jurnalistik.co.id – Keely Hodgkinson datang ke Kejuaraan Atletik Eropa dengan tekad untuk terus mengunci tempat di puncak. Namun, rangkaian rivalitasnya kembali bertambah ketika Audrey Werro mengakhiri masa kejayaannya di nomor 800 meter.
Di final yang berlangsung di Birmingham, atlet Inggris itu harus puas dengan perak setelah kalah dari Werro. Performa tersebut sekaligus membuka babak baru untuk Hodgkinson, menyusul munculnya sejumlah nama yang diyakini akan terus menantang dominasi 800 meter.
Hodgkinson, yang sebelumnya menjadi juara Olimpiade, merasakan bahwa persaingan tidak akan berhenti di satu titik. Ia menyebut, semakin banyak rival bermunculan dalam beberapa tahun terakhir, dan ia berharap masih memiliki waktu untuk bertarung di lintasan.
“Ada begitu banyak rivalitas dalam beberapa tahun terakhir. Saya baru lima tahun menjalani olahraga ini, semoga saya masih punya sepuluh tahun lagi,” kata Hodgkinson. Ia menambahkan bahwa konsistensinya menjaga diri tetap bersaing adalah sesuatu yang membuatnya bangga, sekaligus menjadi alasan untuk terus menambah koleksi medali.
Menurut Hodgkinson, rivalitas bukan hanya milik nomor 800 meter. “Ini bukan cuma nomor saya yang punya rivalitas, semua nomor punya. Itu menciptakan generasi pelari yang hebat,” tuturnya.
Perlombaan di Birmingham juga menjadi pengantar bagi duel-j duel besar yang diperkirakan akan berulang, termasuk saat musim berikutnya berlangsung. Persaingan global berikutnya dijadwalkan di Kejuaraan Dunia Beijing, sebelum Olimpiade 2028 di Los Angeles.
Werro tampil sebagai pemenang setelah menghadapi tekanan besar sejak fase awal. Pada hari sebelumnya, ia sempat mengalami jatuh yang memaksa perawatan di semifinal, sebelum akhirnya dipulihkan untuk tetap berlaga, lalu kembali menunjukkan ketenangan dalam fase penutup.
Dalam penjelasan setelah lomba, Werro mengatakan ia ingin terus menjadi lebih cepat dari tahun ke tahun. Ia juga menyinggung pesan ayahnya saat kecil, yakni harus menjadi “singa”, sehingga ia memilih merayakan keberhasilan ketika menuntaskan garis finis.
Bagi Hodgkinson, perak di Eropa tidak menghapus ambisinya, meski ia mengakui bahwa medali emas semestinya menjadi hasil yang paling diinginkan. “Saya tentu lebih memilih berjalan pulang dengan emas, tapi saya tidak merasa melakukan kesalahan,” ujar Hodgkinson, sambil menilai lomba tersebut berjalan hebat untuk penonton.
Ia menyebut pertandingan itu spesial karena ketiga atlet bisa tampil bersamaan dan bertarung dalam satu adu yang sama. Hodgkinson juga menegaskan kebanggaannya atas perlawanan yang ia berikan serta menyatakan menantikan pertemuan berikutnya dengan Werro.
Untuk memahami perjalanan Hodgkinson, musim luar ruangan menjadi catatan penting bahwa ekspektasi tidak selalu berbanding lurus dengan hasil. Ia pernah meraih lima medali global lebih, tetapi penampilan di luar ruangan kali ini tidak menyamai momentum yang dibangun dari kampanye indoor.
Di sisi indoor, Hodgkinson mematahkan rekor dunia 800 meter yang sudah bertahan selama 24 tahun dan sekaligus meraih gelar dunia pertamanya. Meski begitu, ketika targetnya bergeser pada upaya memecahkan rekor outdoor yang sudah berdiri sejak 1983, ia harus menghadapi beberapa gangguan.
Berita Terkait
Di Tokyo September lalu, Hodgkinson pernah mengatasi dua robekan hamstring untuk tetap tampil hingga podium dunia. Tahun ini, ia menyatakan kembali ke kondisi penuh setelah melalui fase pemulihan, tetapi perubahan ritme kompetisi membuat rangkaian tantangannya semakin berlapis.
Di Stockholm pada bulan Juni, kekalahan dari Werro tidak ia anggap sebagai kemunduran total. Hodgkinson meningkatkan rekor nasional Inggrisnya melalui blok latihan yang berfokus pada pengembangan kecepatan 400 meter, sebelum kemudian menjalani latihan khusus 800 meter untuk menghadapi target musim panas.
Namun, ia kemudian harus berurusan dengan kendala lain. Gangguan otot berupa “twinge” membuatnya terpaksa mundur dari final 400 meter pada kejuaraan nasional Inggris, lalu ia kembali berlomba dengan kedua lutut yang dibalut setelah jatuh saat latihan, saat finis di belakang juara dunia Lilian Odira di Eugene.
Dalam upaya memulihkan kepercayaan diri, Hodgkinson menempatkan London Diamond League sebagai pertemuan yang ia incar untuk membangun kembali performa. Di sana, ia menahan laju Femke Broeders-Bol yang merupakan juara dunia 400 meter rintangan serta baru beralih ke 800 meter pada musim ini, sekaligus meraih kemenangan di depan sekitar 60.000 penonton tuan rumah.
Hodgkinson juga mengambil keputusan untuk tidak mengikuti Commonwealth Games agar fokus mempertahankan gelar Eropa. Ia menilai perkembangan di kamp latihan Portugal sebelum terbang ke Birmingham turut memberi dorongan untuk menghadapi turnamen, termasuk saat ia menyatakan bahwa meraih emas di kandang sendiri akan terasa setara dengan kemenangan Olimpiade.
Meski pada Jumat hasil yang diinginkan tidak datang, tantangan dari Werro justru memperkuat determinasi Hodgkinson untuk kembali ke puncak nomor tersebut. “Saya siap untuk pertandingan berikutnya,” tambahnya, menyatakan bahwa ia menantikan duel yang sama di kesempatan berikutnya.
Rekam jejak pertemuan mereka juga memperlihatkan perubahan momentum yang cepat. Hodgkinson dua kali mengalahkan Werro dalam kampanye indoor, termasuk saat memperoleh gelar dunia pertamanya pada bulan Maret, tetapi Werro kemudian menunjukkan lonjakan yang signifikan.
Werro, yang menjadi juara Eropa U23, menyalip Hodgkinson di Stockholm dan memangkas rekor pribadinya hampir dua detik. Ia lalu makin kencang dengan catatan 1 menit 53,80 detik di Paris, menjadikan hanya dua performa di bawah 1 menit 54 detik sejak Jarmila Kratochvilova mencatat rekor 1 menit 53,28 detik.
Werro juga punya sejarah tersendiri karena dua tahun lalu ia gagal lolos dari babak heats di Olimpiade yang kemudian dimenangkan Hodgkinson. Kali ini, waktu terbaik Werro berada lebih dari setengah detik lebih cepat dibanding 1 menit 54,33 detik milik Hodgkinson, sedangkan Broeders-Bol meraih perunggu dengan 1 menit 55,54 detik di Birmingham.
Komentar dari Paula Radcliffe menambah gambaran bahwa Werro mampu mengubah tekanan menjadi tenaga tambahan. Radcliffe menilai Werro berhasil merapikan diri setelah kejadian jatuh, lalu mengambil kendali lomba dengan momentum yang sulit diimbangi, bahkan dengan membandingkan bagaimana Hodgkinson sempat punya niat untuk kembali mengejar.
Bagi Hodgkinson, kegagalan meraih emas membawa rasa kecewa, tetapi tidak memadamkan progresnya. Ia bahkan sempat melepas medali dengan ekspresi bercanda ketika ditanya reaksinya usai final, sembari tetap menegaskan ini adalah medali internasional senior ke-12 dan ia terus menurunkan rekor pribadinya pada hampir semua tahun dalam empat tahun terakhir, kecuali musim 2025 yang terdampak cedera.
Ke depan, Hodgkinson mengatakan ia merasa rekor dunia berada dalam jangkauan. Namun, ia juga menyadari bahwa catatan seperti itu mungkin akan segera diperlukan bukan hanya untuk bersaing, melainkan untuk benar-benar memenangi titel-titel yang ia incar.












