Otomotif

BYD Keliru Kirim Unit Produksi 2025, Siapkan Refund Penuh hingga Rp 760 Miliar

×

BYD Keliru Kirim Unit Produksi 2025, Siapkan Refund Penuh hingga Rp 760 Miliar

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: BYD Salah Kirim Tahun Produksi Mobil, Siap Ganti Rugi Rp 760 Miliar

jurnalistik.co.id – BYD tengah menghadapi masalah serius di Australia setelah ditemukan kekeliruan massal terkait tahun produksi pada mobil listrik yang dibeli konsumen. Perusahaan menyebut persoalan itu berawal dari “kesalahan administrasi” dan menyiapkan opsi pengembalian dana penuh.

Masalah ini muncul ketika BYD menjual mobil produksi tahun 2025 kepada lebih dari 1.200 pelanggan yang sebenarnya memesan unit produksi tahun 2026. Dalam perkembangan selanjutnya, jumlah pemilik yang terdampak disebut mencapai 1.265 orang.

Pada praktiknya, sebagian pembeli menyadari bahwa kendaraan yang mereka terima bukan sesuai tahun produksi sebagaimana yang mereka bayangkan saat melakukan pemesanan. Kekeliruan tersebut kemudian memicu kebutuhan penyelesaian dengan skema kompensasi.

Awalnya, BYD menawarkan kompensasi sebesar 1.100 dollar AS kepada pelanggan. Namun, perusahaan kemudian mengubah arah kebijakan dan memilih untuk menawarkan opsi pengembalian dana penuh.

BYD berdalih bahwa kekacauan ini murni “kesalahan administrasi”. Menurut penjelasan perusahaan, kekeliruan tersebut membuat pelanggan menerima kendaraan yang secara teoritis akan bernilai lebih rendah pada saat pembelian dan penjualan kembali.

Juru bicara BYD Australia menyatakan permintaan maaf kepada pelanggan yang terdampak. “Ini adalah kesalahan administrasi yang disayangkan, dan kami meminta maaf kepada pelanggan yang terdampak atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan,” kata juru bicara BYD Australia tersebut.

Perusahaan juga mengklaim telah bergerak cepat untuk menutup celah agar kesalahan serupa tidak terulang. “Tim kami di kantor pusat telah bergerak cepat untuk menutup celah ini guna mencegah terulangnya kesalahan serupa,” ujar juru bicara BYD.

Dampak kesalahan ini disebut mengenai berbagai macam kendaraan BYD dengan harga yang berbeda. Meski begitu, proyeksi kerugian perusahaan dihitung berdasarkan asumsi harga rata-rata per unit berkisar 40.000 dollar AS, sehingga jika setiap pelanggan memilih opsi refund penuh, BYD diperkirakan menanggung kerugian sekitar 50 juta dollar AS atau setara Rp 760 miliar.

Dalam penelusuran yang dihimpun, BYD disebut keliru menggunakan dan mengomunikasikan tanggal setiap mobil meninggalkan pabrik, bukan tanggal mobil tersebut keluar dari jalur produksi. Dengan kata lain, informasi tahun produksi yang diterima pelanggan tidak merefleksikan tahapan keluarnya kendaraan dari proses produksi yang sebenarnya.

BYD juga dilaporkan membantah bahwa penawaran pengembalian dana baru diberikan sebagai akibat desakan dari sejumlah laporan media. Perusahaan menegaskan bahwa solusi sudah disiapkan dan akan diarahkan langsung kepada konsumen yang terdampak.

“Kami terus bekerja sama dengan semua pelanggan yang terdampak untuk membantu mereka dengan solusi, yang mencakup opsi pengembalian dana penuh atas harga transaksi pembelian awal mereka,” kata juru bicara BYD. Perusahaan menyebut banyak pelanggan juga telah menyatakan apresiasi atas dukungan yang diberikan.

Persoalan ini mencuat di tengah tren penjualan BYD yang sebelumnya bergerak positif. BYD bahkan baru saja menjadi merek mobil baru terlaris kedua di Australia pada bulan lalu, tepat di belakang Toyota.

Lonjakan permintaan disebut dipengaruhi oleh krisis Timur Tengah. Selain itu, peningkatan volume kedatangan unit juga turut membantu karena pengiriman mobil yang masuk ke pasar.

Di tengah kondisi tersebut, keluhan konsumen muncul setelah mereka menyadari adanya perbedaan informasi tahun produksi. Salah satu pemilik BYD Atto 3, Zoheb Khan, yang berbasis di Melbourne, menyampaikan pengalamannya setelah mendapatkan penjelasan terkait kontrak pembelian.

Menurut Zoheb Khan, ada seorang wanita yang mulai menjelaskan bahwa terjadi kesalahan administrasi pada kasus yang dialaminya. “mobil Anda sebenarnya dibuat pada tahun 2025, bukan seperti yang tertulis di kontrak,” katanya.

Ia juga mempertanyakan respons perusahaan atas persoalan yang menurutnya berdampak pada banyak pembeli. “Saya tidak melihat adanya rasa urgensi di perusahaan untuk menangani hal ini. Bagaimana mungkin kesalahan administrasi itu begitu besar, dengan begitu banyak orang dan begitu banyak mobil?” ujarnya.

Meski opsi penyelesaian sedang disiapkan, tekanan eksternal terhadap investigasi tetap terdengar. Hingga saat ini, Komisi Persaingan dan Konsumen Australia (ACCC) disebut telah didesak oleh berbagai pihak agar menyelidiki kekeliruan massal tersebut.

Pihak otoritas terkait belum mengumumkan rencana resmi untuk melakukan investigasi. Namun, situasi ini tetap menjadi perhatian karena melibatkan perubahan informasi tahun produksi yang memengaruhi nilai transaksi mobil yang dibeli konsumen.

Bagi BYD, penanganan kasus ini menjadi tantangan besar karena jumlah pelanggan yang terdampak disebut mencapai lebih dari 1.200 orang hingga 1.265 pemilik. Dengan skema pengembalian dana penuh, proyeksi kerugian pun menjadi pembahasan utama di tengah upaya perusahaan meredam ketidaknyamanan konsumen.