jurnalistik.co.id – Michael Vaughan menilai pensiun mengejutkan Ben Stokes membuat Inggris harus melakukan perombakan yang lebih luas daripada sekadar kehilangan satu pemain besar.
Menurut Vaughan, Stokes tidak hanya meninggalkan kontribusi di lapangan, tetapi juga “persona” yang selama ini melekat pada cara Inggris bermain.
Pengumuman pensiun itu datang saat hari keempat Tes Ketiga melawan Selandia Baru—uji coba ketiga yang juga menjadi penentu—yang menjadi pertandingan terakhir Stokes di level internasional.
Stokes, yang berusia 35 tahun, tidak tampil pada Tes kedua setelah sebuah insiden di klub malam di London. Pada kesempatan itu, Inggris menanggung kekalahan telak di The Oval.
Vaughan menyebut momen tersebut seperti petunjuk tentang “hole” yang akan ditinggalkan pemain serba bisa sekaligus pemimpin tim.
“England have got to move forward now – it’s hard to say that when it’s only just happened,” ujar Vaughan kepada BBC Test Match Special.
Ia menambahkan bahwa yang harus dibangun ulang bukan hanya komposisi pemain, melainkan juga karakter dan sikap mental yang mengangkat performa tim.
“But they have got to look at how they build a team without Ben Stokes, and it’s not just the player – it’s the persona. “He’s got the winning mentality, and I have him as one of England’s greatest when the pressure’s on.”
Dalam laga di Trent Bridge, Stokes sempat “cleared” untuk kembali sebagai kapten pada Tes Ketiga. Ia menyampaikan keputusan pensiunnya kepada rekan-rekan setim sebelum waktu bermain dimulai pada hari keempat.
Setelah kabar itu dipublikasikan pada 15:25 BST, Stokes langsung menunjukkan dampak instan di lapangan. Dengan bola berikutnya, ia mencetak wicket.
Zak Foulkes ditangkap di slip kedua saat Inggris berupaya bangkit. Kondisi kemudian makin sulit karena Selandia Baru bergerak ke posisi yang semakin dominan setelah makan siang.
Bagi Vaughan, momen tersebut menjadi pengingat cepat tentang tantangan besar Inggris ketika harus menggantikan sosok “all-rounder” yang karismatik sekaligus penentu arah pertandingan.
“That was an immediate reminder of what England are going to miss,” tambahnya.
“That’s exactly why he is an England great. I didn’t see it coming [his retirement], but I did see the wicket coming because he has done that throughout his entire career.”
Ia menegaskan pola yang sama terlihat sepanjang karier Stokes, terutama saat Inggris butuh sesuatu untuk mengubah jalannya pertandingan.
“Whenever England need something, he has always delivered.”
Melalui sebuah video emosional yang dirilis oleh England and Wales Cricket Board (ECB), Stokes menyebut bahwa alasan di balik pensiunnya bisa menunggu. Dalam pandangan Vaughan, ia berharap dorongan keputusan itu bukan semata akibat gejolak yang terjadi dalam “tumultuous fortnight” belakangan.
“I’ll be so disappointed if it is, if English cricket has got to the stage where one of our greatest has had to step down because of the way that whole situation was handled,” kata Vaughan.
Ia menyebut beredar banyak rumor mengenai adanya pertikaian, namun tetap berharap yang terjadi bukan seperti itu. Vaughan juga berharap Stokes memilih berhenti karena pada akhirnya merasa sudah cukup.
“There were so many rumours about fallouts but I do hope that wasn’t the case, I hope that he just woke up one morning and said he’d had enough.
“He’s given it everything for such a long period of time.”
Vaughan menggambarkan keputusan itu sebagai sesuatu yang datang dari kesadaran pribadi, bukan karena satu kejadian yang mengubah segalanya secara tiba-tiba.
“It sounds like he’s just woken up and gone, ‘Nope, the fire just isn’t quite burning any more.’”
Selain itu, Vaughan juga mengangkat isu “lack of trust” antara Stokes dan manajemen Inggris. Baginya, kepercayaan seperti itu merupakan hal vital yang harus dimiliki seorang pemimpin tim.
Di Trent Bridge, penonton untuk hari terakhir pertandingan dan bab terakhir karier Stokes juga dibuat dapat diakses secara gratis pada Senin.
Pada saat Inggris memulai inning kedua, Stokes turun sebagai pembuka bersama Ben Duckett. Target yang harus dikejar Inggris adalah 373 run.
Stokes sempat mencetak 30 run dari 20 bola sebelum akhirnya tersangkut pada bola berikutnya. Ia “clipped” Foulkes, namun memantik momen yang berakhir pada tangkapan Daryl Mitchell di mid-on yang bergerak jatuh.
Dengan hasil itu, Stokes akan menghabiskan hari terakhirnya bukan dengan berada di lapangan, melainkan menonton dari balkon bersama para penonton dan rekan-rekannya.
Bagi Vaughan, keseluruhan rangkaian peristiwa—dari keterceraiannya jadwal akibat insiden, kepulangan sebagai kapten, hingga wicket setelah kabar pensiun—menjadi gambaran jelas tentang apa yang akan hilang dari Inggris: tempo, ketangguhan saat tekanan menekan, serta kemampuan mengambil peran ketika tim sedang membutuhkan jawaban cepat.












