Otomotif

Khawatir Risiko Terbakar, Ada Operator Kapal Penyeberangan Tolak Mobil Listrik

1
×

Khawatir Risiko Terbakar, Ada Operator Kapal Penyeberangan Tolak Mobil Listrik

Sebarkan artikel ini
Takut Risiko Terbakar, Ada Kapal Penyeberangan Tolak Mobil Listrik Otomotif 3 Juni 2026
Ilustrasi: Takut Risiko Terbakar, Ada Kapal Penyeberangan Tolak Mobil Listrik

jurnalistik.co.id – JAKARTA — Pertumbuhan populasi kendaraan listrik di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Namun, di lapangan masih ada tantangan yang dirasakan pengguna mobil listrik, terutama ketika harus menyeberang antarpulau menggunakan kapal penyeberangan.

Ketua Umum Komunitas Mobil Elektrik Indonesia (KOLEKSI), Arwani Hidayat, mengatakan ada sejumlah operator kapal yang enggan mengangkut kendaraan listrik. Menurut dia, persoalan itu lebih banyak dipicu kekhawatiran internal ketimbang aturan yang jelas di lapangan.

“Dari teman-teman, terus yang penyeberangan di atas 4 jam memang ada problem, yang jelas regulasi terkait itu tidak ada yang mengatur sebetulnya. Hanya karena ketakutan-ketakutan internal. Perusahaan pelayaran yang di bawah kendalinya hub laut itu memang kemudian membuat aturan masing-masing. Tapi mayoritas itu tidak bersedia menyeberangkan atau mengapalkan EV,” kata Arwani kepada Kompas.com, Selasa (2/6/2026).

Arwani menyebut kekhawatiran yang paling sering muncul berkaitan dengan risiko kebakaran baterai atau fenomena thermal runaway yang kerap dikaitkan dengan kendaraan listrik. Karena alasan itu, ada operator kapal yang memilih menolak pengangkutan mobil listrik.

“Itu banyak yang tidak mau ngangkut, termasuk kapal-kapal, tidak mau ngangkut dengan alasan ketakutan nanti kalau terjadi kebakaran atau thermal runaway pada mobil ini, melihat pada kasus-kasusnya. Itu juga kasus spesifik, satu-dua saja di dunia,” katanya.

Menurut Arwani, rasa waswas itu muncul setelah sejumlah insiden kebakaran kendaraan listrik mendapat perhatian luas di beberapa negara. Meski begitu, ia menilai kasus seperti itu sebenarnya sangat sedikit jika dibandingkan dengan jumlah kendaraan listrik yang beroperasi di seluruh dunia.

Ia juga mengingatkan bahwa mobil listrik yang dijual di Indonesia pada dasarnya juga datang lewat jalur laut. Bahkan, pengiriman dari negara asal ke Indonesia membutuhkan perjalanan kapal yang jauh lebih lama dibandingkan penyeberangan antarpulau di dalam negeri.

“Padahal mereka tidak melihat bahwa EV itu datang ke Indonesia kan didatangkan melalui kapal, ya berpuluh-puluh hari, gitu kan,” ujarnya.

Arwani menambahkan, proses pengiriman kendaraan listrik dari negara asal ke Indonesia selama ini dilakukan menggunakan kapal khusus pengangkut kendaraan. Menurut dia, selama proses itu tidak pernah muncul masalah kebakaran seperti yang dikhawatirkan sebagian operator penyeberangan.

“Itu pakai kapal-kapal pengangkut EV dan tidak ada yang kebakaran. Tidak ada yang kebakaran, gitu,” kata dia.

Meski demikian, kekhawatiran di kalangan operator kapal disebut tetap ada. Arwani menduga salah satu pemicunya adalah insiden kebakaran yang pernah terjadi di Korea Selatan dan sempat menjadi sorotan internasional. Peristiwa itu, kata dia, kemudian membentuk persepsi bahwa kendaraan listrik memiliki risiko kebakaran yang tinggi.

“Jadi karena pernah ada kebakaran di Korea, gitu, yang EV kemudian melahap seluruh gedung, maka kemudian ada ketakutan-ketakutan pada mereka,” ujar Arwani.

Fenomena ini menunjukkan bahwa pertumbuhan mobil listrik di Indonesia tidak hanya menghadapi tantangan di sisi infrastruktur pengisian daya atau adopsi konsumen. Di jalur penyeberangan, kendaraan listrik juga berhadapan dengan sikap kehati-hatian operator yang belum tentu memiliki landasan aturan seragam.

Dalam pandangan Arwani, situasi tersebut perlu dilihat secara lebih proporsional. Pasalnya, kendaraan listrik sudah lebih dulu bergerak di rantai logistik internasional melalui kapal pengangkut kendaraan, dan proses itu berlangsung dalam waktu yang jauh lebih lama dibandingkan penyeberangan antarpulau yang menjadi persoalan di dalam negeri.

Namun, selama kekhawatiran terhadap thermal runaway dan risiko kebakaran masih dominan di level operator, pengguna mobil listrik tampaknya tetap bisa menemui hambatan saat hendak menyeberang dengan kapal feri. Di titik ini, masalahnya bukan pada teknologi kendaraan listrik semata, melainkan juga pada persepsi risiko yang belum sepenuhnya seragam di lapangan.