jurnalistik.co.id – Rodri mengunci Piala Dunia 2026 bersama Spanyol dan sekaligus menegaskan statusnya sebagai salah satu gelandang terbaik. Kemenangan 1-0 atas Argentina di final menjadi fondasi bagi raihan trofi terbesar dalam kariernya.
Dalam laga yang berlangsung di New Jersey pada hari Minggu, Rodri membawa Spanyol menjuarai Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak 2010. Hasil itu juga menghadirkan bintang kedua pada kostum nasional, sekaligus memberi Spanyol momen puncak setelah perjalanan panjang turnamen.
Selain mengangkat trofi, Rodri dinobatkan sebagai pemain terbaik sepanjang turnamen. Pencapaian tersebut melengkapi rekam jejak yang sudah sarat gelar, namun kali ini ditambah “yang terbesar” ke dalam daftar aksinya.
Meski lama identik dengan sukses bersama klub, performa Rodri di Piala Dunia membuat reputasinya bergerak ke level tertinggi. Ia menjadi figur kunci ketika Spanyol menutup pertandingan dengan skor tipis, sekaligus menunjukkan kendali dari lini tengah.
Untuk ukuran penghargaan individu, Rodri juga menguatkan sorotan di Golden Ball. Ia tercatat sebagai pemenang Golden Ball pertama dari Spanyol sejak penghargaan tersebut diperkenalkan pada 1978.
Di usia 30 tahun, pemain Manchester City ini kini berada di kelompok yang sangat terbatas. Rodri menjadi hanya pemain keempat dalam kategori putra yang mampu meraih Piala Dunia, Euro, Liga Champions, dan Ballon d’Or, bergabung dengan nama-nama seperti Gerd Muller, Franz Beckenbauer, dan Zinedine Zidane.
Kesuksesan itu terasa seperti berpuncak setelah periode yang tidak mudah. Sebelumnya, Rodri sempat berada dalam bayang-bayang keraguan setelah mengalami cedera ligamen anterior cruciate ligament (ACL) pada 2024.
Pertanyaan muncul tentang apakah ia bisa kembali ke bentuk terbaiknya. Setelah cedera itu, Rodri baru terlihat dalam momen-momen tertentu sepanjang musim berikutnya, sementara proses pemulihan menuntut waktu dan kesabaran.
Namun, Piala Dunia menjadi panggung yang menjawab semua keraguan tersebut. Rodri tidak hanya tampil, tetapi juga memimpin ritme timnya hingga Spanyol mencapai puncak turnamen.
Di tengah dinamika Spanyol, peran Rodri sering berjalan tanpa sorotan utama yang biasanya jatuh ke pemain dengan kreativitas mencolok. Jika Lamine Yamal menjadi sumber kelincahan dan ide-ide berbahaya bagi La Roja, Rodri berfungsi sebagai “pengatur jalannya permainan” di tengah lapangan.
Selama kompetisi, ia menyelesaikan 756 umpan, angka tertinggi untuk satu edisi Piala Dunia dan tercatat sebagai rekor sejak 1966. Ia juga tampil di seluruh delapan pertandingan Spanyol sepanjang perjalanan turnamen.
Kontribusinya tidak berhenti pada statistik umpan. Rodri mencatat 910 sentuhan, 428 umpan di area pertahanan lawan, serta 122 umpan terobosan yang membuka ruang permainan, termasuk 76 umpan terobosan yang datang dari wilayah sepertiga akhir.
Dalam konteks final Piala Dunia, hanya ada tiga momen sejak 1966 ketika seorang pemain mampu menyelesaikan 100+ umpan di pertandingan puncak. Dunga pada 1994 mencatat 130 umpan, Pau Cubarsi pada edisi tahun ini mencatat 121, dan Rodri menutupnya dengan 101 umpan.
Berita Terkait
Guillem Balague, jurnalis sepak bola Spanyol, menilai Rodri tampil sangat menonjol. Menurutnya, Rodri bukan hanya menjadi pemain yang menjalani menit bermain paling panjang di seluruh turnamen, tetapi juga memberikan kualitas umpan untuk menembus pemain bertahan, dalam kondisi terbaiknya seperti level Ballon d’Or.
Balague menegaskan bahwa Rodri berada pada ketajaman puncak dan “inilah timnya”. Pujian itu sejalan dengan cara Spanyol mengelola tempo pertandingan, terutama saat butuh ketenangan untuk mengunci kemenangan.
Bagi kariernya, perjalanan Rodri di turnamen ini juga membuka diskusi tentang masa depannya. Masa depan di Manchester City disebut masih menyisakan tanda tanya karena ia memiliki kontrak yang tersisa satu tahun, sementara Real Madrid diberitakan tengah menghubunginya.
Dalam kabar yang beredar, Jose Mourinho disebut sangat menginginkan hadirnya sosok Rodri. Madrid dinilai tertarik pada komposur, kemampuan bertahan, dan kontrol bola yang dimiliki gelandang asal Spanyol tersebut.
Meski demikian, Enzo Maresca selaku pelatih baru City tidak terlihat akan mudah melepas Rodri. Pada saat yang sama, skenario perpindahan tetap mungkin muncul karena durasi kontraknya tinggal satu tahun dan performa di Piala Dunia jelas menaikkan nilai tawarnya.
Musik sukses ini juga tidak lepas dari cara Rodri menjalani pemulihan cedera. Ia kembali setelah ACL yang ia alami pada September 2024, beberapa bulan setelah Spanyol meraih gelar Euro.
Setelah cedera tersebut, Rodri melewatkan sisa musim itu dan baru tampil secara lebih sporadis pada kampanye berikutnya. Di City, ia mencatat 33 penampilan di semua kompetisi, tetapi juga mengalami beberapa gangguan kebugaran yang membuat permainannya tidak selalu tampil konsisten.
Situasi itu membuat prediksi Pep Guardiola menjadi penting sebagai penanda waktu pemulihan. Pada Oktober tahun lalu, Guardiola memperkirakan bahwa Rodri belum akan tampil dalam versi terbaiknya sampai Piala Dunia, dan perjalanan berikutnya menunjukkan betul arah yang dimaksud.
Rodri sendiri menjelaskan bahwa proses kembali dari cedera seperti ACL tidak bisa instan. Ia menyebut butuh satu tahun untuk kembali pada level kebugaran terbaik, lalu satu tahun lagi agar bisa merasa seperti dirinya sendiri dan bermain dengan karakter yang sama seperti sebelum cedera.
Menurut Rodri, kunci utamanya adalah kesabaran dan keyakinan pada diri sendiri. Ia menekankan pentingnya mengetahui kapan harus berhenti dan kapan harus melanjutkan intensitas latihan maupun permainan agar pemulihan berjalan tepat.
Rodri juga menyampaikan bahwa ia melakukan pendekatan yang cerdas untuk mencapai kondisi saat ini. Ia menggambarkan bahwa percakapan yang ia lakukan dengan Guardiola, termasuk permintaan untuk menghentikan sesuatu agar tubuh siap untuk Piala Dunia, mengubah jalannya pemulihan.
Ia menambahkan bahwa masa itu terasa sangat berat, tetapi ia ingin generasi yang lebih muda memandang pengalamannya sebagai contoh. Baginya, ketika seseorang jatuh, ia bisa bangkit kembali, dan keyakinan itu menjadi filosofi dalam hidupnya.
Dengan semua rangkaian itu, Rodri kini tidak hanya membawa pulang trofi Piala Dunia, tetapi juga memantapkan narasi bahwa ia kembali ke performa terbaik. Kemenangan bersama Spanyol dan predikat pemain terbaik turnamen membuat namanya semakin sulit digeser dari daftar elit sepak bola dunia.
Dalam waktu dekat, pertanyaan terbesar mungkin bukan lagi apakah Rodri sanggup tampil pada level puncak. Melainkan bagaimana ia akan menjaga momentumnya dan langkah apa yang akan ia ambil setelah masa kontrak di Manchester City berjalan menuju akhir.












