jurnalistik.co.id – Arsenal, juara Premier League, akan menghadapi Manchester City, tim peraih gelar FA Cup sekaligus runner-up liga, dalam laga Community Shield 2026 di Principality Stadium, Cardiff, Minggu ini.
Pertemuan yang juga diposisikan sebagai “tirai” musim baru itu memunculkan pertanyaan klasik: apakah trofi pembuka memang biasanya menjadi pertanda musim yang lebih baik, atau justru hanya kebetulan statistik?
Dengan latar dua klub besar dan reputasi kemenangan yang sering bertumpuk pada momen-momen kunci, pembacaan terhadap data historis menjadi cara untuk melihat sejauh mana Community Shield bisa dianggap sebagai indikator performa.
Community Shield: jarang berujung pada juara Premier League
Secara statistik, keterkaitan kemenangan Community Shield dengan keberhasilan di Premier League tidak setegas yang dibayangkan. Sejak kompetisi dimulai pada 1992-93, hanya delapan dari 34 pemenang Community/Charity Shield yang mampu melanjutkan langkah mereka untuk merebut gelar liga pada musim yang sama.
Lebih jauh lagi, lima di antaranya terjadi dalam rentang enam tahun dari 2005 hingga 2010. Manchester City menjadi tim terakhir yang melakukannya pada 2019, dan sebelum itu ada Manchester United racikan Alex Ferguson pada 2011.
Namun, pola itu tidak terus berlanjut dalam beberapa musim terakhir. Hanya satu dari 15 pemenang Community Shield dalam periode tersebut yang kemudian berubah menjadi juara pada musim yang sama.
Sementara itu, tren justru terlihat lebih “menggoda” dari sisi tim yang kalah. Sejak 1992, tim yang kalah Community Shield justru mencatat lebih banyak gelar liga pada musim berikutnya, dengan total 10 titel. Rinciannya termasuk Manchester City yang mampu meraih gelar tiga tahun berturut-turut antara 2021 dan 2023.
Contoh lain datang dari musim lalu. Crystal Palace mengalahkan Liverpool untuk memenangi Community Shield, tetapi mereka akhirnya finis di posisi 15. Meski begitu, Palace tetap memberi kejutan di kompetisi lain dengan memenangi Conference League. Di sisi sebaliknya, Liverpool menjalani kampanye domestik yang mengecewakan dengan finis di peringkat kelima.
Siapa yang terlibat dan siapa yang mengungguli juga tidak tunggal
Selain soal “si pemenang”, data juga menunjukkan bahwa keterlibatan pemenang Community Shield dalam Premier League tidak selalu berbanding lurus dengan hasil akhir. Sekitar 47% dari waktu—16 dari 34—juara Premier League pada musim berikutnya tidak ikut bermain di Community Shield. Arsenal sendiri menjadi contoh pada 2025-26.
Di sisi lain, pada 53% kasus—18 dari 34—pemenang Shield justru finis lebih tinggi dibanding tim yang kalah di klasemen liga pada musim yang sama.
Ada pula momen ketika kedua tim yang bertemu di Community Shield kemudian menutup musim sebagai dua teratas Premier League. Hal itu tercatat terjadi di 10 kesempatan, dengan empat di antaranya pemenang Shield berada di posisi teratas, sedangkan tim yang kalah menjadi runner-up.
Dengan gambaran tersebut, trofi tetap penting, tetapi ia tidak otomatis mengubah lintasan musim. Community Shield lebih mirip “batu ujian awal” yang manfaatnya tidak selalu terlihat langsung dalam klasemen liga.
Berita Terkait
Peraih tiket berdasarkan gelar liga atau piala juga beragam
Community Shield juga sering dibaca dari siapa yang datang dengan status juara musim sebelumnya—baik juara liga maupun peraih gelar piala. Namun, lagi-lagi hasilnya tidak mutlak. Dari 34 edisi sejak 1992, pemenang Community Shield yang berasal dari juara Premier League musim sebelumnya tercatat 18 kali, atau 53%.
Tetapi, dalam waktu-waktu lebih dekat, frekuensi ini disebut semakin tidak konsisten. Salah satu indikator yang menonjol adalah peran FA Cup: termasuk Crystal Palace, tim peraih FA Cup memenangkan delapan dari 12 Shield terakhir.
Pencapaian semacam itu hanya terjadi lima kali dalam 22 edisi sebelumnya. Bahkan, pada tiga edisi era Premier League, tidak ada satupun tim yang datang sebagai juara liga atau juara piala yang mampu merebut gelar Community Shield.
Kasus yang menarik adalah ketika Arsenal dan Manchester United masuk lewat jalur runner-up. Arsenal tampil sebagai runner-up Premier League pada 1999 dan 2023, sedangkan Manchester United pada 2010, lalu tetap mampu mengalahkan tim “Double winners” dalam laga Community Shield.
Rekam jejak pencetak gol: efeknya juga tidak seragam
Jika Community Shield tidak selalu menjamin musim liga yang gemilang, bagaimana dengan dampak pada para pencetak gol? Di sini pun ceritanya terasa campur aduk. Untuk Crystal Palace pada 2025, Jean-Philippe Mateta dan Ismaila Sarr masing-masing masuk daftar pencetak gol, dan keduanya mengumpulkan total 37 gol di musim berikutnya.
Contoh lain datang dari Liverpool dan dinamika baru di lini serang. Hugo Ekitike mencatat gol pertamanya dari total 17 gol di musim debutnya bersama Liverpool, sementara Jeremie Frimpong tidak mengalami kampanye awal yang sangat baik setelah turut membobol gawang pada Community Shield.
Pada 2023, Cole Palmer menjadi pencetak gol untuk Manchester City saat mereka menghadapi Arsenal. Pada laga itu, City pada akhirnya kalah melalui adu penalti setelah Leandro Trossard menyamakan kedudukan pada masa injury time. Meski demikian, perjalanan Palmer setelah momen tersebut justru menanjak: ia kemudian mencetak 22 gol Premier League dan dinobatkan sebagai young player of the season untuk Chelsea, klub yang ia bela setelah kepindahan senilai £42.5m.
Namun, tidak semua kasus berjalan dengan pola serupa. Pada musim sebelumnya, Darwin Nunez mencetak gol saat debut bersama Liverpool, sementara Erling Haaland gagal mencatat gol pada penampilan awalnya bersama City. Diskusi pasca-laga bahkan sempat berputar pada penilaian bahwa Nunez tampil lebih baik.
Tetapi pada akhirnya Haaland tetap mencatat musim besar dengan 52 gol, sedangkan Nunez mencetak 15 gol. Sementara itu, Kelechi Iheanacho hanya menambah empat gol Premier League setelah menjadi pemenang Community Shield pada 2021.
Ada pula contoh yang menunjukkan “dorongan” dari gol Community Shield yang terasa lebih nyata. Pada 2019, Raheem Sterling mencetak gol untuk City dalam laga Shield melawan mantan klubnya, Liverpool, dan momen itu menjadi pemantik musim paling produktif dalam kariernya, dengan torehan 31 gol.
Jadi, ketika Arsenal dan Manchester City berebut trofi pembuka, yang paling masuk akal adalah menempatkan Community Shield sebagai pengukur bentuk sesaat—bukan jaminan. Data sejarah memberi sinyal bahwa hubungan antara kemenangan Shield dan keberhasilan musim sering kali tidak lurus, bahkan kadang justru tampak lebih jelas pada tim yang kalah.
Dengan kata lain, Community Shield 2026 mungkin akan menampilkan kualitas dan ketajaman kedua tim, tetapi arah musim tetap akan ditentukan oleh konsistensi panjang, bukan satu kemenangan di akhir pekan pertama.












