Olahraga

Messi Angkat Bicara Usai Argentina Kalah 0-1 dari Spanyol dan Gagal Juara Piala Dunia 2026

×

Messi Angkat Bicara Usai Argentina Kalah 0-1 dari Spanyol dan Gagal Juara Piala Dunia 2026

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Messi Buka Suara Usai Kalah dari Spanyol dan Gagal Juara Piala Dunia 2026

jurnalistik.co.id – Lionel Messi akhirnya angkat bicara setelah Argentina menelan kekalahan 0-1 dari Spanyol pada final Piala Dunia 2026. Dalam momen yang penuh kesedihan, sang kapten mengakui keunggulan lawan dan menerima hasil pertandingan.

Argentina datang ke partai puncak dengan target mempertahankan gelar, yang berarti mengukir sejarah sebagai negara pertama yang mampu mempertahankan Piala Dunia sejak Brasil melakukannya pada 1958 dan 1962. Namun, ambisi itu pupus ketika Spanyol memastikan kemenangan lewat satu gol di babak perpanjangan waktu.

Gol penentu kemenangan Spanyol dicetak Ferran Torres pada menit ke-106. Dengan skor tersebut, Spanyol merebut gelar juara dunia keduanya dalam sejarah mereka sekaligus mengakhiri perjalanan Argentina sebagai juara bertahan.

Usai pertandingan, Messi tampak sulit menyembunyikan emosinya. Ia menahan air mata saat menghampiri suporter Albiceleste, sementara para pemain Spanyol merayakan trofi keberhasilan mereka.

Dalam pernyataannya yang dikutip ESPN, Messi menyampaikan, “Saya merasa sedih, tetapi saya sadar kami sudah memberikan segalanya di lapangan.” Ia juga menegaskan bahwa menurutnya Spanyol tampil lebih baik sepanjang laga.

Messi menambahkan, “Mereka memang lebih baik, sejujurnya. Kami kalah dan kami menerima hasil itu. Namun, itu tidak berarti kami melupakan semua yang sudah kami lakukan sejauh ini. Saya ingin berterima kasih kepada rakyat kami, rekan-rekan setim, dan seluruh negara.” Kalimat itu menjadi semacam penutup sekaligus bentuk apresiasi bagi dukungan yang diterimanya selama turnamen.

Secara jalannya pertandingan, Spanyol benar-benar mendominasi jalannya laga. Tim asuhan Luis de la Fuente melepaskan 20 tembakan, sementara Argentina hanya mencatat satu percobaan yang baru terjadi pada menit ke-117.

Dominasi Spanyol juga terlihat dari angka distribusi bola dan kontrol permainan. Spanyol unggul jauh dalam jumlah operan, yakni 845 berbanding 433 milik Argentina, sehingga ritme serangan lebih sering berada di pihak La Furia Roja.

Messi dibatasi, Argentina sulit berkembang

Di sisi lain, Messi mendapat kesulitan untuk mengembangkan pengaruhnya. Pada babak pertama, ia hanya mencatat 15 sentuhan bola, lalu menutup laga dengan total 54 sentuhan selama pertandingan.

Spanyol dinilai sukses meredam megabintang Argentina yang sebelumnya selalu mampu mencetak gol atau memberikan assist pada setiap laga fase gugur Piala Dunia 2026. Di final, peran tersebut tidak sepenuhnya bisa terulang, karena tekanan permainan Spanyol membuat Argentina harus bekerja lebih ekstra untuk membangun peluang.

Hasil akhir ini juga meninggalkan makna besar bagi perjalanan Messi di ajang Piala Dunia. Final kali ini disebut kemungkinan menjadi penampilan terakhirnya di turnamen tersebut, mengingat usianya yang kini 39 tahun.

Messi juga mencatat capaian unik pada usia tersebut: ia menjadi pemain pertama yang menjadi starter dalam tiga final Piala Dunia. Bagi Argentina, trofi tidak kembali ke tangan mereka, tetapi pernyataan Messi tetap menunjukkan sikap menerima kenyataan sekaligus mengakui bahwa lawan memang tampil lebih kuat.

Usai peluit akhir, sorot yang tertangkap bukan hanya pada trofi, melainkan juga pada gestur penyerahan diri Messi di tengah momen yang sulit. Ia tidak menutupi kesedihannya, namun memilih menempatkan kekalahan sebagai bagian dari evaluasi pertandingan: menurutnya, Spanyol memang tampil lebih baik dan pantas meraih hasil tersebut. Di saat yang sama, ia tetap menyampaikan apresiasi kepada dukungan suporter Albiceleste, rekan setim, dan seluruh pihak yang ikut mendukung perjalanan Argentina hingga partai puncak.

Dari sisi permainan, kegagalan Argentina untuk menguasai ritme tampak konsisten sejak awal. Spanyol mampu menciptakan banyak serangan, tercermin dari total 20 percobaan yang mereka lepaskan, sementara Argentina hanya punya satu peluang yang baru benar-benar muncul pada menit ke-117. Perbedaan kontrol permainan juga terlihat pada distribusi bola, dengan angka operan 845 berbanding 433, sehingga Serangan La Furia Roja lebih sering mengalir dan membuat lawan harus bekerja lebih keras. Kondisi ini turut menekan Messi: ia hanya mencatat 15 sentuhan bola pada babak pertama, lalu berakhir dengan total 54 sentuhan selama laga.

Hasil ini juga menutup rangkaian ambisi Argentina di final dengan cara yang menyakitkan namun tegas. Mereka datang dengan tujuan mempertahankan trofi, sekaligus berpeluang menjadi negara pertama yang berhasil melakukannya sejak Brasil pada 1958 dan 1962. Namun, jalan menuju sejarah runtuh ketika Spanyol menuntaskan laga lewat gol pada menit ke-106 oleh Ferran Torres di masa perpanjangan waktu. Dengan demikian, Spanyol meraih gelar juara dunia keduanya dan mengakhiri status Argentina sebagai juara bertahan. Untuk Messi sendiri yang kini berusia 39 tahun, final ini disebut-sebut sebagai kemungkinan penampilan terakhir di Piala Dunia, meski ia tetap mencatat capaian penting dengan menjadi pemain pertama yang menjadi starter dalam tiga final turnamen.