Olahraga

Obituari Kevin Keegan: Perjalanan karier yang naik-turun, karismatik dan penuh semangat

×

Obituari Kevin Keegan: Perjalanan karier yang naik-turun, karismatik dan penuh semangat

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Kevin Keegan obituary: Gifted, charismatic and passionate in career of highs and lows

jurnalistik.co.id – Phil McNulty mencatat, Kevin Keegan yang meninggal dunia pada usia 75 tahun dikenal sebagai salah satu figur paling karismatik dalam sepak bola—sosok yang menyatukan bakat, semangat, dan kepribadian yang membuatnya dicintai.

Kariernya penuh episode: dari masa sebagai bintang lapangan sampai menjadi manajer elite, dengan semua naik-turun yang menyertai perjalanan seorang tokoh berjiwa kompetitif.

Banyak orang mungkin paling sering mengingat masa jabatannya sebagai pelatih Timnas Inggris yang berujung tidak sesuai harapan. Namun reputasinya akan jauh lebih kuat sebagai pemain kelas dunia—di Liverpool dan Hamburg—serta saat memimpin Inggris.

Di kemudian hari, Keegan juga bersinar bersama Southampton dan Newcastle United, sebelum akhirnya kembali ke Tyneside dengan pengaruh yang dianggap begitu besar hingga membuatnya seolah menjadi bagian dari sejarah klub.

Naik ke puncak bersama Liverpool

Keegan lahir di Armthorpe dekat Doncaster, dan perhatian Bill Shankly muncul ketika ia masih bermain lebih dari 100 pertandingan untuk Scunthorpe United. Transfer Keegan ke Liverpool terjadi pada 1971 dengan nilai 35.000 poundsterling.

Ia sering dipandang sebagai pekerja keras yang membesarkan reputasinya lewat ketekunan. Penilaian itu benar adanya, tetapi Keegan tetap jauh lebih dari sekadar “tenaga tambahan”.

Dalam waktu kurang dari dua minggu setelah tiba di Liverpool, Shankly menyampaikan bahwa Keegan akan bermain untuk Inggris. Sebuah kalimat yang kemudian terasa seperti ramalan yang berbuah cepat.

Keegan memulai musim 1971-72 dengan mencetak gol debut bersama Liverpool pada hari pembuka kompetisi, saat menghadapi Nottingham Forest di Anfield. Golnya disusun melalui kerja sama dengan John Toshack.

Hubungan Keegan dan Liverpool tumbuh menjadi kemitraan yang terasa saling melengkapi. Keegan pun langsung menjadi bagian dari cerita besar di stadion.

Mereka bahkan diuji lewat tayangan televisi populer “Kick Off”, ketika Keegan dan Toshack duduk back-to-back mencoba menebak bentuk dan warna kartu yang sedang dipegang. Belakangan terungkap bahwa ada cermin di studio, sehingga keduanya dapat melihat kartu lawan.

Keegan menjadi ujung tombak dalam “generasi kedua” Liverpool yang sangat kuat di era Shankly. Di bawah mentor Skotlandia itu, Liverpool meraih tiga gelar liga, serta European Cup, FA Cup, dan dua kali UEFA Cup.

Keegan terlibat dalam seluruh rangkaian kejayaan tersebut. Ia juga mencetak dua gol ketika Liverpool menumbangkan Newcastle 3-0 pada final Piala FA 1974.

Kalimat yang kemudian dikenang datang dari komentator BBC, David Coleman: “Goals pay the rent – and Keegan does his share.”

Namun kisah sukses juga berdampingan dengan momen rumit. Pada Community Shield melawan Leeds United, Keegan menerima kartu merah setelah terlibat insiden dengan Billy Bremner, yang juga diusir.

Keduanya meninggalkan lapangan Wembley tanpa mengenakan seragam penuh. Johnny Giles disebut sebagai pemicu ketika ia mendaratkan pukulan kanan telak pada pemain Liverpool, meski Giles tidak menerima kartu merah.

Keberhasilan Liverpool terus berlanjut hingga final Piala UEFA 1972-73 melawan Borussia Mönchengladbach. Keegan mencetak dua gol pada leg pertama di Anfield.

Pertandingan leg itu akhirnya dimainkan pada percobaan kedua. Badai petir pada 24 jam sebelumnya membuat laga sebelumnya batal setelah hanya 27 menit berjalan.

Karena penjadwalan ulang, Shankly bisa memasukkan kembali Toshack yang semula dikeluarkan dari laga awal. Liverpool lalu menghancurkan lawan Jerman 3-0 dan menang agregat 3-2.

Prestasi itu terulang tiga tahun berselang, ketika Liverpool mengalahkan Club Brugge di bawah Bob Paisley. Keegan mencetak gol penting di Belgia, dan leg kedua berakhir 1-1 sehingga agregat menjadi 4-3.

Semangat bertanding Keegan bahkan tampak di luar lapangan. Pada 1976, ia ikut dalam serial BBC “Superstars” yang mempertemukan atlet dari berbagai cabang olahraga.

Tapi ia juga mengalami cedera siku dan bahu setelah terjatuh dari sepeda. Kejatuhan itu menjadi kemunduran yang jarang terjadi, mengingat energinya di lapangan selalu menonjol.

Keegan juga mencoba peruntungannya di dunia musik. Pada 1972, ia merilis singel berjudul “It Ain’t Easy”.

Pergeseran besar ke Hamburg

Tengah musim 1976-77, Keegan mengumumkan bahwa ia akan meninggalkan Liverpool di akhir kampanye. Keputusan itu sempat memunculkan kritik dari sebagian pendukung, tetapi juga membuktikan bahwa ia tidak pernah bermain “di balik brosur”.

Keputusan Keegan memberi Liverpool waktu menyiapkan pengganti, yaitu Kenny Dalglish. Keegan pun menutup masa di Anfield dengan penampilan terbaik pada momen tertinggi.

Di laga perpisahannya, ia melelahkan bek hebat Jerman, Berti Vogts, ketika Liverpool memenangi European Cup untuk pertama kali. Liverpool menang 3-1 atas Borussia Mönchengladbach di Roma.

Keegan kemudian pergi dengan catatan 100 gol dalam 323 penampilan. Ada pembicaraan mengenai kemungkinan pindah ke Real Madrid, tetapi pada akhirnya tujuannya adalah Hamburg.

Di Hamburg, Keegan mengalami periode yang sangat berhasil. Mereka menjadi juara Bundesliga pada 1978-79.

Meski begitu, ada juga kekecewaan: pada musim berikutnya, Hamburg kalah di final European Cup dari Nottingham Forest. Keegan tetap menunjukkan kualitas kelas dunia melalui Ballon d’Or pada 1978 dan 1979.

Pilihan Hamburg sempat mengejutkan banyak orang ketika ia meninggalkan Liverpool. Setelah kesulitan di awal untuk meraih kepercayaan rekan setim, ia kemudian menjadi sangat populer.

Popularitas itu tidak berhenti pada klub saja. Di tingkat nasional, publik menghargai sikap rendah hati Keegan dan kemauannya untuk berbaur.

Keadaan tersebut turut memperkokoh status Keegan sebagai superstar global. Ia tidak hanya terlihat di lapangan, tetapi juga muncul dalam iklan dan papan promosi di berbagai tempat.

Di bagian lain kariernya, Keegan juga menikmati waktu bersama Southampton. Dalam racikan Lawrie McMenemy, ia tampil bersama bintang-bintang berpengalaman seperti Alan Ball dan Mike Channon, meski Southampton tidak meraih trofi di The Dell.

Ketidakgenapan di Inggris sebagai pemain

Meski reputasinya besar, karier Keegan bersama tim nasional Inggris juga diwarnai ketidakgenapan. Ia mengumpulkan 63 caps selama hampir satu dekade, mencetak 21 gol, dan menjadi kapten sebanyak 31 kali.

Ia tercatat sebagai kapten dalam skuad Piala Dunia 1982. Tetapi pada pertandingan final, ia hanya cukup fit untuk tampil sebagai pemain pengganti, sehingga Mick Mills yang memakai armband.

Perjalanan Keegan bersama Inggris berjalan bertahap sejak debutnya di kualifikasi Piala Dunia di Wales. Musim panas 1974, ia juga pernah mengalami kekerasan saat skuad Inggris tiba di Belgrade untuk laga persahabatan melawan Yugoslavia di bawah Joe Mercer.

Di bandara, terjadi permainan di area bagasi yang membuat Keegan—salah satu pemain paling dikenal di skuad—dibawa ke ruang samping. Di sana, ia dipukul dan ditendang oleh petugas keamanan.

Setelah dilepas, Keegan tetap mampu mencetak gol penyama kedudukan di akhir laga yang berakhir 2-2. Peristiwa itu memperlihatkan sisi Keegan yang tetap bertahan meski situasi berbalik.

Ia sempat keluar dari skuad Inggris ketika dijatuhkan dari laga kandang melawan Wales pada 1975. Ia kemudian kembali setelah berdiskusi dengan manajer Don Revie.

Secara keseluruhan, Inggris gagal lolos ke Piala Dunia 1974 dan 1978. Pada Kejuaraan Eropa 1980 di Italia, ketika Keegan menjadi kapten, Inggris juga tidak mampu melaju dari fase grup.

Pola yang sama muncul di Piala Dunia Spanyol dua tahun berselang. Keegan kembali menjadi kapten, tetapi cedera punggung kronis membuatnya meninggalkan camp untuk mencari pengobatan spesialis di Jerman.

Ia tidak bermain hingga 26 menit terakhir pertandingan babak kedua melawan Spanyol. Dalam momen itu, Keegan melewatkan peluang sundulan yang sederhana, dan pertandingan berakhir tanpa gol sehingga Ron Greenwood beserta timnya tersingkir.

Setelah itu, Keegan tidak dipilih untuk skuad berikutnya di era Bobby Robson yang menggantikan Greenwood. Ia tidak bermain lagi untuk Inggris setelah keputusan tersebut.

Cinta pada Newcastle dan kembali ke Tyneside

Keangkuhan dan ambisi Keegan membuatnya akhirnya mengambil langkah ke Newcastle. Ia merasa Southampton, bahkan dengan manajemen Lawrie McMenemy, tidak sejalan dengan targetnya, sehingga ia menandatangani kontrak dengan Newcastle.

Newcastle saat itu masih berada di Divisi Dua lama, dan kesepakatan terjadi dengan nilai 100.000 poundsterling tepat sebelum awal musim 1982-83. Di debutnya, Keegan langsung mencetak gol saat menghadapi Queens Park Rangers.

Newcastle kemudian promosi ke kasta tertinggi pada 1983-84. Tetapi Keegan mengumumkan pensiun di akhir musim tersebut.

Keputusan itu dipicu oleh peristiwa dalam laga Piala FA putaran ketiga di Anfield, ketika ia tertangkap oleh bek Liverpool Mark Lawrenson saat berpeluang bersih. Liverpool memenangkan laga itu 4-0.

Keegan menilai ia kehilangan “yard” kecepatan yang penting. Ia pun meninggalkan St James’ Park setelah pertandingan terakhirnya, yaitu laga testimonial melawan Liverpool, masih mengenakan kit Newcastle, sebelum akhirnya dibawa pergi dengan helikopter.

Keegan pindah ke Spanyol bersama keluarganya dan keluarga berjanji ia tidak akan masuk manajemen. Tetapi pada 5 Februari 1992, hampir delapan tahun sejak laga terakhirnya sebagai pemain, ia kembali ke Tyneside.

Gaya kepelatihan dan momen yang dikenang

Gaya kepelatihan Keegan identik dengan serangan yang serba agresif dan permainan yang menghibur. Terry McDermott, mantan rekan setimnya di Liverpool dan Newcastle, hadir sebagai bagian dari tim.

Sir John Hall menjadi figur karismatik yang menyusun strategi di luar lapangan. Meski demikian, ada perbedaan awal dengan Hall terkait uang transfer.

Keegan sempat melontarkan kalimat khas: “It’s not like the brochure.” Perbedaan itu kemudian cepat diselesaikan.

Setelah Newcastle berada di jalur yang tepat, Keegan bekerja untuk mengubah arah tim. Ia lebih dulu menyelamatkan Newcastle dari degradasi ke divisi tiga, sebelum mendorong promosi ke Premier League.

Pada musim 1993-94, Newcastle finis hanya di belakang juara Manchester United dan Blackburn Rovers. Keberhasilan itu ditopang gol serta kreativitas dari striker Andy Cole dan Peter Beardsley yang kembali.

Di fase-fase berikutnya, Keegan memimpin dengan karakter yang membuat timnya menantang penghormatan tertinggi. Walau pada akhirnya mereka tidak selalu mengangkat trofi, cara bermain itu meninggalkan kesan besar.

Waktu Keegan juga akan dikenang lewat ledakan televisi yang sangat terkenal. Ia berkata, “I will love it if we beat them”, yang diarahkan kepada Sir Alex Ferguson ketika Newcastle kehilangan keunggulan 12 poin dalam perebutan gelar musim 1995-96.

Terlepas dari naik-turun tersebut, cinta para Geordie kepada Keegan tidak meredup. Energi positif dan vibransi yang ia bawa membuatnya tetap menjadi figur yang disayang.