jurnalistik.co.id – Audrey Werro menatap Diamond League Zurich dengan target yang berani: menantang rekor dunia nomor 800 meter putri yang sudah bertahan puluhan tahun. Atlet Eropa 800 m itu menyatakan keyakinannya bahwa rekor tersebut suatu saat akan tumbang, meski ia belum bisa memastikan kapan waktunya.
Rekor dunia yang dimaksud tercatat atas nama Jarmila Kratochvilova dari era Cekoslowakia pada 1983, saat ia mencatat 1 menit 53,28 detik. Rekor itu bertahan selama 43 tahun dan termasuk salah satu rekor paling kontroversial dalam atletik putri, karena pada masa kariernya pernah ada program doping yang sistematis terhadap atlet di negara tersebut. Namun, Kratochvilova tidak pernah gagal tes doping dan membantah adanya kecurangan.
Werro sendiri masih tergolong muda, hanya berusia 22 tahun, tetapi progresnya terasa cepat. Pada Juni lalu di Paris, ia berlari 1:53.80, yang membuatnya naik ke peringkat ketiga daftar sepanjang masa nomor 800 m. Ia kini hanya terpaut setengah detik dari catatan Kratochvilova—jarak yang cukup dekat untuk ukuran rekor dunia.
Menjelang gelaran Diamond League pada Kamis malam di Zurich, Werro berbicara soal percepatan yang ia rasakan sepanjang musim ini. “Things have happened really fast,” kata Werro, seraya menambahkan, “I was not prepared for a world record this year. I just want to focus on running fast and winning some races and I think with this mentality the world record will fall one day. But I don’t know when.”
Menurut evaluasi Werro, kuncinya ada pada konsistensi. Ia menyebut perbaikan catatan pribadinya terjadi di setiap delapan musim terakhir, dan kini ia kerap berada dalam jangkauan rekor dunia. Bahkan, tahun ini Werro mencatat tiga dari 10 waktu tercepat sepanjang sejarah untuk nomor 800 m putri.
Kemantapan fokus setelah menyelesaikan studi
Werro juga mengaitkan peningkatan performanya dengan perubahan besar dalam rutinitas. “The biggest difference this year was that I finished university one year ago,” ucapnya. “Now I’m just focused on athletics and I just have more time for the competition, the training, the recovery, everything.”
Berita Terkait
Ia menambahkan bahwa dalam dua tahun terakhir ia banyak bekerja pada aspek mental, dan hasilnya kini mulai terlihat. “I have worked a lot more in the mentality part over the past two years and you are seeing the result now.”
Di luar angka dan latihan, Werro memiliki ciri khas perayaan setelah berlari. Gerakan yang meniru cakar singa itu ia lakukan sebagai penghormatan pada nasihat ayahnya, yang memintanya menyalurkan semangat singa saat berada di lintasan—terutama ketika ia dinilai terlalu pendiam/takut saat lomba-lomba masa kecil.
Nama-nama yang siap menjadi pesaing di Zurich
Dari sisi peserta, Diamond League Zurich menjadi panggung penting bagi beberapa pelari sekaligus. Keely Hodgkinson, juara Olimpiade dari Inggris, absen pada pertemuan ini. Itu membuat line-up nomor 800 m di Zurich akan menghadirkan Werro bersama Femke Broeders-Bol dari Belanda.
Broeders-Bol baru “naik kelas” ke jarak dua putaran tahun ini. Sebelumnya, ia menorehkan prestasi besar dengan meraih gelar juara dunia nomor 400 meter rintangan di Tokyo pada 2025. Tahun ini ia mencoba tantangan nomor 800 m, dan performanya berkembang cepat.
Dalam lomba terakhir sebelum Zurich, Broeders-Bol finis delapan per seratus detik di belakang Werro di Lausanne, lalu meraih medali perunggu Eropa di Birmingham. Ia mengaku terkejut dengan betapa cepatnya adaptasi yang ia lakukan. “I didn’t expect to be this fast already – to run a national record already – so it has been very nice to surprise myself with my level,” ujar Broeders-Bol.
Absennya Hodgkinson juga membuka ruang bagi atlet Inggris lainnya. Georgia Hunter-Bell menjadi wakil Inggris satu-satunya dalam lomba tersebut. Ia diketahui memenangkan perak dunia 800 m pada tahun lalu, serta mengantongi gelar nasional dan Commonwealth di nomor itu sepanjang musim ini.
Lomba 800 m putri di Zurich dijadwalkan dimulai pada pukul 20:41 BST. Bagi Werro, ini sekaligus menjadi momen krusial karena pertemuan Zurich merupakan outing Diamond League terakhir sebelum seri final di Brussel pada 4–5 September. Dengan jarak setengah detik dari rekor dunia, Werro datang membawa satu pesan yang sederhana namun tajam: rekor bisa jatuh—dan ia ingin menjadi bagian dari peristiwa tersebut.












