demikian, ia mengakui adanya “a mistake” yang membuat sejumlah asisten parlementer bekerja “for the benefit of the party”.
Apa yang diputus pada banding ini?
Putusan Selasa menjadi penentu masa depan politik Le Pen karena berkaitan langsung dengan kelayakannya dalam pemilihan presiden. Putaran pertama pemilu dijadwalkan pada 18 April 2027, sedangkan babak kedua berlangsung pada 2 Mei.
Landasan perkara berawal dari vonis yang menyatakan Le Pen bersalah terkait penyalahgunaan dana. Pengadilan memutuskan bahwa ia melanggar ketentuan melalui embezzlement sebesar €1,4 juta (£1,2 juta) dari dana Parlemen Eropa (EP), yang digunakan untuk membayar pegawai partainya sendiri pada periode 2004-16, alih-alih membayar asisten parlementer.
Le Pen tercatat menjadi anggota EP sejak 2004 hingga 2017. Berdasarkan putusan awal, ia dinilai baik telah menyetujui maupun membiarkan skema pekerjaan fiktif tetap berjalan, sehingga hakim menyatakan ia tidak dapat mengikuti pemilihan 2027.
Dampak vonis awal: larangan jabatan dan hukuman penjara
Selain larangan, vonis awal juga memuat konsekuensi pidana. Pada 31 Maret 2025, Le Pen diberi larangan lima tahun untuk memegang jabatan publik setelah pengadilan menemukan bersalah dalam kasus tersebut.
Vonis pidananya berupa hukuman penjara empat tahun: dua tahun ditangguhkan dan dua tahun dijalani di rumah dengan perangkat pemantauan elektronik. Dalam laporan banding ini, tuntutan jaksa kembali menjadi fokus karena menyangkut durasi larangan yang akan menentukan apakah ia masih bisa maju.
Jaksa menginginkan agar larangan jabatan lima tahun tetap berlaku. Sementara itu, untuk bagian penjara, jaksa menilai hukuman empat tahun harus mencakup satu tahun yang dijalani dengan pemantauan elektronik serta tiga tahun lainnya ditangguhkan.
Le Pen sendiri menyatakan sikapnya bahwa ia tidak merasa takut terhadap putusan tersebut. Namun, ia juga meyakini kondisi tertentu dapat menutup peluangnya untuk maju.
Menurutnya, jika para hakim memutuskan ia harus memakai tag elektronik, maka ia menganggap pencalonan presiden “not possible”. Ia mengilustrasikan kekhawatian itu dengan pernyataan: “When you are a presidential candidate you must be completely free to move about… I can’t rely on a judge to allow me to hold a rally or go to a market.”
Kemungkinan hasil putusan banding
Secara garis besar, ada beberapa skenario yang bisa terjadi pada putusan Selasa. Salah satunya adalah pembebasan, yang berarti Le Pen akan terbebas dari status bersalah sehingga bisa mencalonkan diri dengan reputasinya tetap utuh. Opsi ini dipandang tidak mungkin terjadi.
Skenario berikutnya adalah putusan bersalah yang disertai larangan jabatan selama lebih dari dua tahun. Dalam kondisi ini, Le Pen tidak dapat menjadi kandidat, karena penghitungan waktu larangan terus berjalan sejak 31 Maret 2025.
Putusan bersalah dengan larangan yang lebih pendek juga mungkin, misalnya jika larangan jabatan diberikan hanya dua tahun atau kurang. Jika itu terjadi, ia dapat memiliki peluang untuk kembali mengikuti pemilu.
Ada pula kemungkinan putusan bersalah yang mempertahankan hukuman dengan mekanisme pemantauan elektronik. Jika pengadilan mengikuti rekomendasi jaksa dan masa hukuman empat tahun tetap sama, maka ia akan menghadapi satu tahun dengan tag elektronik, sementara sisanya ditangguhkan.
Banding bukan langkah akhir
Berita Terkait
Le Pen masih memiliki opsi untuk melawan putusan. Ia dapat mengajukan tantangan ke pengadilan tertinggi Prancis, Court of Cassation. Namun, ia diberi waktu 10 hari untuk memutuskan langkah tersebut, dan prosesnya diperkirakan tetap akan memakan waktu beberapa bulan sehingga dapat menghambat kampanye.
Le Pen mengisyaratkan bahwa ia tidak akan menjalankan opsi tersebut. Meski demikian, bahkan jika ia dibebaskan atau dinyatakan layak mencalonkan, jaksa tetap bisa mempertimbangkan langkah lanjutan dengan membawa perkara ke pengadilan tertinggi.
Le Pen dan posisi politiknya
Le Pen lahir sebagai putri bungsu dari Jean-Marie Le Pen, dan pada 2011 ia mengambil alih kepemimpinan National Front yang sejak 1972 dipimpin ayahnya. Ia membawa misi untuk “detoxify” citra partai tersebut.
Dalam perkembangannya, Le Pen memutuskan hubungan secara terbuka dengan ayahnya pada 2015, setelah Jean-Marie Le Pen dikeluarkan dari partai karena pandangannya terkait Holocaust. Tiga tahun kemudian, partai berganti nama menjadi Rassemblement National—National Rally (RN).
Meski dua kali kalah dari Emmanuel Macron untuk kursi presiden, pada 2024 RN meraih performa elektoral terbaiknya. Pada pemilu itu, koalisi dengan spektrum sayap kanan keras mengamankan 143 kursi dari 577 kursi di National Assembly.
Dalam banyak pembahasan, Le Pen menggambarkan dirinya sebagai pihak yang menjadi sasaran keadilan Prancis. Ia juga mengemukakan isu adanya “difference in treatment” dibanding sejumlah pemimpin lain yang partainya juga dinyatakan bersalah atas skema penipuan.
Namun, pengadilan pada proses awal menilai bahwa Le Pen berada dalam posisi yang menentukan terhadap skema pekerjaan fiktif tersebut. Hakim menyatakan ia “at the heart” dari skema itu dan menyebut ia “authoritatively and with determination embraced the system” yang dibangun oleh ayahnya.
Menjelang putusan, ia menyampaikan bahwa ia merasa tenang. Ia juga mengatakan bahwa perasaan takut bukanlah sesuatu yang familier baginya.
Dalam pernyataan lain, Le Pen menegaskan bahwa menjadi terhalang untuk mencalonkan diri akan “undoubtedly be painful”. Ia juga memperingatkan pada akhir pekan bahwa putusan ini penting karena “it could prevent our country functioning democratically”.
Ia menambahkan dalam wawancara dengan saluran berita LCI: “Whatever happens I won’t be dead, whatever happens I’ll continue to fight for my ideas,”. Menurutnya, perbedaannya adalah jika ia tidak lolos, ia berubah menjadi aktivis, bukan kandidat presiden.
Pada malam Selasa, setelah putusan meresap, Le Pen dijadwalkan menjelaskan niat politiknya pada program berita utama pukul 20:00 di TF1.
Rencana alternatif: Jordan Bardella
Jordan Bardella telah menjadi bagian dari tim Le Pen. Ia mulai terlibat dalam kampanye sejak usia belasan awal 20-an pada 2017, lalu secara bertahap mengambil peran lebih besar dalam struktur politik RN.
Sejak 2022, Bardella memimpin RN sebagai ketua partai. Setelah vonis embezzlement dijatuhkan tahun lalu, situasi itu membuat kebutuhan “Plan B” menjadi semakin jelas bagi kubu Le Pen, dan pada akhirnya Bardella ditetapkan sebagai kandidat pengganti.
Pada akhir pekan, Bardella menyampaikan kepada para pendukung: “I want to reiterate my total support, my total friendship, and that I’m committed to her in politics, to see her elected president of the republic.”
Le Pen juga menyatakan bahwa bila ia terpilih menjadi presiden, Bardella akan menjalankan peran sebagai perdana menteri. Tetapi ia menegaskan kesiapannya untuk menyerahkan peran tersebut jika hambatan hukum membuatnya tidak dapat maju, sembari bersumpah mendukung langkah politik Bardella: “if justice bars me from standing for the presidency”, dengan komitmen “great energy, great conviction and great confidence”.
Siapa lebih unggul: Bardella atau Le Pen?
Kampanye RN kepada pemilih menekankan pesan persatuan. Meski demikian, gagasan rencana alternatif kini tampak sudah diterima secara luas, terlihat dari pemberitaan perolehan suara terbaru yang menempatkan Bardella sedikit lebih baik dibanding Le Pen.
Dalam pembacaan jajak pendapat terakhir, keduanya berada di atas 30 persen untuk putaran pertama. Para pesaing politik menertawakan anggapan bahwa Le Pen dapat begitu saja membiarkan Bardella berjalan tanpa pengaruhnya, serta menilai skenario putaran kedua bisa menempatkan Bardella sebagai ancaman yang lebih besar—meskipun berdasarkan argumen mereka, hal itu dipengaruhi oleh minimnya pengalaman politik yang relatif dibanding Le Pen.
Bardella akan menginjak usia 31 tahun pada bulan September. Di sisi lain, politisi dari kubu konservatif, Bruno Retailleau, pernah melontarkan sindiran beberapa bulan lalu terkait usia figur presiden. Ia mengutip pandangan bahwa Emmanuel Macron mungkin “loved having a 40-year-old president” dan “You’ll certainly adore having a president of 30.”












