jurnalistik.co.id – Di Buam-dong, kawasan permukiman di utara Seoul, sebuah pohon ginkgo yang sudah lama menjadi bagian dari keseharian warga tiba-tiba mulai melemah. Daun-daunnya rontok di luar kebiasaan musim, dan perhatian yang mulanya sekadar penasaran berubah menjadi kekhawatiran bersama.
“Green leaves were falling to the ground, which shouldn’t happen at that time of year,” kata Jung, warga yang tinggal dekat ginkgo di Buam-dong. Bagi banyak orang di lingkungan itu, pohon tersebut diyakini “occupied its spot for more than 100 years” dan tumbuh dengan karakter yang kuat—karena itulah, perubahan yang terlihat pada musim panas tahun ini terasa mengejutkan.
Pada awalnya, Jung menilai apa yang ia lihat sebagai sesuatu yang tak wajar, lalu hari demi hari ia makin yakin ada yang sedang terjadi. Dalam waktu singkat, hamparan daun kipas berbentuk familiar yang mulai membusuk justru mengelilingi pohon itu, pemandangan yang membuat Jung dan tetangganya merasa perlu mencari jawaban.
Kecurigaan warga dan upaya “mencari dalang”
Keinginan untuk memahami penyebabnya menarik warga Buam-dong ke cara-cara yang bersifat kolektif. Komunitas setempat membentuk semacam kelompok penyelidik amatir untuk menjawab pertanyaan sederhana namun berat: apa yang membuat ginkgo tersebut sakit?
Perbincangan dan perhatian publik kemudian memuncak menjadi sorotan nasional, sampai pada titik yang mengganggu Jung sendiri. Ia bahkan meminta anonimitas, dan BBC menggunakan nama samaran untuknya. Dalam penggambarannya, Jung membandingkan ginkgo itu dengan sosok yang hidup di tengah lingkungan.
“Imagine a grandfather who silently embraces you every day, listens to you, and has always been strong and full of life,” ujarnya. “Suddenly, he begins to die.”
“How heartbreaking would that be?” tambahnya. Sejak saat itu, perjuangan untuk menyelamatkan pohon simbol lingkungan mereka berubah menjadi upaya mencari sumber masalah.
Dalam penelusuran mereka, warga mengarah pada “unlikely enemy” yang mereka yakini berada di balik serangan diam-diam. Mereka menduga pohon itu dirusak dengan cara yang tidak terlihat, dan kecurigaan tersebut tumbuh setelah warga menemukan bagian-bagian tertentu yang tampak mencurigakan di sekitar batang.
Mereka mulai memperhatikan “10 white plastic funnels peeping out from behind the trunk.” Jung mula-mula mengira perangkat itu terkait dengan pemberian nutrisi, tetapi kemudian ia dan tetangga mulai bertanya apakah ada sesuatu yang lebih serius sedang berlangsung.
Warga lalu menyaring rekaman kamera keamanan dari sebuah rumah terdekat. Di salah satu pagi pada “late April,” rekaman menunjukkan “two men wearing white gloves and crouching over the base of the tree with a drill.” Warga menduga itulah momen pemasangan perangkat yang kemudian mereka lihat di sekitar pohon, meski mereka tidak bisa memastikan secara langsung dari rekaman itu apa yang dikerjakan.
Museum yang dituju warga
Dalam proses mencari konteks, warga kemudian mengingat informasi yang disampaikan dewan setempat. Menurut warga, sebuah museum sebelumnya telah meminta izin pada pemilik lahan di area itu untuk menghapus pohon. Dugaan warga makin mengerucut saat mereka meyakini ada hubungan antara rencana tersebut dan kondisi ginkgo.
Warga percaya Whanki Museum berada di balik rangkaian kejadian itu. Mereka meyakini “the funnels contained some kind of herbicide that was slowly killing the tree,” dugaan yang juga sejalan dengan penilaian arboris yang memeriksa pohon.
Ketika warga menemukan rekaman yang mereka anggap penting, mereka menggelar aksi mendatangi museum. Pada hari yang sama, sekelompok warga Buam-dong “stormed into the museum, accompanied by four police officers.” Saat dihadapkan, seorang karyawan, menurut dugaan Jung dan tetangganya, “basically admitted” bahwa museum telah melakukan sesuatu terhadap pohon tersebut.
“Once they had said it, there was really no taking it back,” kata tetangga Jung kepada BBC. Namun, museum tidak mengonfirmasi maupun membantah secara publik tuduhan penyuntikan herbisida ke pohon. BBC juga menyatakan museum tidak merespons pertanyaan mereka.
Meski begitu, museum pernah menerbitkan pernyataan pada bulan Mei. Di sana disebutkan bahwa dinding area museum “collapsing because of the ginkgo’s roots,” serta bahwa museum mengirim surat kepada lebih dari 40 pemilik properti “requesting a solution.” Museum mengatakan tidak ada tanggapan, lalu staf mereka “attempted to resolve the situation,” tetapi mereka tidak menjelaskan apa yang telah dilakukan.
Berita Terkait
Sementara itu, seorang perwakilan dewan setempat mengatakan kepada BBC bahwa pemeriksaan tahun lalu menemukan “no meaningful connection” antara ginkgo dan kerusakan dinding museum. Jika ada masalah, pejabat itu mengatakan, pihaknya “would have taken appropriate action and informed the relevant parties.”
Warga yang tetap meyakini Whanki Museum memasang “the funnels” meminta agar isi perangkat tersebut diungkap, agar para ahli dapat melakukan penanganan yang tepat bagi ginkgo. Mereka juga telah mengajukan laporan polisi terhadap direktur museum. Pejabat terkait menyatakan polisi sedang menyelidiki, tetapi ketika BBC menghubungi polisi, mereka menolak memberikan informasi lebih lanjut.
Makna pohon dan protes terhadap keputusan yang dinilai keliru
Whanki Museum dibuka pada 1992 dan didedikasikan untuk Kim Whanki, pelukis dan seniman abstrak yang banyak dikenal sebagai “Picasso of Korea.” Di situs museum, arsitek Woo Kyusung menjelaskan bahwa ia ingin menghadirkan ruang bagi karya Kim agar “complement the elements of the nature – the moon, mountains, clouds, rocks and trees – that were so important to his art.”
Dalam kenyataannya, Kim menulis esai dengan nama pena Su-wha yang berarti “conversation with trees.” Bagi warga Buam-dong, ironi itu terasa tajam: beberapa dekade setelah kematian Kim, museum yang dibangun untuk menghormatinya justru dituduh mencoba “snuff out a tree.”
“Treating life that way is ignorance and there was never any apology,” kata Jung. Warga bahkan ikut meminjam nama pena puitis “Su-wha” untuk menyebut ginkgo yang kini berada di ambang kematian.
Mereka juga menggandeng kelompok aktivis lingkungan yang meluncurkan petisi agar warga diberi wewenang sebagai penjaga pohon-pohon perkotaan. Aktivis Choi Jin-woo mengatakan, “When I first heard that a tree next to a museum had been poisoned with herbicide and was dying, I simply couldn’t believe it.” Namun, saat melihat ginkgo menyusut dan tampak sakit, ia “realised something this horrific could actually happen in our society”.
Jika ada “silver lining” dari ginkgo yang bermasalah ini, menurut warga, kampanye untuk menjaga pohon justru membuat mereka makin dekat satu sama lain. Saat hari-hari Jung dihabiskan untuk mengumpulkan dukungan, ia kembali ke rumah dan menemukan makanan buatan tetangga yang ditinggalkan di depan pintu. Sebaliknya, Jung juga membuat sup sayur bagi tetangga yang bahkan belum pernah ia kenal sebelumnya.
Seiring musim berjalan, ginkgo makin terlihat gundul dan berubah warna menjadi cokelat. Seorang arboris yang memeriksa pohon menyebut kondisinya berada di ambang akhir—“90% of the way toward death,” menurut Choi. Jung kemudian mengatakan nasib pohon kini “in the hands of heaven.”
“Perhaps all I can do is stay beside it and pray.”
Selama berminggu-minggu, sekitar 20 warga secara rutin berkumpul di depan pohon. Ada yang membacakan esai-esai Whanki, sementara seorang dukun lokal melakukan “healing ritual.” Warga lain bergabung dalam “elm dance,” sebuah ritual yang diyakini oleh sebagian pencinta alam dan aktivis dapat membantu pohon pulih. Catatan ini muncul bersamaan dengan musik yang mengalun, doa, dan gerak tangan yang dilakukan secara bersama.
Kim Min-joo, yang telah tinggal di Buam-dong selama lebih dari satu dekade, mengungkapkan, “If someone had truly understood this tree was deeply loved, they probably would not have made the decision to inject herbicide.”
Jung dan pergulatan pribadi di tengah kampanye warga
Jung juga menyadari bahwa masa-masa ia berupaya menyelamatkan ginkgo menjadi periode paling aktif baginya sejak ia jatuh sakit musim dingin sebelumnya. Ia sempat sulit berjalan banyak, sehingga sering hanya mengamati pohon dari rumah.
Di hari-hari yang lebih baik, ia berjalan menghampiri ginkgo, bahkan memeluk batangnya yang berlekuk sambil menghirup aroma tanah untuk menguatkan diri. Ia mengatakan, “I felt so depressed and hopeless but those feelings disappeared. I entered a tree-like state.” Ia menambahkan, “the tree helped bring me back out into life again. Ironically, it was because the tree became sick.”
Meski jalan yang ditempuh penuh kesedihan, Jung menilai ada momen-momen yang sangat mengharukan. “Although it has been heartbreaking, there were also incredibly moving moments,” katanya. “The neighbourhood came together, cared for one another, looked after each other.”
Ketika Seoul beralih warna menuju musim gugur, daun ginkgo Buam-dong kini berubah menjadi cokelat yang renyah. Meski demikian, lingkungan itu tetap menunggu kemungkinan keajaiban: mereka sulit membayangkan musim gugur tanpa berhenti sejenak untuk menikmati ginkgo saat berada dalam balutan emas yang lembut.












