jurnalistik.co.id – Keely Hodgkinson menutup kalender yang campur aduk dengan cara yang meyakinkan saat Athlos melakukan debutnya di London. Ia memenangkan nomor 800 meter dengan performa dominan, termasuk lewat penggunaan speed suit kustom yang dirancang untuk mengurangi hambatan udara.
Di StoneX Stadium yang berstatus sellout, Hodgkinson tampil sebagai sorotan sejak keluar menuju panggung dan langsung disambut teriakan penonton. Ia menunjukkan balutan all-black aerodynamic outfit pada edisi ketiga ajang atletik khusus perempuan tersebut, lalu mengambil alih jalannya lomba sejak bagian back straight.
Langkah Hodgkinson membuat persaingan cepat meredup. Ia akhirnya menyentuh garis finis dalam 1 menit 56,40 detik—sebuah kemenangan yang menjadi pembuka akhir tahun yang lebih positif untuk atlet berusia 24 tahun itu.
Speed suit besutan Nike dan momen “speed meeting style”
Busana yang ia kenakan menjadi bagian dari cerita Athlos malam itu. Hodgkinson menyebut speed suit tersebut merupakan hasil proyek yang ia kerjakan bersama Nike dalam waktu panjang, dan ia merasa tempat serta nuansa acara menjadi konteks yang tepat untuk memperkenalkannya.
“This is a project we have been working on with Nike for a long time. We thought: What a perfect place to bring it out, speed meeting style, all women’s event. It went down a treat.”
Speed suit itu dibuat full-body dengan detail yang menonjol: bagian belakang dibiarkan terbuka, sementara hood dilengkapi bukaan untuk ekor kuda. Pada area-area kunci, terdapat elemen 3D-printed yang dapat berubah warna, yang dirancang untuk menekan drag. Ia memadukannya dengan kacamata gelap dan sepatu lari terbaru dari Nike yang memakai carbon-plated spikes.
Dengan kombinasi tersebut, Hodgkinson berhasil meraih kemenangan pertamanya sejak London Diamond League pada bulan Juli. Untuknya, kemenangan malam itu tidak datang dari tahun yang mulus—sebaliknya, perjalanan sepanjang musim diwarnai rekor, pemulihan, hingga kendala fisik.
Ia sebelumnya mencatat musim indoor yang membawanya meraih gelar dunia 800 meter pertamanya sekaligus memecahkan rekor dunia berusia 24 tahun, sehingga ekspektasi untuk tampil mengungguli rekor outdoor terpanjang cabang tersebut ikut meningkat. Namun, pada bulan Juli ia mengalami jatuh yang buruk saat sesi pendinginan, dan kekambuhan cedera hamstring membuatnya harus absen dari banyak kompetisi pada 2025, termasuk pada Kejuaraan Eropa.
Meski demikian, musim panas tetap menghadirkan perkembangan. Ia memperbaiki British record, tetapi pada Kejuaraan Eropa serta pada World Athletics Ultimate Championship yang pertama kali digelar, Hodgkinson harus puas berada di belakang bintang Swiss, Audrey Werro. Ketika akhirnya musim berakhir, ia memilih merayakan hasil dengan senyum, mahkota di kepala, dan gerak tarian di panggung bersama para pemenang lain.
Mahkota Tiffany, hadiah besar, dan format tujuh nomor
Acara Athlos yang digelar dalam satu malam itu mempertemukan tujuh disiplin, dengan masing-masing disiplin diikuti enam atlet. Hadiah uang tersedia untuk setiap posisi dalam total event prize pot sebesar $1.05m (£790,500). Pada tiap nomor, pemenang mendapatkan top prize senilai $65,000 (£48,500).
Istimewanya, pemenang tidak hanya menerima uang dan sorotan, tetapi juga dianugerahi mahkota Tiffany & Co. Mahkota tersebut diberikan sebagai versi perhiasan pemenang—disebut sebagai crown Tiffany yang diberikan kepada pemenang sebagai pengganti medali.
Atmosfer pertandingan berlangsung seperti perayaan. Sejumlah bintang sprint tampil sebagai pemenang, termasuk Gabby Thomas dan Sha’Carri Richardson. Athlos juga menghadirkan DJ yang beroperasi langsung di sisi lintasan, menambah suasana pesta pada pertemuan yang secara format memang berfokus pada lomba.
Para atlet tiba di area acara dengan kedatangan ala karpet merah di wilayah London utara. Untuk Hodgkinson, momen tampil paling menonjol ia simpan hingga bagian lomba utama, dengan red carpet dan panggung yang ikut menghadirkan elemen panggung untuk memperkuat identitas acara tersebut.
Hasil lain dan suasana di balik sorotan
Pada disiplin lain, Training partner Georgia Hunter Bell harus menerima kekalahan di nomor mile dari Klaudia Kazimierska asal Polandia. Kazimierska—yang merupakan Diamond League champion—menyusup dan unggul tipis di bagian dalam untuk mengalahkan atlet Inggris itu dengan catatan 4 menit 19,43 detik.
Selisih tipis tersebut membuat Alexis Ohanian tampak sulit percaya saat menonton dari sisi lintasan, di tengah kehadiran Serena Williams dan anak-anak mereka. Atlet serta selebritas lain turut hadir, mempertegas bahwa Athlos memang berusaha memadukan olahraga dengan pengalaman “event”.
Sha’Carri Richardson meraih kemenangan pada 100 meter dengan catatan 10.80 detik. Sementara itu, atlet Inggris Imani-Lara Lansiquot (11.35) dan Daryll Neita (11.36) masing-masing finis peringkat keempat dan kelima.
Berita Terkait
Pada race pamungkas malam itu, Olympic 200m champion Masih?—yang disebut sebagai Olympic 200m champion Thomas—mengambil kemenangan di 200 meter dengan waktu 22.13 detik. Di nomor 400 meter, Dominican Olympic champion Marileidy Paulino mengungguli Henriette Jaeger dari Norwegia, dengan catatan 48.73 detik.
Selain itu, Alaysha Johnson dari Amerika menang di 100m hurdles, sedangkan Alyssa Jones juga memenangi long jump.
Athlos dan rencana menjadi liga global
Alexis Ohanian menegaskan bahwa tujuan jangka panjangnya adalah menjadikan Athlos sebagai liga yang berlangsung sepanjang musim. Ia sebelumnya merencanakan perluasan acara menjadi format dua hari pada 2026, namun pertemuan di New York yang dijadwalkan pada 2 Oktober dibatalkan setelah konsultasi dengan para atlet usai musim panjang.
Karena itu, Ohanian kini berharap Athlos dapat diselaraskan dengan kalender global atletik mulai tahun berikutnya. Diamond League sendiri berlangsung dari Mei hingga September, sementara hadirnya Ultimate Championship—yang ditempatkan bersama Olimpiade dan Kejuaraan Dunia di kalender—membuat setiap musim akan memiliki kompetisi global dengan bentuk tertentu.
Di sisi peserta, Masai Russell—atlet Amerika yang mencetak rekor dunia 100m hurdles bulan lalu—masuk dalam daftar penarikan diri Athlos pada menit-menit terakhir. Russell disebut mengalami penarikan setelah Ultimate last week, yang diselenggarakan oleh federasi cabang olahraga dan menawarkan prize pot rekor sebesar $10m.
Fokus kembali ke atlet dan skema ekuitas di liga
Ohanian juga menjelaskan alasan suasana acara di hari Jumat dibuat lebih terarah. Setelah sepekan atlet perempuan menyampaikan kritik terhadap iklan perusahaan taruhan olahraga yang kontroversial—menampilkan aktris Sydney Sweeney—ia mengatakan ingin agar perhatian kembali kepada “actual athletes”.
Keputusan itu terlihat dari cara acara berjalan: para atlet perempuan top saling berhadapan dalam event kompetitif, sekaligus diberi ruang untuk mengekspresikan kepribadian mereka. Ohanian berupaya menjembatani jarak perhatian yang dinilai sering muncul pada Olimpiade dibanding bagian lain kalender empat tahunan tersebut.
Ohanian, yang berusia 43 tahun, menyebutkan ia membangun Angel City FC untuk sepak bola putri di Los Angeles enam tahun lalu setelah meninggalkan Reddit. Ia juga membeli 10% saham pada tim Women’s Super League Chelsea pada 2025.
Di Athlos, para atlet yang sudah tampil pada event-event awal diberi opsi ekuitas di liga. Gagasannya adalah, mereka akan memperoleh manfaat apabila proyek tersebut berhasil. Hodgkinson menanggapi skema itu dengan menyampaikan harapannya untuk generasi muda.
“I would have loved to have had this when I was younger. Hopefully the youngsters can see this and have their time one day”
Meski ada kritik terkait pengecualian nomor untuk pria, Ohanian menyatakan fokus awal pada atlet perempuan adalah keputusan bisnis. Ia juga menyebut edisi 2028—sekitar Olimpiade Los Angeles—sebagai kesempatan untuk memperluas cakupan.
London dan respons yang dianggap melampaui hype
Menurut sejumlah laporan suasana, Athlos benar-benar mencoba tampil berbeda dengan gaya “event”. Ada elemen showbusiness yang berjalan sejajar dengan olahraga, dengan atlet yang tiba menggunakan bus khusus London dan berjalan di karpet merah sebelum berlomba.
Banyak atlet mengatakan mereka menikmati perhatian yang datang bersamaan dengan kesempatan memadukan olahraga dan fashion. Sebagian di antaranya bahkan disebut akan terlibat dalam London Fashion Week.
Georgia Hunter Bell muncul dari kerumunan anak-anak yang meneriakkan bahwa ia adalah idola mereka, lalu melangkah ke karpet merah. Ia mengatakan dirinya merasa “valued”.
Di sisi lain, hadirnya DJ membuat beberapa momen terasa seperti berada di klub, bukan sekadar pertemuan atletik. Namun, atlet dan penonton dinilai tetap menerima vibe tersebut. Ada penonton yang sebelumnya mengaku telah menghadiri 27 world championships dan lima Olimpiade, sempat ragu akan menikmati Athlos, tetapi justru menyukainya.
Seorang perempuan yang menyatakan putrinya tergabung dalam klub atletik yang berlatih di StoneX Stadium juga menyebut acara itu “remarkable” dan “inspirational”.
Dengan debut pertama di London, akan selalu ada pembelajaran dari perjalanan itu. Meski begitu, bagi banyak pihak, Athlos terasa sesuai dengan ekspektasi—sebuah permulaan yang dinilai layak untuk ditindaklanjuti ke tahap berikutnya.












