jurnalistik.co.id – Inggris akan menghadapi DR Kongo di babak 32 besar Piala Dunia 2026. Ini laga yang mempertemukan kubu dengan lintasan berbeda: Inggris berangkat dengan target melaju jauh, sementara DR Kongo datang dengan momentum kebangkitan setelah lama menunggu di panggung turnamen terbesar.
DR Kongo menuntaskan penantian 52 tahun untuk kembali tampil di fase gugur Piala Dunia. Debut mereka pada 1974—saat masih dikenal sebagai Zaire—berakhir pahit, termasuk kekalahan 9-0 dari Yugoslavia yang mencoreng kiprah mereka di fase grup.
Kali ini, perubahan terasa sejak Zaire/DR Kongo berada di bawah arahan pelatih Sebastien Desabre. Ia membentuk tim yang lebih tertib secara taktik, sekaligus mampu membaca ritme pertandingan, setelah sebelumnya mengubah skuad yang sempat berada dalam situasi krisis.
Perjalanan DR Kongo ke babak 32 besar
Langkah DR Kongo dimulai dari hasil yang mereka catat sebagai pencapaian pertama mereka di Piala Dunia. Mereka menahan Portugal 1-1 untuk meraih satu poin sejarah, sebelum kemudian kalah 1-0 dari Kolombia.
Dengan kondisi itu, DR Kongo harus menang saat menghadapi Uzbekistan. Mereka meraih kemenangan 3-1 atas Uzbekistan dan melaju ke babak 32 besar sebagai salah satu tim peringkat ketiga terbaik.
Di momen taktik, Desabre sempat mencoba formasi lini belakang lima (back five) menjelang Piala Dunia. Pola itu dipertahankan untuk dua pertandingan awal, termasuk saat hasil imbang melawan Portugal, sebelum tim beralih ke skema 4-4-2 saat menutup fase grup dengan kemenangan atas Uzbekistan.
Gaya main: kekuatan dan cara DR Kongo merepotkan lawan
Kemajuan DR Kongo terutama bertumpu pada aspek pertahanan. Di bawah Desabre, mereka mencatat 29 clean sheet dalam 57 pertandingan, sebuah angka yang menegaskan konsistensi menahan tekanan lawan.
Selain solid secara defensif, DR Kongo juga menunjukkan ketahanan saat menghadapi momen sulit. Dalam kampanye kualifikasi yang berlangsung panjang—termasuk tiga laga play-off—mental tim ditempa hingga siap menghadapi tekanan turnamen.
Ruang yang terbuka untuk mereka biasanya muncul lewat serangan balik cepat. Cedric Bakambu dan Yoane Wissa menjadi dua sosok penting dalam memanfaatkan ruang di belakang pertahanan lawan melalui akselerasi dan lari cerdas.
Desabre juga membawa kesamaan pendekatan: ketika DR Kongo bisa mengandalkan pemain berbasis di Eropa, performa mereka meningkat dengan cara yang terukur. Rekor menunjukkan mereka tidak pernah kalah dengan selisih lebih dari satu gol dalam kondisi tersebut.
Sisi yang masih jadi perhatian
Meski pertahanan mereka membaik, DR Kongo tidak selalu berada dalam kebiasaan menghadapi lawan dengan peringkat teratas. Dalam tahun-tahun terakhir, mereka jarang berhadapan dengan tim peringkat 20 besar, kecuali Senegal dan Maroko—dan menghadapi keduanya mereka memiliki catatan yang kurang menguntungkan.
Faktor lain yang jadi perhatian adalah kebugaran serta kualitas permainan di periode 2025-26. Mayoritas starter reguler tim nasional disebut menghadapi kesulitan jam bermain di klub, sehingga kekurangan conditioning dan kualitas menjadi sinyal yang perlu diperhatikan sebelum duel melawan Inggris.
Pemain kunci: dari kapten hingga mesin gol
Chancel Mbemba, kapten sekaligus pemain dengan cap terbanyak, menjadi pusat identitas pertahanan DR Kongo. Pemain berusia 31 tahun itu tetap dianggap integral bagi tim, meskipun dua musim terakhir ia lebih sering berstatus figuran bersama klub-klub di Prancis.
Mbemba juga dikenal dari masa sebelumnya di Newcastle. Ia disebut masuk musim panas ini dengan status kontrak yang akan berakhir bersama Lille.
Noah Sadiki menambah dinamika lini tengah sejak mendapatkan debut pertamanya pada September 2024. Ia sempat mengejutkan ketika tidak masuk dalam daftar untuk dua laga Piala Dunia pertama, tetapi pengaruhnya belakangan terlihat lewat permainan yang penuh energi, atletis, dan kemampuan membawa bola.
Untuk Sunderland, Sadiki disebut sebagai “revelation” bernilai 15 juta pounds, dengan atribut yang membuat DR Kongo lebih berani mendorong permainan. Usianya 21 tahun, dan ia membawa unsur mobilitas yang berbeda dalam transisi.
Di sektor serang, Yoane Wissa menjadi salah satu nama paling menentukan. Perjalanannya pada 2025-26 sempat tersendat setelah kepindahan ke Newcastle dalam kesepakatan bernilai hingga 55 juta pounds, menyusul cedera serius lutut yang menunda debut.
Meski begitu, Wissa tetap menampilkan dampak signifikan pada fase grup Piala Dunia dengan tiga gol. Ia juga dicatat sebagai pemain Afrika peringkat pencetak gol tertinggi bersama pemain lain, dan Desabre menyatakan, “We’ve got him back to his best.”
Cedric Bakambu, yang berusia 35 tahun, meski menjadi anggota tertua skuad, tetap disebut salah satu yang paling efektif. Ia mencetak empat gol dalam babak kualifikasi Piala Dunia dan saat ini berada di ambang untuk menjadi pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah DR Kongo.
Desabre sendiri meniti karier pelatih yang panjang, dan ini menjadi peran kepelatihannya yang ke-11 di Afrika. Ia berusia 49 tahun, serta berhasil membawa DR Kongo lolos ke dua edisi Piala Afrika berturut-turut dan mencapai semifinal pada 2023, termasuk menuntun tim mencapai Piala Dunia.
Sebelum sukses di DR Kongo, Desabre juga pernah mencatat pengalaman yang menguntungkan bersama Uganda, yang memperkaya rekam jejaknya dalam membangun tim dari proses yang panjang.
Nuansa laga dan simbol perubahan
Prolog sejarah DR Kongo juga memberi konteks pada duel ini. Jeda 52 tahun antargelaran Piala Dunia mereka adalah salah satu yang terpanjang bersama negara lain, dan selama rentang itu kesabaran kerap terkikis oleh berbagai kendala seperti konflik, korupsi, tata kelola sepak bola yang buruk, serta keterbatasan fasilitas.
Tetapi perubahan itu kini terasa lewat generasi yang dibentuk dengan kesabaran. Desabre juga menghadirkan talenta dari diaspora besar, dan disebut bahwa hampir seluruh skuad Piala Dunia lahir di Eropa—hanya enam orang yang tercatat lahir di luar sana.
Dalam momen-momen yang lebih gelap, kisah Zaire pada 1974 menyisakan peristiwa yang bahkan mengundang perhatian politik. Saat Brazil mengeksekusi tendangan bebas, bek sayap Mwepu Ilunga keluar dari barisan pemain untuk menyepak bola—sebuah tindakan yang awalnya tak dipahami penonton sebagai protes. Pemain saat itu mempelajari bahwa upah dan bonus yang dijanjikan tidak akan dibayarkan, sedangkan Presiden Mobutu bahkan mengancam pengasingan jika Zaire kalah lebih dari tiga gol.
Namun rencana Ilunga untuk mengulur waktu dan berujung kartu merah tidak berjalan sesuai harapan. Ia hanya diganjar kartu dan Zaire kalah 3-0, yang kemudian membuat mereka tetap boleh pulang tetapi dana dipotong oleh Mobutu.
Kisah-kisah itu menjelaskan mengapa pepatah Kongo “little by little, grow the bananas” sering dikaitkan dengan nilai kesabaran dan kemajuan bertahap. Kini, ketika DR Kongo akhirnya kembali merasakan fase gugur, proses panjang tersebut seolah menemukan pembenaran di atas lapangan.
Babak 32 besar melawan Inggris akan menguji apakah soliditas defensif, serangan balik terukur, dan ketahanan mental yang dibangun Desabre cukup untuk menghadang tantangan tim yang lebih mapan. Tetapi dari cara mereka lolos, DR Kongo setidaknya sudah membuktikan satu hal: mereka datang bukan sekadar ikut, melainkan untuk menuntaskan narasi yang selama ini tertunda.












