Hukum & Kriminal

Warga Sebut Pak Ogah di Kapuk Jakbar Kerap Memalak Sopir Truk dan Kendaraan Pelat Luar Daerah

0
×

Warga Sebut Pak Ogah di Kapuk Jakbar Kerap Memalak Sopir Truk dan Kendaraan Pelat Luar Daerah

Sebarkan artikel ini
Warga Sebut Pak Ogah di Kapuk Jakbar Sering Palak Sopir Truk dan Plat Luar Daerah News 3 Juni 2026
Ilustrasi: Warga Sebut Pak Ogah di Kapuk Jakbar Sering Palak Sopir Truk dan Plat Luar Daerah

jurnalistik.co.id – Aksi pungutan liar dan pemalakan oleh pengatur lalu lintas liar atau Pak Ogah di kawasan Jalan Raya Kapuk Cengkareng, Jakarta Barat, disebut sudah berlangsung lama dan membuat warga resah. Di titik pertigaan antara Jalan Raya Kapuk Cengkareng dan Jalan Kapuk Kamal Raya, keberadaan mereka kembali terlihat saat arus kendaraan melintas di kawasan yang kerap padat itu.

Saat dipantau di lokasi, tampak ada empat orang Pak Ogah yang berada di persimpangan tersebut. Mereka terlihat mencoba mengatur arus lalu lintas sambil menahan laju kendaraan dari arah lain. Dalam beberapa kesempatan, mereka juga tampak mengetuk kaca mobil yang lewat ketika pengemudi tidak memberikan uang.

Menurut keterangan warga, perilaku semacam itu bukan hal baru. Para Pak Ogah disebut kerap tidak segan memaksa ketika meminta uang, terutama kepada sopir truk pengangkut logistik yang melintas di kawasan tersebut.

Rafli (24), warga sekitar, menyebut aksi pemalakan di lokasi yang dikenal sebagai Pertigaan Metro itu sudah menjadi pemandangan harian. Ia mengatakan, sasaran utama komplotan Pak Ogah di sana adalah truk logistik, terutama kendaraan dengan pelat nomor luar daerah.

“Setiap hari itu mah, biasanya maksa-maksa truk seringnya, atau kadang angkot. Kalau mobil pribadi sebenarnya jarang sih, lagi kepepet aja kali dia sampai maksa mobil pribadi,” ujar Rafli saat ditemui Kompas.com di lokasi kejadian, Rabu (3/6/2026).

Rafli menuturkan, para pelaku juga kerap bergantian berjaga di area itu dan memanfaatkan situasi macet sebagai momen untuk meminta uang. Menurut dia, keberadaan mereka sudah terpantau sejak siang, meski jumlahnya biasanya belum sebanyak saat sore dan malam ketika kemacetan makin parah.

“Dari dulu itu udah lama ada, mereka dari siang udah ada, tapi enggak seramai kalau sore sama malam, pas macet soalnya,” ucapnya.

Ia menjelaskan, jalur di sepanjang kawasan Kapuk memang dikenal sebagai salah satu titik kemacetan paling berat, terutama pada jam sibuk sore hari. Kondisi itu disebut ikut membuka ruang bagi para Pak Ogah untuk beroperasi dan mencari kendaraan yang bisa dipaksa memberi uang.

Meski begitu, Rafli mengakui keberadaan mereka kadang dianggap membantu oleh sebagian pengendara karena mencoba mengurai lalu lintas di titik yang padat. Namun, ia menegaskan hal itu tidak bisa dijadikan pembenaran untuk pungutan liar yang dilakukan secara memaksa.

“Sebenarnya kadang membantu sih, cuma ya gitu enggak enaknya, dia maksa-maksa. Kalau bisa ya ditertibin,” ujarnya.

Kesaksian serupa juga disampaikan Tania (26), warga lainnya. Ia membenarkan bahwa Pak Ogah memang ada di area pertigaan Metro dan bekerja secara kelompok.

Menurut Tania, pola kerja mereka berlangsung bergantian dari hari ke hari. Keberadaan beberapa orang di titik yang sama membuat aktivitas pengaturan lalu lintas liar itu terus terlihat berulang, terutama saat kendaraan mulai menumpuk dan arus menjadi tersendat.

Di lokasi, kondisi itu membuat pengendara tak hanya dihadapkan pada kepadatan jalan, tetapi juga pada permintaan uang yang disebut warga sering dilakukan secara mendesak. Situasi tersebut menambah daftar keluhan warga terhadap praktik pungli yang berlangsung di salah satu simpul lalu lintas tersibuk di kawasan Kapuk.

Warga berharap keberadaan Pak Ogah di titik tersebut bisa segera ditertibkan agar arus lalu lintas tidak lagi disertai tekanan kepada pengendara. Bagi mereka, persoalan utamanya bukan sekadar kemacetan, melainkan praktik memaksa yang dinilai mengganggu dan meresahkan, terutama bagi sopir truk logistik serta kendaraan berpelat luar daerah yang kerap menjadi sasaran.

Dengan kondisi yang disebut sudah berlangsung lama, warga menilai penanganan di lokasi itu perlu dilakukan secara tegas dan konsisten. Mereka juga berharap pengaturan lalu lintas di kawasan tersebut tidak lagi dibiarkan bergantung pada kelompok liar yang justru memunculkan masalah baru di tengah kemacetan yang sudah berat.