jurnalistik.co.id – BMW memang dikenal memberi kenyamanan berkendara dan performa yang responsif. Namun, pada kondisi tertentu seperti genangan air atau banjir, pemilik juga perlu paham komponen mana yang berisiko menimbulkan biaya perbaikan besar.
Salah satu bagian yang perlu diwaspadai adalah sistem kemudi berteknologi elektrik, yakni Electronic Power Steering (EPS). Asep Kurnia, pemilik bengkel spesialis BMW Esa Motor di Ciganjur, Jakarta Selatan, menegaskan bahwa sektor kemudi memiliki titik kerentanan tersendiri ketika mobil diterjang air.
Dalam praktiknya, perbaikan pada mobil BMW memang cukup sering terkait kaki-kaki dan sistem kemudi. Asep menjelaskan kerusakan umumnya muncul seiring usia pakai, tetapi ada isu krusial pada BMW lansiran tahun 2010 ke atas yang menggunakan EPS.
“Mobil-mobil generasi ini sudah menggunakan Electronic Power Steering (EPS). Posisinya cukup rawan terkena air jika melewati genangan atau banjir,” kata Asep kepada Kompas.com.
Transisi teknologi kemudi dari sistem hidraulis ke elektrik pada dasarnya menawarkan kenyamanan sekaligus efisiensi. Akan tetapi, fitur modern itu juga membawa celah ketika mobil harus melewati lingkungan jalan yang rentan genangan pada musim hujan.
Menurut Asep, paparan air pada komponen EPS tidak boleh dianggap remeh. Selain dapat merusak modul elektronik di dalamnya, ada risiko yang berhubungan dengan keselamatan saat mobil tetap dipakai melaju dalam kondisi air yang lebih tinggi dari batas aman.
Jika EPS kemasukan air lalu mengalami kerusakan, setir bisa langsung mengunci atau menjadi sangat kaku. Kondisi seperti ini membuat pengemudi menghadapi situasi yang tidak ideal ketika berbelok atau mengatur laju kendaraan di area dengan arus genangan.
Kerentanan tersebut, kata Asep, umumnya dijumpai pada jajaran BMW di era transisi teknologi kemudi elektrik. “Titik kelemahannya ada di situ, terutama pada tipe E90 akhir, F10, dan F30,” ujarnya.
Berita Terkait
Asep juga memberi patokan praktis terkait tinggi genangan yang sebaiknya dihindari. Ia menyarankan agar mobil tidak dipaksakan ketika ketinggian air sudah mencapai seperempat ban.
Anggaran perbaikan bisa tembus puluhan juta
Ketika komponen EPS sudah telanjur rusak akibat terendam air, pemilik kendaraan perlu menyiapkan biaya yang cukup besar. Asep menjelaskan proses perbaikannya kerap menuntut penggantian unit secara lebih menyeluruh karena sistem elektroniknya merupakan bagian yang sensitif.
Di bengkelnya, kisaran biaya penggantian komponen berada pada angka Rp10 juta sampai Rp20 jutaan untuk barang copotan. Besaran tersebut tetap bergantung pada seri serta model mobil yang ditangani.
Jika memilih jalur suku cadang baru, biayanya bisa jauh lebih tinggi. Asep menyebut harga komponen baru dapat berada di rentang Rp30 juta hingga Rp60 jutaan, mengikuti ketersediaan suku cadang di pasaran dan tahun pembuatan mobil.
Untuk model yang relatif lebih baru, tantangannya justru lebih besar pada sisi ketersediaan barang. “Kisaran Rp 10 juta itu biasanya untuk tipe lama, seperti E90. Untuk mobil-mobil BMW keluaran terbaru, karena komponen copotannya belum banyak tersedia di pasaran, mau tidak mau harus beli baru yang harganya di angka Rp 60 jutaan,” kata Asep.
Dengan kata lain, mencegah lebih awal menjadi langkah yang lebih rasional dibanding menghadapi konsekuensi kerusakan. Menghindari genangan air yang terlalu tinggi bukan hanya soal menjaga kebersihan mobil, tetapi juga upaya agar biaya perbaikan yang dapat mencapai puluhan juta tidak harus dikeluarkan.
Di musim hujan, kewaspadaan terhadap kondisi jalan menjadi bagian dari perawatan yang nyata bagi pemilik BMW. Patokan tinggi genangan, penilaian sebelum melewati titik rawan, serta keputusan untuk tidak menerobos air dapat membantu mengurangi risiko kerusakan EPS yang berdampak langsung pada fungsi kemudi.
Selain itu, informasi mengenai tipe yang berpotensi terdampak seperti E90 akhir, F10, dan F30 juga penting agar pemilik bisa lebih siap menghadapi situasi di lapangan. Dengan memahami karakter risiko EPS, pengemudi dapat mengambil pilihan yang lebih aman saat menghadapi genangan atau banjir.












