Olahraga

Cole Palmer disebut korban “sistem sakit” yang membebani pemain, kata Maheta Molango

×

Cole Palmer disebut korban “sistem sakit” yang membebani pemain, kata Maheta Molango

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Cole Palmer: Chelsea forward "victim" of "sick" system, says PFA chief

jurnalistik.co.id – CEO Professional Footballers’ Association (PFA), Maheta Molango, menilai kondisi sepak bola saat ini menempatkan pemain dalam beban yang terlalu besar. Menurutnya, penarikan sejumlah pemain dari pemanggilan timnas adalah sinyal bahwa kalender pertandingan sudah tidak lagi berkelanjutan.

Molango mengaitkan penilaiannya dengan keputusan Cole Palmer yang mundur dari skuad Timnas Inggris pada jeda internasional terbaru. Baginya, situasi itu menunjukkan adanya “load management” yang pada akhirnya dipaksa terjadi karena tubuh pemain sudah berada di batas kemampuan.

Di hadapan Fifpro performance summit di London, Molango menyebut Palmer sebagai “victim” dari sistem yang “sick”. Ia menautkan alasan mundurnya pemain dengan jadwal pertandingan yang dianggap menuntut terlalu banyak, serta menyoroti perubahan besar yang terjadi di industri sepak bola modern. Molango menyatakan, “When England see five players who need to withdraw when the single most proud moment a player has is to be called up for the national team, you just ask yourself, what’s wrong about the industry?”

Molango juga menyinggung bahwa mundurnya Palmer menggambarkan pola yang sama dalam beberapa musim terakhir. Ia menyebut peluang bermain yang seharusnya didapat pemain ketika tidak harus menghadapi rangkaian kompetisi yang padat berturut-turut. Dalam komentarnya, ia mengatakan, “You see people like Cole Palmer, someone who would have played four consecutive summers in a row had he gone to the World Cup, and you wonder why is he missing?”

Ia menegaskan bahwa ketidakhadiran Palmer bukan semata-mata urusan keputusan individu, melainkan dampak dari desain kalender. Molango menambahkan, “He’s missing because he’s a victim of the calendar and that’s something that needs to absolutely trigger the alarm bells.”

PFA dan Fifpro, menurut pernyataan Molango, sebelumnya sudah berulang kali mengingatkan tentang konsekuensi dari kalender yang kian padat terhadap keselamatan dan kesejahteraan pemain. Dalam pandangannya, tren ini bahkan mengarah pada situasi di mana “survival of the fittest” menjadi logika yang dominan.

Ia juga menyoroti bahwa bukan hanya satu pemain yang terdampak. Laporan menyebut ada lima pemain yang mundur dari skuad Thomas Tuchel menjelang jendela internasional terbaru: Palmer, Marcus Rashford, Declan Rice, Kobbie Mainoo, dan Tino Livramento.

Menanggapi pernyataan Tuchel, Molango menilai argumen bahwa Palmer “misses too many opportunities” tidak sepenuhnya memahami realitas yang dialami pemain. Molango menilai pendekatan yang menyederhanakan persoalan menjadi urusan peluang bermain justru mengabaikan batas biologis tubuh. Ia menegaskan, “They [England players] love to play for England. They love to play for their national team. But unfortunately your body puts a limit to it. You cannot cheat biology.”

Molango kemudian memperluas kritiknya bahwa persoalan serupa tidak terbatas pada pemain Inggris. Ia menyebut contoh penarikan dari beberapa tim Eropa, termasuk Kai Havertz, Brian Brobbey, dan Kylian Mbappe, sebagai bukti bahwa masalah kalender menyentuh berbagai kompetisi dan liga.

Ia mempertanyakan arah yang sedang dibangun industri. Molango bertanya, “Is that really the football that we want?” serta menambahkan, “Is it the football where the people who make us dream just cannot perform? For me it’s very worrying.” Menurutnya, sistem yang berjalan sekarang “revolves around obtaining votes and power consolidation”.

Untuk mendorong perbaikan, Molango mengusulkan skema jeda yang lebih tegas: jeda musim panas selama tiga minggu yang bersifat wajib, disertai periode “retraining” selama tiga minggu pada setiap musim. Ia berharap perubahan semacam itu mampu mengurangi dampak kepadatan jadwal dan memberi ruang pemulihan yang nyata.

Namun, pandangan tersebut mendapat respons berbeda dari otoritas liga. Rebecca Caplehorn selaku chief football officer Premier League, disebut mendukung gagasan tersebut secara konsep, tetapi menilai penerapannya belum memungkinkan dalam kalender saat ini. Caplehorn menyatakan, “It’s something we’re really supportive of, conceptually, but the challenge is that it just doesn’t fit into the current calendar,” dan menambahkan, “There’s always something that’s preventing us having that six-week gap that we want. Without regulatory change and change to the calendar, it’s not possible for us to deliver that.”

Dengan konteks mundurnya pemain dari skuad tim nasional dan kritik terhadap kepadatan jadwal, Molango ingin industri menerima bahwa kesejahteraan pemain tidak bisa dianggap sebagai variabel yang bisa dinegosiasikan tanpa batas. Bagi dia, alarm yang dituntut bukan hanya soal satu pertandingan, melainkan tentang arah jangka panjang sepak bola yang menyeimbangkan tuntutan kompetisi dengan kemampuan tubuh manusia.